Gadis Dingin

Gadis Dingin
129 Bee berangkat,


__ADS_3

Sebuah pelukan adalah sesuatu obat yang paling ampuh untuk penenang. Namun, kini pelukan itu tak menjadi efek apapun bagi seseorang yang tak ingin jauh dari sang kekasih.


Perjalanan panjang yang harus di tempuh membuat seseorang berat untuk melepaskan. Apalagi dengan kondisinya yang sangat membutuhkan sang kekasih.


Sudah satu jam Farhan diam tak mampu bicara pun ketika sang istri tak mau melepaskan pelukannya.


Kendatipun Farhan sangat berat pergi jauh meninggalkan sang istri demi membenahi pekerjaan yang berantakan. Tapi, apa boleh buat. Pasti suatu saat nanti akan terjadi seperti ini. Dan, kini mereka harus saling mengikhlaskan untuk berjauhan.


"Sayang bee janji akan pulang cepat, jangan menangis lagi ya!"


Queen hanya mengeratkan pelukannya pada sang suami. Baru pertama kali Farhan pergi untuk pekerjaan dan itu membutuhkan waktu lama. Queen ingin ikut tapi Farhan tak mengizinkan nya.


"Bohong, bee pasti lama di sana. Apalagi masalahnya cukup besar!"


"Sayang mata-matain bee!"


"Maaf,"


Queen memang mencari tahu permasalahan apa yang di hadapi suaminya.


Farhan hanya menghela nafas saja, istrinya pasti tahu permasalahan apa yang sedang dia hadapi.


Farhan menangkup wajah sang istri, lalu menyeka air mata yang sendari tadi keluar. Bahkan sampai mata Queen menjadi bengkak.


"Bee janji akan pulang cepat, sudah ya jangan menangis lagi."


"Janji!"


"Iya, jangan gini terus ya, baby nanti ikut sedih!"


Farhan mengelus perut sang istri dengan penuh kelembutan.


"Nak, jaga bunda ya, papa berangkat kerja. Papa janji akan pulang cepat demi melihat kamu lahir. Papa sayang kamu dan bunda,"


Farhan mengecup perut sang istri lalu menatap sang istri kembali.


Cup ...


Entah siapa yang memulai, bibir mereka bersatu. ******* dan menyesap rasa yang ada.


Mereka seakan tak mau melepas satu sama lain. Bahkan mereka tak peduli kalau ada mama Adelia dan Bik Marni di sana. Dunia seakan milik mereka berdua. Hingga Farhan baru melepas ciumannya ketika merasa sang istri kehabisan nafas.


"Bee berangkat ya?"


"Jaga diri baik-baik, bee janji akan pulang cepat."


"I Love You,"


Cup ...


Terakhir Farhan mengecup puncak kepala sang istri.


"Bee berangkat,"


Queen hanya bisa menangis dalam diam melihat kepergian sang suami. Queen tak bisa mencegah lagi, apa lagi urusan sang suami memang sangat penting.


Mama Adelia langsung menghampiri sang menantu dan memeluknya. Queen memang tidak di perbolehkan mengantar ke bandara.


Mama Adelia hanya diam memberi sebuah pelukan hangat. Mama Adelia tak berani bersua karena dirinya juga pernah berada di posisi seperti itu dan mama Adelia faham betul gimana rasanya.

__ADS_1


Apalagi ini kali pertama bagi Queen di tinggal jauh setelah menikah. Dan, rasanya berbeda ketika di tinggal pergi sebelum menikah.


"Mama yakin, Biru pasti akan pulang cepat. Sudah, sekarang masuk ya,"


Bujuk mama Adelia berharap menantunya mau masuk. Dan, ternyata Queen hanya menurut saja tanpa mengucap satu katapun.


Mama Adelia membawa Queen ke kamar yang ada di bawah. Karena Farhan menyuruh sang istri pindah kamar. Apalagi dalam keadaan hamil besar, Farhan gak mau sang istri turun naik tangga. Farhan juga takut ketika terjadi sesuatu tidak ada yang mengetahui nya. Dan, mama Adelia juga menyetujui nya.


"Mau di kamar mama,"


Lilir Queen ketika mama Adelia baru mau membuka pintu kamar tamu yang sekarang sudah di jadikan kamar Queen dan Farhan.


"Ya sudah ayo,"


Queen bermanja seakan mama Adelia adalah mama nya sendiri. Bahkan mama Adelia juga tidak merasa keberatan. Bahkan mama Adelia senang jika tidur ada yang menemani.


Queen masih saja menangis di pelukan Mama Adelia. Sampai Queen tertidur di pangkuan mama Adelia. Mungkin karena terlalu lama menangis membuat Queen mengantuk sampai-sampai dalam tidurnya Queen mengigau nama sang suami.


Dengan penuh kasih mama Adelia membelai Surai panjang Queen.


"Mama yakin kamu pasti bisa melewati semuanya. Ini masih ujian yang sangat sederhana. Kamu belum menghadapi ujian rumah tangga yang lebih besar dari ini."


Gumam mama Adelia yang terus membelai Surai milik Queen. Lalu mama Adelia mengelus perut buncit Queen. Mama Adelia masih merasa mimpi sebentar lagi dia akan punya cucu. Mama Adelia juga tidak pernah terlintas bahwa menantunya adalah orang yang dulu dia bantu paska Dinda melahirkan.


Rasanya baru kemaren mama Adelia menyaksikan perjuangan Dinda melahirkan Queen. Dan, sekarang Queen sebentar lagi akan berada di masa itu. Apa mama Adelia juga yang membantu cucunya lahir tanpa di dampingi Farhan atau Farhan akan dengan cepat menyelesaikan pekerjaannya.


Mama Adelia berharap kisah Queen kecil tak terjadi pada cucunya. Itu sangatlah menyakitkan jika sampai terjadi. Mama Adelia seorang ibu dia bisa merasakan bagaimana berjuang seorang diri mempertaruhkan nyawa demi melahirkan seorang malaikat kecil tanpa di dampingi seorang suami.


"Sehat-sehat yan cucu grand Ma,"


Mama Adelia menyelimuti Queen, lalu dia keluar dari kamar ketika ada ketukan pintu. Ternyata bik Marni yang mengetuk pintu.


"Mereka sudah datang, bibi tolong buatkan minum dan cemilan ya buat mereka, saya ganti baju dulu."


"Baik buk,"


Bik Marni kembali menuju dapur guna membuatkan minum untuk tamunya dan beberapa cemilan yang dia bawa.


"Silahkan di minum Nyonya, ibu katanya mau ganti baju dulu,"


"Terimakasih Bik,"


"Sama-sama,"


"Kakak ... kakak ... "


Alam memanggil-manggil sang kakak sambil melihat ke sana kemari. Tak lama Mama Adelia datang menghampiri besannya sambil cepeka-cepiki.


"Maaf ya nunggu lama,"


"Tidak apa kak, Queen mana?"


"Baru saja tidur, mungkin kecapean dari tadi nangis terus,"


"Queen pasti merasa sedih, berapa lama Biru di Jerman?"


"Kakak kurang tahu, semoga saja Biru cepat menyelesaikan pekerjaannya."


"Amin, semoga saja,"

__ADS_1


Lilir mama Dinda menunduk, mama Dinda tahu apa yang di rasakan putrinya. Pasti berat bagi putrinya menjalani semua ini. Karena mama Dinda pernah berada di posisi seperti ini.


Dan itu sangat tidaklah enak,


"Kakak .."


"Sini sama tante, kakak sedang tidur,"


Mama Adelia mengambil Alam dan di dudukannya di pangkuan dia.


"Kakak tidur!"


"Iya, kakak sedang tidur. Alam mau nunggu di sini sampai kakak bangun?"


"Mau Tante, Alam kangen kakak,"


"Ya sudah tunggu ya, sambil nunggu Alam mau main,"


"No Tante, Alam pengen buah?"


"Alam nak, jangan gitu!"


Tegur mama Dinda sangat malu pada mama Adelia. Alam selalu saja kemanapun minta buah.


"Gak apa dek, kakak bawa Alam ke belakang ya. Kamu dan Fandi nyemil dulu saja,"


Mama Adelia langsung beranjak menuju kebun belakang. Dimana ada beberapa macam buah-buahan yang di tanam di sana.


Mama Dinda hanya menggeleng saja melihat tingkah putranya. Jika di bawa kesini selalu saja senang ke kebun belakang. Sampai-sampai sekarang Fandi menanam beberapa pohon buah-buahan di belakang rumahnya yang baru berbuah.


"Anak itu!"


"Biarkan saja sayang,"


"Mas, selalu saja memanjakan Alam!"


"Namanya juga anak-anak,"


"Sudah jangan cemberut gitu, mau mas cium nih,"


Mama Dinda membulatkan kedua matanya menatap tajam pada sang suami. Fandi hanya terkekeh saja melihat wajah sang istri.


"Sayang di sini jadi mau nginapnya?"


"Kayanya iya, semoga saja Queen tidak terlalu larut dalam sedihnya. Apalagi ada Alam nanti!"


"Gimana dengan mas!"


"Mas ih,"


"Bercanda sayang, mas ke kantor dulu ya, nanti pulang langsung ke sini, sekalian nginap di sini. Queen pasti butuh Daddy nya he .. he..,"


"Ih pede amat!"


Cup ...


"Masss !!!"


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah, Komen, dan Vote Terimakasih....


__ADS_2