Gadis Dingin

Gadis Dingin
Bab 66 Satu alasan!!!


__ADS_3

Kini Queen bisa menjalani harinya tambah semangat. Karena ada bocah laki-laki yang bernama Adi yang selalu menemani Queen. Tingkah bocah itu sangat mengemaskan bahkan ucapannya juga seperti orang dewasa. Padahal Adi baru berusia delapan tahun.


Ah.. Queen jadi gemas dan selalu ingin membahas bocah laki-laki itu.


Tingkah Adi kerap kali sering membuat Queen tertawa, apalagi tingkah Adi selalu mengingatkan Queen pada masa kecilnya bersama Farhan.


Tapi, ada rasa iba terhadap Adi, dimana Queen baru tahu tentang Adi.


Adi adalah anak panti asuhan yang segaja ibunya letakan di panti asuhan Kasih Ibu. Ibu panti menemukan Adi di depan pintu gerbang panti, saat itu usia Adi sekitar tiga atau empat bulanan. Entah siapa yang meletakan baby Adi. Bahkan orangnya tak memberikan petunjuk apapun. Hanya ada selembar kertas yang meminta supaya pemilik panti menamai baby dengan nama Adi Dwipangga.


Anak yang malang, tapi Adi terlihat kuat dan tak merasakaan sedih sedikitpun dan itu membuat Queen begitu menyayangi bocah itu.


Sekarang rutinitas Queen sedikit berbeda. Jika dulu Queen sudah ngampus akan langsung pulang kerumah sekarang Queen akan menyempatkan waktu berkunjung ke panti asuhan Kasih Ibu. Dimana tempat tinggal Adi. Queen baru tahu, ternyata panti asuhan tempat Adi tinggal tak jauh dari taman dimana Queen selalu menghabiskan waktunya di sana.


Melihat keceriaan anak-anak panti membuat Queen sedikit bisa melupakan kekesalannya pada sang ayah.


Bagaimana Queen tidak kesal, sang ayah terus saja memaksa Queen untuk bekerja di perusahaannya. Queen tak suka di ataur dan tak suka di tekan.


Bahkan kini hubungan Queen dan sang ayah semakin memanas saja. Queen tak mau itu, tapi sang ayah selalu membuat Queen seperti itu.


Queen ingin sang ayah mengerti tentang dirinya. Yang Queen butuhkan hanya kasih sayang dan pengertian sang ayah. Tapi Angga tak melakukan itu sama sekali.


Dari pada mengingat masalah itu, Queen ingin pokus saja belajar. Apalagi Queen sebentar lagi magang. Dengan serius Queen belajar dan belajar. Queen hanya ingin memantaskan diri bersanding dengan Farhan.


Farhan saja yang sudah Magister tetap saja belajar sampai ke Jerman bagaimana Queen yang baru mau lulus S1.


Walau Queen yakin Farhan tak akan mempermasalahkan hal itu. Queen tahu Farhan akan menerima dia apa adanya.


Sesudah belajar, Queen langsung keluar kelas menuju taman belakang.


Dimana hanya Queen yang selalu kesana, tidak ada satu orangpun yang kesana apalagi belakang kampus banyak pohon besar.


Queen harus melewati beberapa lorong kelas lain agar bisa ke taman belakang.


"Queen..,"


Queen menghentikan langkahnya ketika ada yang memanggil namanya.


"Maaf..,"


"Maaf, buat apa?"


Tanya Queen dingin bahkan aura Queen begitu tak bersahabat.


"Gara-gara saya, kamu berantem sama papa!"

__ADS_1


Queen meninggalkan Jek begitu saja karena malas jika harus membahas masalah itu.


Jek yang melihat Queen pergi begitu saja tak terima langsung mengejarnya.


"Apa lagi!"


Kesal Queen yang benar-benar tak suka akan pembahasan yang satu ini.


"Papa ingin kamu membantu papa!"


"Bukankah sudah ada kamu, jadi stop menyuruhku. Aku tak suka di paksa!"


"Tapi papa menginginkan kamu jadi penggantinya. Aku juga tidak keberatan, kamu berhak mendapatkan semuanya!"


"Dengar baik-baik Jek! Satu alasan yang harus kamu tahu! "


Queen menjeda ucapannya berusaha supaya tak terpancing emosi.


"Bukan masalah jabatan yang aku tak suka, tapi cara ayah yang salah. Dulu kemana ayah saat aku butuh! tapi dia tiba-tiba datang menyuruhku untuk menggantikan posisinya. Yang aku butuhkan bukan itu! tapi pengertian ayah mengerti apa yang aku mau. Ayah selalu egois, dulu dia selalu mementingkan urusan kamu tanpa peduli aku. Sekarang dia ingin menebus semuanya dengan cara memberikan perusahaan kepadaku bukan kamu. Sekarang ayah seolah mengutamanakan aku dan melupakan kamu yang dulu menjadi anak emasnya. Apa ayah tak bisa bersikap adil di antara kita berdua. Aku tahu bagaimana jadi anak tersisihkan dan sekarang harus ada di posisi kamu!"


Deg...


Jek tak menyangka Queen akan berpikir sejauh ini. Bahkan Queen masih memikirkan perasaannya.


Kali ini Jek tak bisa mencegah Queen pergi, sudah cukup Jek mengerti kenapa Queen tak menyukai itu. Karena alasannya hanya keadilan. Adilnya seorang ayah terhadap dua anaknya tanpa menyisihkan posisi satu sama lain.


Aku tahu bagaimana jadi anak tersisihkan dan sekarang harus ada di posisi kamu!


"Ya kamu benar, aku sekarang merasa tersisihkan. Apa dulu kamu juga sesakit ini jadi anak tersisih! walau kamu tahu ini sakit tapi kamu masih mementingkan perasaanku tanpa peduli hatimu"


Monolog Jek menatap nanar punggung Queen yang sudah menghilang di lorong sana.


"Jika kamu memilih mundur karena tak mau menyakiti hatiku, maka aku juga akan mundur demi menjaga kamu!"


Bruk...


Jek mengalihkan pandangannya ketika mendengar suara orang terjatuh.


"Hey, kalau jalan pakai mata!"


"Ma.. maaf sa.. saya tak sengaja!"


"Tak sengaja! makannya buka tuh kaca mata, dasar cupu!"


Bruk..

__ADS_1


Krek...


Melati tersungkur kembali ketika kakak tingkatnya sengaja menyenggol Melati hingga kaca mata bulatnya terjatuh lalu di injak pula. Hingga kaca mata itu rusak.


Tangan melati gemetar mencari kaca mata dengan mata yang mulai mengembun.


"Nih, kaca matanya sudah rusak!"


Deg...


Melati terkejut ketika ada orang yang menyodorkan kaca matanya. Dengan penglihatan kurang jelas Melati mengerjap-ngerjapkan kedua matanya guna ingin melihat siapa yang membantunya.


Jek tertegun melihat kedipan lucu mata Melati. Bola mata bening penuh keteduhan di hiasi bulu mata lentik. Baru kali ini Jek melihat mata yang begitu indah tapi sayang selalu tersembunyi di balik kaca mata tebal yang selalu Murni pakai.


"Terimakasih, Kak."


Murni langsung bergegas pergi, tak lupa memunguti beberapa buku yang berserakan.


Jek seakan terhipnotis sampai tak sadar kalau Melati sudah tak ada di hadapannya lagi.


Bahkan Jek sampai memegang dadanya yang berdetak kencang. Jek belum pernah merasakan perasaan yang menggeliti hatinya. Entah perasaan apa itu!


"Jek!"


Jek tersentak ketika temannya menepuk punggungnya. Jek seakan linglung mencari keberadaan Murni tapi tidak ada.


Kemana gadis itu..


Andi teman Jek menyerngit bingung dengan tingkah sahabatnya yang seperti mencari seseorang. Padahal tak satupun orang yang lewat.


"Bro, loe cari siapa?"


"Gak ada!"


"Lah malah di tinggal..,"


Andi mendengus sambil mengejar Jek yang meninggalkannya.


Sudah kebiasaan Jek selalu seperti itu, nyelonong pergi tanpa bicara.


Jek tak memperdulikan ocehan sahabatnya, pikirannya terus tertuju pada gadis yang dia bantu. Namun, Jek tak tahu siapa gadis itu. Yang Jek tahu, gadis cupu itu pernah di lihatnya ketika Queen membela Melati.


Bersambung....


Jangan lupa Like, komentar, Hadiah dan Vote

__ADS_1


__ADS_2