
Sesuai rencana yang di sepakati keluarga Dinda dan Farhan berangkat ke Puncak. Tapi tidak dua keluarga itu juga, karena keluarga Prayoga juga ikut.
Malam hari Angga menelepon Dinda meminta izin jika mereka juga ingin ikut bersama Murni pergi ke Puncak. Dinta tak bisa menolak ataupun mengiyahkan, Dinda hanya menyuruh Angga bicara saja dengan Fandi karena itu rencana Fandi.
Pada akhirnya Fandi mengizinkan, walau bagaimanapun Fandi tak mau membuat Queen kecewa jika dirinya menolak Angga ikut.
Hanya Jek yang tak ikut karena Jek harus menyelesaikan skripsi terakhirnya. Sedangkan Queen tinggal satu tahun lagi lulus.
Tiga keluarga itu berangkat ke Puncak beriringan. Queen satu mobil dengan Farhan, Fandi dengan Dinda, Adelia bersama Daniel dan Lukman, ayah Daniel sedang Angga bersama Murni. Empat mobil berbeda merk itu beriringan dengan Daniel memingpin perjalanan.
Tanpa ada yang tahu dan ingat, ini adalah hari ulang tahun Farhan. Adelia sengaja mengadakan acara ulang tahun Farhan di Puncak. Farhan yang tak ingat pun hanya santai saja, karena semenjak kecelakaan itu Farhan seakan lupa segalanya. Tak ada ulang tahun ataupun bermain. Terakhir Farhan ulang tahun ketika usianya lima belas tahun dan kini usia Farhan menginjak dua puluh tujuh tahun. Sudah tiga belas tahun Farhan tak merayakan ulang tahunnya bahkan Farhan lupa tanggal berapa dia lahir. Yang Farhan ingat hanya tentang Roranya yang selalu mengalihkan duaninya.
Sudah sampai di tujuan semua keluarga langsung di sambut oleh penjaga villa.
Perjalanan yang cukup melelahkan membuat semua keluarga langsung istirahat di kamar masing-masing yang sudah di sediakan. Kecuali Farhan dan Daniel yang masih berada di ruang utama membaringkan tubuhnya di atas shopa.
Villa itu terdapat lima kamar, satu dapur, kamar mandi umum, ruang utama dan ruang santai dimana langsung terhubung dengan kolam renang.
Harusnya kamar itu cukup, lantaran Angga dan Murni ikut terpaksa Farhan mengalah dan Daniel mau tak mau menemani Tuannya di luar.
Perjalanan empat jam membuat pantat mereka kaku dan butuh istirahat sejenak sebelum nanti malam mengadakan acaranya.
Dan, ruang santai yang menghubung ke kolam renang menjadi pilihan Adelia untuk merayakan ulang tahun sang putra.
Sedang Fandi dan Lukman, sang asisten almarhum ayah Farhan sibuk mengatur semuanya. Farhan dan Daniel yang baru terlelap di sore hari tak tahu apa yang terjadi.Seakan mereka terlena dalam alam mimpinya.
"Sayang bangun..,"
Adelia membangunkan sang putra ketika sudah masuk waktu magrib. Menyuruh Farhan mandi karena acara satu jam lagi akan di mulai. Farhan hanya tahu acara keluarga dan berbeque saja tak tahu acara yang lain. Karena tak mau ketinggalan Farhan langsung bangun dan mandi di kamar mandi kamar yang di tempati sang mama.
Tiga puluh menit Adelia menunggu sang putra, Adelia masuk di lihatlah Farhan sudah memakai baju santai.
"Duduk,"
Farhan menurut ketika sang mama menyuruhnya duduk, hingga sebuah kain menutupi mata Farhan.
"Mah, kenapa mata Biru di tutup! "
"Diam dan jangan membantah, ada kejutan buat kamu."
__ADS_1
Tegas Adelia membuat Farhan hanya pasrah saja. Farhan paling tak bisa membantah ucapan sang mama.
Dengan perlahan Adelia memapah sang putra keluar dimana acara akan di mulai. Semuanya sudah berkumpul di sana terkecuali Queen, Queen tak ada di antara kedua orang tuanya.
"Mah, kapan di bukanya. Ini suasana hening banget, orang-orang pada kemana?"
Pertanyaan konyol macam apa yang Farhan ucapkan. Membuat semua orang tersenyum geli.
"Mah, ko gelap. Apa mati lampu?"
Farhan sungguh bingung kenapa matanya tak bisa melihat padahal sang mama sudah membuka kain yang menutupi kedua matanya. Berkali-kali Farhan mengucek matanya tapi tetap saja gelap.
"Selamat ulang tahun, Son."
Tak...
Setelah Adelia mengucapkan itu lampu langsung menyala. Farhan langsung mematung melihat pemandangan di depannya. Farhan seperti orang lingling melihat kolam renang yang di hias secantik mungkin dengan tulisan selamat ulang tahun.
Farhan melihat semua orang yang bersorak sambil meniup trompet menyanyikan lagu selamat ulang tahu. Di penglihatan Farhan seakan ini hanya ilusi, karena Farhan tak mengingat kapan dia terakhir kali merayakan ulang tahun. Dengan kelinglungannya Farhan mengedarkan pandangannya mencari sosok pujaan hatinya di antara keluarganya tapi Farhan tak menemukannya. Farhan seperti orang bodoh hanya berdiri dengan wajah bingungnya.
Hingga di mana semua orang menyanyikan lagu bagian potong kue, tapi tak ada satupun kue ulang tahun di meja tempat keluarganya berkumpul.
Sebuah tepukan di punggungnya membuat Farhan tersadar seketika lalu membalikan badannya.
Deg...
Jantung Farhan berdetak sangat kencang melihat penampilan Queen yang nampak berbeda.
Dres hitam dengan rambut di ikat satu memperlihatkan leher jengjangnya yang begitu putih. Dengan sedikit makeup yang membuat Queen berkali lipat tambah cantik.
Queen begitu tersipu di tatap intens seperti itu.
"happy birthday my idol,"
Ucap Queen sambil tersenyum mengangkat kedua tangannya yang memegang kue ulang tahun. Hingga Queen sedikit mundur mengangkat kue tepat di hadapan Farhan.
Lagi-lagi lamunan Farhan buyar ketika semua orang menyorakinya untuk meniup lilin. pandangan Farhan tetap tertuju pada Queen sedikit membungkuk sambil meniup lilin.
"Apa ini sebuah kejutan?"
__ADS_1
"Ya, anggap saja begitu..,"
Ucap Queen melebarkan senyumnya sambil menarik tangan Farhan menuju di mana keluarganya berada. Queen meletakan kue itu dan menyuruh Farhan memotong kue.
Kehangatan menjalar di hati Farhan ketika Farhan menyupi potongan pertama pada sang mama. Terasa ada yang kurang, tapi Farhan mencoba untuk tak bersedih. Potongan kedua Farhan berikan pada Dinda karena bagi Farhan Dinda adalah ibu keduanya. Yang ketiga Farhan berikan pada Murni dan itu sontak membuat Murni terkejut, pasalnya Murni mendapatkan suapan dari Farhan juga. Murni pikir Farhan akan memberikannya pada Queen karena mengingat Murni bukan bagian dari Farhan.
Tapi, Queen tersenyum tak ada rasa marah sedikitpun karena Queen faham apa yang dilakukan Farhan. Farhan menganggap Murni ibu ketiganya karena Murni adalah mama Queen juga. Jadi siapapun ibu dari kekasihnya maka dia berhak mendapat perlakukan itu. Dan, yang terakhir Farhan memberikannya pada sang kekasih.
Acara sederhana tapi begitu membekas di hati Farhan. Farhan seakan merasakan kembali kehangatan keluarga walau ada satu yang kurang. Tapi, Farhan tak mau terlihat sedih di depan sang mama. Sesudah acara potong kue semua keluarga langsung makan melentangkan karpet di lantai. Semua orang mempunyai kesibukan masing-masing. Dinda, Murni dan Adelia menyiapkan piring sedang para suami menyiapkan makanannya. Hari ini para istri dan suami berganti peran. Sedang Queen dan Farhan menata buah sambil sesekali memakannya.
"Dad, mau Queen gantiin manggangnya?"
"No, tuan putri gabung saja sama mama sana,"
"Tapi, lihat nih daddy keringetan!"
Ucap Queen sambil mengusap peluh yang ada di dahi Fandi, sedang Fandi hanya tersenyum saja dengan tangan sibuk memanggang stik.
Interaksi keduanya tak luput dari sepasang mata yang menatap mereka sendu.
Rasa cemburu muncul tiba-tiba di hati Angga melihat tawa lepas Queen. Belum pernah Angga melihat senyuman sang putri saat bersamanya. Tak lama Angga menggeleng mencoba membuang pikiran buruk sambil membantu Daniel mengangkut makanan yang sudah jadi ke atas karpet di mana ada para istri yang menyusunnya.
"Ayah, no. Biar Queen saja. Ayah duduk saja sama tante Murni. Kaki ayah baru sembuh jangan terlalu banyak gerak nanti kram,"
"Tapi, Nak. Ayah gak pa-pa!"
"Jangan membantah!"
Dinda dan Murni melihat keposesifan Queen terhadap Angga hanya bisa tersenyum. Begitupun Fandi, karena suara Queen cukup jelas terdengar di telinganya.
Ada kehangatan menjalar kehati Angga melihat perhatian kecil sang putri. Lagi-lagi rasa bersalah muncul di hati Angga.
Ketiga keluarga itu langsung makan, mereka terlihat seperti keluarga bahagia. Daniel tak mau melewatkan kesempatan langka ini, dengan cepat Daniel mengabadikannya di ponsel canggihnya. Dalam poto itu terlihat Farhan sedang membersihkan sisa makanan di bibir Queen, Fandi sedang menyuapi Dinda, Murni sedang memberi air minum pada Angga, Adelia memasukan makanan ke dalam mulutnya sedang Lukman, sang ayah hanya pokus pada makanannya.
Bersambung....
Jangan lupa Like dan Vote....
__ADS_1