
Rasa sedih Queen berangsur berkurang karena kehadiran bocah laki-laki yang bernama Adi.
Hari-hari Queen lalui bersama bocah laki-laki itu. Sehabis pulang kampus maka Queen akan menyempatkan waktu pergi ke panti Asuhan dimana Adi tinggal.
Queen baru tahu, kalau Adi adalah anak yang terbuang. Sendari baby ibunya menitipkan babby Adi ke panti asuhan yang tak jauh dari taman dimana Queen melepas lelah hatinya.
Ibu Adi meninggalkan Adi begitu saja, tanpa meninggalkan petunjuk atau apapun. Hanya selembar surat yang memintanya untuk memberi nama Adi Dwipangga.
Bahkan kecerian anak-anak panti membuat Queen bisa sejenak melupakan rasa rindunya pada Farhan. Padahal baru satu bulan Farhan meninggalkan Queen tapi rasanya sudah sangat lama.
Hubungan Queen dan Anggapun semakin memanas dimana Angga selalu memaksa Queen untuk membantu Angga di perusahaan. Tapi, secara halus Queen selalu menolak. Queen tak menginginkan jabatan itu. Karena bagi Queen Jek yang berhak akan pewaris sah sang ayah. Karena Jek anak pertama dan laki-laki. Sedang Queen sudah memilih akan menghabiskan waktunya di rumah. Menjadi ibu rumah tangga yang baik, dan menjadi teladan bagi anak-anak kelak.
Queen tak mau kisah anak-anak kelak sama seperti dirinya.
Tapi, sayang! Angga tak pernah mengerti sama sekali tentang perasaan Queen. Queen tak suka di paksa apalagi di tekan. Queen tak mau hubungannya dengan sang ayah menjadi seperti ini, tapi Angga yang selalu memulai dan memancing emosi Queen. Hingga Queen kembali pada Queen yang dulu yang selalu melawan ucapan Angga.
Melihat tawa anak-anak panti membuat Queen sejenak juga, bisa melupakan pertengkarannya kemaren dengan sang ayah.
Melihat waktu sudah mulai magrib, Queen memutuskan pulang. Seperti biasa Queen memacu kuda besinya dengan santai sambil menikmati udara sore.
Hoek... hoek...
Queen berlari ketika mendengar suara orang mual. Wajah Queen begitu terlihat cemas takut terjadi sesuatu.
"Mah, daddy mual lagi?"
Tanya Queen sambil membatu sang mama memapah Fandi duduk di kursi meja makan.
Wajah Fandi begitu pucat dengan mata yang memerah menahan perih di dalam perutnya yang seakan di aduk-aduk.
"Daddy dari siang belum makan, sudah sore, ya mama paksa makan tapi jadi malah seperti ini."
"Dad, apa daddy ingin makan sesuatu?"
Tanya Queen, entah kenapa ingin bertanya seperti itu.
Begitupun Dinda bertanya dengan pertanyaan yang sama seperti putrinya. Kiranya memang Fandi menginginkan sesuatu.
__ADS_1
"Daddy tak menginginkan apa-apa, daddy ingin di peluk mama saja!"
"Apa itu juga termasuk ngidam, Mah!"
Dinda hanya mengangguk sambil mengelus kepala suaminya. Dinda memang sempat bertanya pada dokter, keinginan apapun harus di turuti ketika orang ngidam meminta. Karena perasaannya mudah sensitif jika kita tak peka.
Queen mengulum senyum melihat tingkah ayah sambungnya yang sangat manja, terlihat geli di mata Queen. Apalagi Queen membayangkan Farhan seperti itu ketika dia mengandung.
"Romantis!"
"Apanya yang romatis sayang, daddy sedang mengidam begini. Kasihan tahu!"
Celetuk Dinda terus mengelus rambut sang suami. Dinda merasa kasihan melihat suaminya begini. Dulu, waktu Dinda hamil Queen, Dinda yang mengidam dan itu rasanya sangat bagaimana gitu.
Ya, Dinda memang dinyatakan hamil, usia kandungannya baru mencapai lima minggu. Dinda dinyatakan hamil, awalnya karena keadaan Fandi yang akhir-akhir ini sikapnya begitu sensitif dan selalu merasa mual dan pusing. Karena takut terjadi apa-apa Dinda dan Queen membawa Fandi berobat. Tapi, sungguh di luar dugaan. Fandi bukan sakit tapi sedang mengalami Kehamilan simpatik atau disebut juga Sindrom Couvade terjadi ketika suami ikut merasakan tanda-tanda kehamilan yang dialami oleh sang istri. Umumnya faktor pemicunya adalah stres dan rasa empati suami kepada istri yang sedang mengandung.
Kehamilan simpatik biasanya dialami suami saat kehamilan istri berada di trimester pertama dan ketiga.
"Sabar ya, Dad. Dua bulan lagi selesai he.. he..,"
Kesal Dinda geleng-geleng kepala, putrinya selalu saja menggoda sang suami jika Fandi seperti ini. Entah harus sedih atau bahagia atas kehamilan ini. Tapi, Dinda sangat bersyukur atas hadirnya cabang baby di rahimnya. Semenjak Dinda di nyatakan hamil, Queen semakin lengket dengan Dinda bahkan Queen sekarang mulai terbuka dengan Dinda dan itu sebuah keajaiban yang tak bisa Dinda ucapkan.
Dekat dengan sang anak dan menjadi sandar pertama ketika sang anak rapuh itu menjadi kebahagian yang tak bisa di jabarkan oleh kata.
Dinda tersenyum melihat kepergian sang putri yang bersenandung ria sambil berjalan menaiki anak tangga menuju ke kamarnya.
"Ada-ada saja anak itu!"
"Sayang..,"
Lilir Fandi mendongkak menatap sayu sang istri.
"Iya, Mas. Apa ada sesuatu yang mas ingin?"
"Ingin tidur, tapi di peluk."
Sungguh Dinda hanya bisa mengulum senyum geli melihat tingkah sang suami. Semenjak kehamilan simpatik, Fandi begitu manja dengannya bahkan tidurpun tak mau di tinggalkan tapi ada satu kebiasaan. Fandi akan terbangun malam dan perutnya merasa lapar, hingga Fandi bisa makan ketika malam saja tanpa takut keluar kembali.
__ADS_1
Terkadang, Dinda merasa aneh tapi kata dokter itu sudah biasa karena ngidam seseorang sangat berbeda-beda.
Dinda membantu sang suami berbaring lalu menarik kepala sang suami kedalam dekapan hangatnya. Fandi menelusupkan kepalanya di cekuk leher sang istri.
Begitulah tingkah suami yang ngidam, setiap harinya. Bahkan Dinda akan kewalahan dengan kemanjaan sang suami. Padahal Dinda waktu belum menikah selalu ada rasa cemburu ketika Fandi begitu dekat dengan Queen. Karena Fandi terlihat tidak seperti tampang ayah sambung melainkan seorang kekasih. Tapi, sekarang pandangan Dinda benar-benar teralih dan tak pernah berpikir buruk lagi setelah dirinya di nyatakan hamil.
Kehamilan simpatik yang di sarakan Fandi, membuktika bahwa Fandi begitu besar mencintainya, dan cinta Fandi pada Queen itu murni cinta ayah pada anaknya.
Aneh bukan!
Tapi itulah kenyataannya, begitupun sikap Angga yang keras karena terlalu cemburu akan kedekatan Queen dan Fandi, hingga membuat hubungan antara anak dan ayah menjadi renggang.
Queen merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil menatap langit-langit kamarnya.
Queen membuka ponselnya melihat ada beberapa pesan masuk dari Farhan.
"*Hay, sayang. Bagaimana belajar hari ini! semoga tetap semangat ya! "
"Ada dosen, aku tutup dulu."
"Ingat! angka 8 akan ada setelah angka 1234567*!"
Queen tersenyum melihat deretan pesan dari Farhan. Queen akan selalu tersenyum jika membaca pesan terakhir.
Ya iyalah, angka delapan akan muncul setelah angka tujuh, bagi Queen Farhan ada-ada saja. Menurut Queen pesan itu adalah pesan terkonyol yang Queen baca. Tapi, anehnya Queen menyukainya. Entah ada apa di angka delapan, apakah sebuah kode atau sebuah pin rahasia.
"Hari ini sedikit semangat, karena bukan kamu yang mengajar,"
"Yang rajin belajarnya, supaya cepat pulang!"
Sebuah balasan yang Queen kirim untuk Farhan. Queen yakin Farhan tak akan membalasnya karena pasti masih belajar.
Perbedaan waktu 5 jam, lebih cepat dari pada Jerman. Membuat Queen dan Farhan sulit berkomunikasi. Tapi, mereka berdua tak pernah absen dalam memberi pesan walau, mengirimnya kapan dan di balesnya kapan.
Bersambung....
Jangan lupa Like dan Vote...
__ADS_1