Gadis Dingin

Gadis Dingin
Bab 125 Gerakan pertama!


__ADS_3

"Kakak .."


"Nak, larinya pelan-pelan,"


Queen tersenyum melihat adiknya langsung berhambur ke pelukannya. Queen langsung mengangkat sang adik agar tidak menyakiti perutnya.


"Kakak lama banget gak kecini, Dede cakit tahu. Ini badan Dede macih hangat,"


Adu Alam sambil memeluk sang kakak. Usia Alam memang sudah mau memasuki usia tigak tahu. Anak ini sudah begitu pintar saja. Bahkan Alam sudah faham hal-hal kecil, makan juga dia tidak perlu di suapi. Bahkan pakai baju juga Alam ingin sendiri walau Dinda harus tetap memantaunya. Karena kadang Alam juga suka gak tepat memasuki akunya. Harusnya baju bagian depan harus di depan kadang Alam malah jadi kebelakang.


Hal-hal kecil wajar karena memang Alam masih kecil. Tapi anak ini cukup pintar sekali. Bagaimana tidak pintar, Daddy juga dulu dia mahasiswa Ter cerdas di masanya.


"Maafkan kakak ya, Kakak baru bisa sekarang kesini. Anak laki-laki harus kuat ya, Dede cepat sembuh. Kakak bawa buah-buahan kesukaan Dede,"


"Dede kuat ko, wah buah! Dede mau mau ..."


Alam memang dari kecil suka sekali buah-buahan. Jadi setiap Queen datang pasti akan membawa buah banyak.


"Sini Alamnya sama kakak Biru,"


Alam langsung pindah ke gendongan Farhan. Farhan membawa sang adik ke dapur sambil menjinjing keranjang buah. Farhan mendudukkan Alam di atas meja, sedang Farhan mengupas buah-buahan yang perlu di kupas.


"Wah buahnya Banyak, Alam cuka Alam cuka, makacih kakak Biru."


"Sama-sama dek,"


Alam begitu sangat senang jika sudah melihat buah. Bahkan buah sudah seperti makanan keseharian Alam. Jadi Fandi setiap hari pasti selalu membeli buah setiap pulang kerja untuk putranya.


Mama Dinda dan Daddy Fandi hanya tersenyum melihat putranya kembali ceria.


"Gimana kandungan kamu sayang?"


"Alhamdulillah baik mah, apalagi Biru selalu siaga."


"Syukurlah, mama masih merasa mimpi, sebentar lagi mama akan jadi nenek."


Dinda mengelus perut Queen yang sudah membuncit. Biasanya baby akan mulai bergerak ketika memasuki usia enam bulan. Dinda masih berasa mimpi, putrinya akan menjadi seorang ibu. Dan, sepertinya putrinya sangat bahagia untuk menjadi seorang ibu.


"Boleh Daddy memegang nya tuan putri?"


"Silahkan dad, Cabay pasti senang kakek neneknya menyapa,"


Fandi terkekeh mendengar putri sambungnya menamai anak dalam kandungannya Cabay. Terdengar menggelikan.


Fandi dan Dinda asik mengelus perut Queen yang sangat besar nan bulat. Mereka tidak sabar menanti cucu mereka lahir.


"Akhh ..."


Queen mengeram membuat Farhan langsung terkejut mendengar teriakan sang istri. Dengan cepat Farhan menggendong Alam sambil membawa buah yang sudah siap di atas piring.


"Sayang kamu kenapa, mana yang sakit?"


Panik Farhan mendekat membuat mama Dinda dan Daddy Fandi tersenyum.

__ADS_1


"Hu .. hu ... Rora tidak apa bee, ini Cabay bergerak,"


Ucap Queen berbata, masih terkejut akan gerakan Cabay ketika sang mama dan sang Daddy mengelus perutnya. Sepertinya Cabay tak sabar bertemu kakek neneknya.


Farhan duduk bersimpuh di hadapan sang istri sambil memegang perut sang istri ingin merasakan pergerakan anaknya.


Sekali lagi Queen mengeram karena masih belum terbiasa akan tendangan kuat sang anak.


"Sayang dia bergerak,"


"Huh .. hm bee,"


Queen masih mengatur nafas akibat rasa terkejutnya dan sedikit menahan nyeri.


Ada rasa bahagia yang tak bisa Farhan jabarkan. Farhan ingin menangis merasakan tendangan sang anak. Tapi, Farhan malu jika harus menangis di depan kedua mertuanya.


"Semoga putri mama yang dingin ini, kelak menjadi ibu yang hebat,"


Dinda mencium tangan anaknya sambil tersenyum membentuk kasih sayang seorang ibu pada anaknya.


"Amin, terimakasih mah. Mama juga mama terhebat di dunia ini. Queen sayang mama,


Queen memeluk mama Dinda sambil mencium pipinya. Rasanya kebahagiaan mereka sebentar lagi benar-benar lengkap.


Queen merasa lega karena ada sang Daddy yang begitu menyayangi mamanya. Dan ada Dede Alam menjadi pelengkap kebahagiaan sang mama. Queen berharap sang mama tetap bahagia selalu. Tak ada tangis yang selalu sang mama sembunyikan.


Lama mereka melepas rindu, kini Queen dan Farhan pamit karena akan langsung menuju rumah sakit melihat keponakan mereka.


Gumam mama Dinda melihat kepergian putrinya. Fandi masih mendengar gumaman sang istri. Fandi menarik sang istri ke dalam pelukannya.


"Putri kita akan selalu bahagia, karena dia berada di tangan yang tepat,"


Ucap Fandi mencium tangan sang istri. Walau usia mereka tak lagi muda, tapi jiwa cinta mereka bangkit seperti anak muda saja.


Sedang Alam sedang tidur siang, dia tidur setelah lelah bermain dengan Farhan tadi. Karena Queen baru bisa pulang jika Alam sudah tidur, jika tidak maka Queen tidak di perbolehkan untuk pulang.


"Mas ih geli ..."


Dinda terkekeh ketika Fandi menggelitik perutnya.


"Gitu dong tersenyum jangan mendung lagi, mas yakin putri kita akan selalu bahagia!"


Yakin Fandi, walau Queen bukan darah dagingnya tapi Queen sudah seperti putrinya sendiri. Apalagi Fandi adalah orang yang pertama menggendong Queen ketika lahir ke dunia. Karena waktu itu Angga sedang rapat dan dia mematikan ponselnya, jadi Angga tidak tahu kalau Dinda sedang melahirkan.


"Terimakasih mas, kamu selalu saja menjadi alasan aku bahagia!"


"Harus dong, karena kamu pantas bahagia!"


"Aku mencintai kamu, Mas!"


"Aku lebih dari itu,"


Dinda memeluk tubuh sang suami. Kebetulan mereka di sana berdua. Bik Nina dan pak Tono sedang izin pulang kampung dari tiga hari yang lalu.

__ADS_1


Dinda mencium rahang tegas sang suami. Di usianya yang sudah menginjak empat puluh lima. Fandi semakin terlihat gagah dan berkarisma. Pesonanya tidak luntur bahkan semakin hari semakin terlihat hot di mata Dinda.


"Mas rajin gym ya?"


"Iya, kan mas harus tetap gagah. Biar selalu bisa gendong kamu,"


"Mulai deh,"


Dinda mengerti banget apa kata arti kata 'Gendong'. Membuat Dinda mencubit perut kotak-kotak sang suami. Bukannya sakit Fandi malah tertawa.


Badan Fandi memang sangat bagus, bahkan karismanya begitu terlihat. Tak kalah jauh dengan Farhan. Walau Farhan tetap unggul, tapi bagi Dinda suaminya lah pemenangnya.


"Nantangin, mau bukti!"


Goda Fandi sambil menurun naikan sebelah alisnya.


"Nanti encok tahu rasa, Akhh .."


Dinda terkejut tubuhnya melayang, entah sejak kapan dirinya sudah berada dalam gendongan Fandi. Karena takut jatuh, Dinda mengalungkan tangannya ke leher kokoh sang suami.


"Mas turunin, aku takut jatuh!"


"Tidak akan, asal kamu jangan memberontak,"


Dinda diam saja, sesekali menengok ke bawah. Suaminya selalu saja begini, memanjakan dirinya.


Fandi membawa Dinda ke kamar, mereka seperti pengantin baru saja. Yang di mabuk cinta, seolah dunia milik mereka berdua.


"Sudah siap sayang,"


Bluss ...


Wajah Dinda memerah ketika mendengar kata sayang. Fandi selalu saja memperlakukan dirinya begitu. Membuat Dinda kalau sudah begini tak bisa berkutik.


"Mas, nanti Alam bangun bagaimana?"


"Jangan alasan, mas tahu kapan Alam bangun!"


"Tapi kita sudah tua mas,"


"Tua boleh tapi jangan hilang semangat mudanya,"


Kalau sudah begini Dinda tak bisa menolak lagi. Karena tak ada alasan Dinda menolak.


"Gimana!"


"Lakukanlah,"


Fandi tersenyum ketika sang istri mengelus rahangnya. Itu pertanda sang istri mengizinkan dirinya masuk.


Bersambung


Jangan lupa Like, Hadiah, Komen, dan Vote Terimakasih....

__ADS_1


__ADS_2