Gadis Dingin

Gadis Dingin
Bab 9 Kemarahan Angga


__ADS_3

Plak ...


Plak ....


“Anak tak tahu diuntung, kenapa kamu selalu membuat malu Ayah Jek!!!"


Bentak Anngga menggema di dalam rumah mewah miliknya. Angga menampar Jek berkali-kali, abis sudah kesabaranya. Kenapa anaknya semakin tak bisa diatur. Semua salah dirinya terlalu memanjakan Jek dari kecil hingga membuat Jek tak terkendali.Apalagi kesalahan Jek kali tidak bermoral.


“Apa salah ayah sama kamu Jek? ”


Ucap Angga melemah, mengusap wajahnya kasar.


”Ayah tak pernah mengajarkan kamu menjadi anak kurang ajar ..,” lanjut Angga lagi,menangis di pelukan istrinya. Angga merasa menjadi ayah yang gagal dalam mendidik anaknya. Ayah mana yang tak akan terpukul,mendengar anaknya melakukan hal yang tak senonoh.


Angga begitu lemah, siapa saja yang melihat pasti terenyuh. Membuat Jek kaget akan sikaf ayahnya. Di mana ayah yang kuat, acuh, dan tegar dalam menyikapi masalah. Rasa sakit yang Jek dapatkan dari tamparan ayahnya, tak sebanding dengan kesedihan sang ayah.


Kenapa ayahnya begitu sedih dengan masalah yang satu ini. Seolah Jek tak mengenal ayahnya, apalagi ini baru pertama kali Jek melihat ayahnya


menangis.


Satu kesalahn Jek, begitu membuat Angga hancur sehancur hancurnya.


Walau ratusan kesalahan yang Jek perbuat,Angga tak pernak menangis, marah sudah biasa, tapi menangis rasanya asing di penglihatan Jek,vseperti ada luka yang cukup dalam.


”Ayah, Jek ..,”


Jek terdiam tak bisa melanjutkan ucapannya melihat sang mamah merentangkan tangannya ke depan Jek. Mengisyaratkan agar Jek diam.


Angga melepaskan dirinya dari dekapan sang istri, tak ada satu pun ucapan lagi yang Angga keluarkan. Angga berjalan meninggalkan ruangan utama menuju kamarnya. Jek mengejar ayahnya, manun pergelangan tangannya dicekal oleh sang mamah.


“Jangan Jek,”


Jek pasrah dan melihat sang mamah yang menatapnya dengan tatapan kecewa terpancar dari mata mamahnya.


Lagi-lagi membuat Jek membisu, hancur sudah hati Jek apalagi melihat sang mamah mendiamkannya dan pergi menyusul Angga.


”Gadis itu, semua salahnya. Ahhh!!!”


Teriak Jek dan pergi meninggalkan rumah.


Terlihat Angga sedang duduk di sisi ranjang,sambil mengamati poto anak gadis yang sedang tersenyum dipelukannya. Tak terasa cairan bening keluar membasahi pipi Angga,perlahan Murni mendekat mengusap punggung Angga lembut.


”Apa ini karma untuk ku ..,”


Ucap Angga gemetar.


“Ini bukan salahmu, semuanya sudah takdir ..,”


“Bagaimana kalau kejadian itu tak ada Farhan. mungkin Queen hiks ... hiks …,”


Angga tak sanggup meneruskan ucapannya,membayangkannya saja sudah tak bisa berkata-kata. Murni mendekap erat tubuh besar Angga yang bergetar.

__ADS_1


”Sudah, jangan menyalahkan dirimu terus! ”


Angga terdiam, pelukan Murni sedikit menenangkan hatinya. Rasa bersalah kian menggerogoti hati Angga. Angga tak mau kejadiaan yang dulu dia lakukan menurun kepada anaknya. Sungguh kejadian yang tak Angga sadari. Tapi membawa luka yang besar.


"Maafkan ayah, Nak. ” batin Angga.


“Sudah saat nya Jek tahu yang sebenarnya?”


Ujar Murni ketika merasa Angga jauh lebih baik. Lama Angga terdiam mencerna ucapan Murni. Apa Angga sanggup mendapat kebencian anak-anaknya. Sungguh membayangkannya saja tak bisa. Membuat Murni menghela nafas kasar.


Angga terdiam membuat Murni sangat jengah kepada sikap Angga yang satu ini.Murni tahu Angga selalu lemah di hadapkan dalam situasi ini. Tapi mau sampai kapan rahasia ini selalu ditutup-tutupi. Sudah delapan belas tahun masalah itu selalu Angga tutupi.


”Aku belum siap!”


Hanya itu yang keluar dari mulut Angga. Lagi-lagi membuat Murni pasrah akan keputusan Angga.


”Ya sudah, tapi jangan salahkan aku. Suatu saat nanti kalau kamu tak mau jujur juga ,maka aku akan bertindak?”


Ucap Murni tegas terdapat ancaman di dalamnya, membuat Angga mengangguk mengerti. Angga mempererat pelukannya pada sang istri.


"Terimaksih,”


Satu kata yang membuat Murni tersenyum,sikap lembuat Angga sudah kembali. Walau dulu Murni begitu marah dan kecewa kepada Angga. Tetapi nasi sudah menjadi bubur, dan semuanya sudah berlalu.


----------


Sudah satu jam Queen pingsan tapi tak melihat tanda-tanda bahwa Queen terbangun,membuat Dinda kian gelisah. Apalagi mendengar kabar Queen begini gara-gara Jek.


”Emmmz ..,”


Gumaman kecil terdengar dari bibir mungil Queen.


”Sayang kamu sudah bangun?”


Ucap Dinda mendekat membantu anaknya duduk dan menyenderka punggungnya di sandaran ranjang.


"Apa yang terjadi, Mah?”


Cicit Queen lemah mengingat-ngingat.


”Kamu pingsan lagi, Nak. ”


Queen mengerutkan kening mengingt-ngingat apa yang terjadi. Apa yang membuat Queen pingsan lagi. Cukup lama berpikir Queen akhirnya ingat kejadian beberapa jam lalu.


"His .. hiks ..,"


Dinda panik melihat tiba-tiba Queen menangis. Dinda mempererat pelukannya,sambil mengelus-elus kepala Queen.


"Jangan tinggalin Queen, Mah.”


Cicit Queen sendu.

__ADS_1


”Sudah jangan menangis, semua baik-baik saja.”


Ucap Dinda sambil mengelus punggung Queen membuat Queen sedikit tenang.


"Kata bi Nina dosen Farhan yang bawa kamu pulang,”


Queen hanya diam tak menanggapi ucapan sang mamah.


”Mah, haus?”


Cicit Queen Dinda dengan sigap mengambil air minum.


"Kamu makan dulu. Lalu minum obat,"


Queen hanya mengangguk tanda setuju,dengan telaten Dinda menyuapi bubur,perlahan Queen menelan pelan bubur tersebut kedalam perutnya.


Sudah selesai Queen kembali istirahat membuat Dinda meninggalkan kamar Queen.


Queen termenung dalam diam menatap langit malam yang sunyi, separti rasa yang ada di relung hatinya. Cahaya bulan menjadi penerang gelapnya malam. Cahaya bulan menyinari wajah Queen yang nampak masih pucat.


Queen mengusir mamahnya ketika sudah beres makan dengan alasan mau istirahat.Padahal Queen ingin sendiri dan sekarang Queen malah duduk di luar kamarnya sambil menatap langit.


Tangan mungil itu perlahan membuka buku dan menggerakan tangannya di atas buku daery Queen.


”Penantian yang menggerogot hati ini, kapan usai. Aku sungguh tak sanggup lagi.


Apa aku yang harus memulai lagi atau mengubur dalam-dalam rasa yang semu ini.


Sungguh dua piliha yang sulit! jika antara dua pilihan ada yang tidak sakit mungkin aku akan memilih menguburnya!”


Queen menghentikan coretannya matanya kembali menatap cahaya bulan.


"Andai aku malam, pasti aku adalah orang yang paling bahagia bisa disinari rembulan” Batin Queen. Tapi itu hanya hayalan yang tak dapat Queen rasakan, memohon agar menjadi nyata, kapan? Queen tak tahu.


Hatinya begitu hampa ada yang membawa pergi, tapi siapa?selemah itukah Queen. Hati dan jiwanya kian rapuh. Apa Queen mampuh untuk bertahan.


Quen melirik kearah taman di depan rumahnya seperti ada orang yang memerhatikannya. Namun, Queen tak menemukan siapa pun. Masa bodo, Queen tak terlalu penasaran. Suasana semakin sunyi membuat Queen memutuskan untuk tidur. Takut ketahuan mamahnya. Apalagi angina malan semakin dingin.


“Tetaplah tersenyum”


Gumam seseorang yang memerhatikan Queen dari tadi.


"Maaf aku belum bisa menggapaimu, aku terlalu pengecut”


Gumam seseorang itu lagi. Sungguh hatinya sakit melihat keadaan Queen.


Sedih, marah,kecewa bercampur jadi satu, tapi apa boleh buat. Dia terlalu pengecut untuk menampakan diri. Semua salahnya, tak terasa cairan bening keluar dari pelupuk mata seseorang itu.


”Selamat tidur,” gumamnya lagi dan pergi meninggalkan taman.


Bersambung...

__ADS_1


Like dan Vote ya Say....


__ADS_2