Gadis Dingin

Gadis Dingin
Bab 131 Mimpi Indah!


__ADS_3

Malam tiba ...


Queen begitu senang melihat menu makan malam ini. Ada ikan bakar berukuran jumbo kesukaan dirinya. Dan yang paling membuat Queen semangat lagi makan dengan kedatangan keluarga sang ayah.


Angga dan Murni baru datang tepat ketika akan memulai makan malam. Rencananya Angga dan Murni juga akan menginap di sana. Untung saja mansion Al-biru begitu besar dan memang sengaja membuat beberapa kamar tamu.


"Hati-hati makannya sayang, ikannya gak akan ada yang ngambil kok,"


Queen nyengir saja ketika mama Dinda menegurnya. Bahkan sampai mama Dinda membantu memisahkan daging dan tulangnya.


Mama Adelia bernafas lega, setidaknya menantunya tidak murung lagi seperti tadi. Apalagi kedatangan keempat orang tua Queen membuat suasana rumahnya juga nampak ramai.


Dinda menyuapi nasi karena dari tadi Queen hanya makan ikannya saja.


"Ih .. kakak di suapin udah gede juga, Alam saja makan sendiri,"


Celetuk Alam membuat semua orang langsung tersenyum geli mendengar celotehan Alam yang nampak menggemaskan dengan mulut penuh nasi.


"Gak apa, kali-kali kakak yang di suapin jangan Dede Mulu wew ...,"


"Dad ..."


"Sudah, Alam kan laki-laki harus makan sendiri. Kakak di suapin karena kedua tangannya kotor,"


Alam cemberut langsung melanjutkan makannya sesekali melirik pada sang kakak. Yang memang benar, kedua tangannya memegang ikan bakar dan sang mama yang menyuapi nasinya. Seketika Alam tersenyum melihat tingkah kakaknya yang menurut Alam menggemaskan.


Bik Marni hanya bisa tersenyum melihat kebahagiaan keluarga ini. Dia kembali kebelakang guna melanjutkan pekerjaannya.


"Kakak gak sekalian di ajak yah?"


Tanya Queen pada Angga dimana semua orang sedang berkumpul di ruang keluarga sesudah makan.


"Katanya weekend nanti ke sini,"


"Di kantor banyak pekerjaan ya?"


"Biasalah nak, mau akhir tahun jadi kejar tayang. Kasihan juga kan kalau karyawan gak di liburkan,"


"Iya juga ya, maafkan Queen yah gak bisa bantu,"


"Gak apa nak, yang penting kalian sehat-sehat saja. Toh uang suami mu tak akan habis tujuh turunan,"


Queen hanya tersenyum saja mengiyakan perkataan sang ayah karena memang benar adanya. Di tambah penghasilan dirinya juga yang entah sudah berapa angka dalam rekening Queen yang sama sekali Queen tak pernah memeriksanya.


Di sela obrolannya Queen terus saja melirik jam menunggu sang suami memberi kabar. Tinggal tiga puluh menit lagi pasti sang suami sudah sampai. Queen harus menunggu lagi dengan sabar, walau waktu itu terasa panjang bagi Queen.


Walau Queen sesekali ikut bergabung dalam obrolan dan turut tersenyum tapi tingkah Queen tak lekas dari tatapan mama Dinda.

__ADS_1


Mama Dinda tahu, sang putri pasti menunggu kabar dari Farhan. Walau terlihat baik-baik saja tapi mama Dinda tahu putrinya sedang gelisah.


Mama Dinda melirik Alam yang mulai terpejam di gendongan Fandi. Dinda harus segera menidurkan Alam supaya tidak ke bangun dan meminta tidur dengan kakaknya. Karena Queen pasti butuh ruang untuk mengobrol dengan Farhan nanti.


"Mas, tidurkan saja Alam di kamar. Ini sudah malam,"


Bisik Dinda membuat Fandi faham langsung mengangguk.


"Semuanya, kami permisi ya masuk kamar. Sepertinya Alam sudah benar-benar ngantuk,"


"Tidurkan saja di kamar Queen dad, katanya Dede pengen tidur sama Queen,"


"Gak apa nak, sama kita saja. Udah malam kamu istirahat gih."


Angga terus saja memperhatikan interaksi keduanya. Ada rasa cemburu di hati Angga ketika Queen jauh lebih dekat dengan Fandi dari pada dirinya. Tapi, Angga menepis semuanya. Angga yakin putrinya tetap menyayangi dirinya sebagai ayah biologisnya.


"Iya sayang, kamu istirahat gih, atau mau tidur sama mama?"


Tawar mama Adelia ketika Fandi dan Dinda sudah beranjak.


"Di kamar Rora saja mah,"


"Ya sudah, jangan begadang ya."


"Ayah mama, Queen duluan ya,"


Kini tinggal Angga, Murni dan Adelia yang berada di ruang tamu. Mereka kembali mengobrol seputar tentang bisnis dan keluarga mereka. Tak lama Fandi ikut bergabung juga karena tak enak jika tidur duluan. Biarkan Dinda saja yang menemani Alam.


Obrolan mereka semakin seru apalagi ketika membahas cucu.


Sedang Queen yang baru masuk kamar langsung tertuju pada ponselnya.


Baru saja Queen akan mengambil ponselnya. Ponsel Queen menyala tanda panggilan masuk. Membuat Queen langsung tersenyum cerah melihat suaminya memanggil lewat Vidio call.


"Nungguin bee telepon ya, langsung banget angkatnya!"


Canda Farhan muncul di balik layar, Queen mengerucutkan bibirnya tak suka akan candaan sang suami.


"Jangan cemberut dong, ini bee baru sampai. Alhamdulillah perjalanan lancar, "


"Syukurlah ... kangennn ..."


Farhan terkekeh di balik layar karena sangat gemas dengan istrinya. Jika saja Queen ada di sampingnya sudah Farhan terkam dia.


"Cie yang kangennn ..,"


Goda Farhan sambil tersenyum geli melihat wajah istrinya yang di tekuk. Jarang banget Queen berkata seperti itu pada dirinya. Ternyata LDR membuat sikap seseorang berubah. Buktinya Queen, saat jauh saja berani mengungkapkan perasaannya.

__ADS_1


"Bee awas ya jangan nakal di sana. Kalau berani macam-macam lihat saja nanti!"


"*Bee cuma berani satu macam sayang, yaitu mencintai kamu dan calon anak kita."


"Apa baby rewel sayang, coba bee pengen menyapanya*,"


Queen mengarahkan kameranya pada perut buncitnya. Tangan Farhan perlahan mengelus layar ponselnya seakan yang dia usap adalah perut istrinya.


"Baby papa sudah sampai di sini, jangan rewel ya. Jaga bunda ketika papa jauh dari kalian. Papa sayang kalian, doain papa ya supaya di sini cepat selesai pekerjaan papanya,"


"Amin papa,"


Queen yang mengamini sambil mengalihkan lagi kameranya pada wajahnya.


"Sayang sudah malam, tidur ya. Jangan begadang,"


"Tapi Rora belum ngantuk bee, gak ada yang meluk,"


"Sayang sambil tiduran ya, kasihan baby jangan di bawa begadang. Bee temenin deh,"


Queen menurut saja, dia berbaring perlahan sambil menyamping. Ponselnya Queen sengaja di sandarkan pada bantal yang sudah Queen susun. Supaya tangan Queen tidak pegal memegang ponsel.


"Bee sudah makan belum?"


"Sudah sayang, gimana sayang sudah?"


"Sudah, sama ikan bakar di beliin Daddy."


"Syukurlah ... Oh iya, katanya ayah juga nginap ya di sana?"


"Hm,"


"Rame dong, apalagi ada Alam pasti sayang akan di ajak main terus. Tapi, jangan sampai kelelahan ya!"


Farhan tersenyum ketika melihat mata istrinya mulai mengantuk. Bahkan sudah terpejam. Farhan terus saja mengoceh supaya sang istri benar-benar tertidur.


Sudah di rasa istrinya benar-benar tidur Farhan tidak langsung mematikan ponselnya. Farhan membiarkan saja menyala sambil membereskan baju yang di dalam koper di susun kedalam lemari.


"Bee ..,


"Iya sayang ..."


Farhan tersenyum ternyata istrinya hanya mengigau saja. Sambil memeluk guling erat seakan yang Queen peluk adalah suaminya sendiri.


"Selat tidur sayang, mimpi indah!"


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah, Komen, dan, Vote Terimakasih....


__ADS_2