Gadis Dingin

Gadis Dingin
Bab 60 Berusaha jujur!


__ADS_3

Queen kembali lagi kerumah setelah menitipkan pudding buatannya pada pelayan di rumah Farhan.


Queen menggayuh sepedanya dengan pelan. Karena jarak yang tak jauh, Queen memutuskan naik sepeda untuk mengantar puding itu.


Di sepanjang jalan Queen terus menggayuh dengan pikiran entah kemana. Pembicaraan Farhan dan Adelia mampuh mengusik hati Queen.


Sekali lagi, bolehkah Queen egois!


Queen menyimpan sepedahnya di garasi, lalu masuk kedalam. Queen tersenyum melihat tingkah kedua orang tuanya. Queen bahagia bisa melihat kebahagiaan sang mama dengan daddy Fandi. Queen akui Fandi mampuh membuat sang mama selalu tersenyum. Tidak ada tangis di setiap malam, tidak ada lamunan di setiap senggang. Rumah yang tadi sepi seakan penuh warna kebahagiaan.Tapi, sekarang Queen harus menentukan pilihan.


Pilihan yang sulit bagi Queen maupun Farhan, karena dua-duanya tak mau berjauhan namun sebuah alasan yang harus membuat mereka rumit.


Entah siapa yang akan berkorban untuk memutus tetap bersama. Keduanya punya alasan kuat dan sama-sama egois tentang semuanya.


Yang mereka butuhkan sekarang hanya butuh ketenangan hati dan pikiran supaya keduanya bisa memutuskan dengan baik.


"Sudah nganterin puddingnya?"


"Sudah dong, oh iya. Queen langsung ke atas ya,"


Ucap Queen berusaha bersikap biasa seolah tak terjadi apa-apa. Antara Queen dan Farhan begitu jago menyembunyikan kegundahan hati dan pikirannya. Seakan mereka berdua sudah terlatih dengan semua itu.


Jerman!


Satu tahun!


Queen terus berpikir, apa Queen bisa untuk LDR dalam kurun waktu lama. Tapi, Queen juga tak bisa meminta Farhan tetap tinggal karena tugas Farhan jauh lebih besar.


Untuk menyelamatkan rebuan karyawan kenapa Farhan harus ke Jerman kenapa gak Bogor saja yang dekat. Tidak terlalu jauh tapi masih bisa bertemu.


Queen menggenggam erat liontin yang menghiasi lehernya. Sesekali Queen membuka Liontin itu hingga terbentuk sebuah cap leluhur keluarga Al-biru. Tanpa cap ini semuanya tak bisa di miliki dan tanpa menyemat pendidikan di sana Farhan belum bisa mendusuki kursi kebesarannya secara resmi.


"Nunggu mama hamil bisakan,"


"Bagaimana kalau mama tidak hamil!"


"Tunggu tahun depan aku wisuda, bahkan di hari wisudapun kita nikah aku setuju!"


Queen mengigit bibir bawahnya ketika mengingat percakapan dirinya dan Farhan di Puncak.


Bisakah mereka saling setia, apalagi Farhan akan pergi ke negara orang yang tentu disana banyak wanita-wanita cantik dan seksi. Sedang Queen hanya gadis tomboy dan kaku.


"Apa aku menyetujui saran mama Adel. Menikah dulu, lalu akan menyusul Farhan kesana. Dan, ikatan kami tetap terikat erat!"


Monolog Queen terus berpikir walau Queen harus merubah prinsipnya.


"Tapi, bagaimana kalau Farhan tak setuju. Apa yang harus aku lakukan. Masa aku ikut dengan Farhan kesana, bagaimana dengan kuliahku, ini sangat tanggung."


Huh..


Queen membuang nafas kasar sangat pusing sekali. Apalagi Farhan belum membicarakannya dengan Queen dan tentu membuat Queen belum bisa memutuskan semuanya.

__ADS_1


...---...


"Maaf tuan muda, tapi kita harus cepat memutuskan sebelum para pemegam saham berubah pikiran."


"Emang tak bisa di tunda dulu, Pak. Studyku!"


"Tidak bisa tuan muda, ini sudah jadi keputusan bersama. Tuan muda harus berangkat minggu depan. Kalau tidak, terpaksa kami harus menggantikan posisi tuan muda selama enam tahun sebelum posisi itu kembali pada tuan muda."


"Kenapa ada aturan seperti itu, Pak! "


"Ini sudah turun temurun, karena keturunan Al-biru harus menyemat pendidikan disana sebelum mengesahkan posisi itu."


"Emang tak ada Universitas yang lain tampa harus jauh di sana? misal di Indonesia!"


"Tidak bisa. Karena eyang tuan muda dulu menyemat pendidikan di sana sebelum mendirikan perusahaan ini. Jadi siapapun keturunannya yang menjadi sang pewaris harus menyemat study di sana! "


Huh...


Farhan Berkali-kali membuang nafas kasar mengingat percakapannya dengan sang penasehat.


Sedang sekarang Farhan belum bicara sama Queen. Entah apa reaksi Queen tentang ini. Apa Queen akan melepaskannya dan setuju LDR atau Queen akan menahannya, Farhan tak tahu.


Andai, tak ada aturan seperti ini Farhan tak akan sepusing ini. Dan, sang mama kenapa tak memberi tahu Farhan sendari awal kalau ada aturan seperti itu. Jika saja Farhan tahu lebih awal mungkin Farhan akan mengambil study di Jerman S3 bukan di LA.


Farhan memutuskan membicarakan masalahnya malam ini. Farhan tak mau membuang waktu lagi, mungkin kalau sudah menceritakan semuanya dengab Queen akan merasa lebih baik.


"Mau kemana Biru?"


"Ini ada pudding, katanya dari Rora buat kamu. Tapi mama juga mau..,"


Farhan mengerutkan kening bingung, puding. Kapan Queen mengantarkan pudding dan tak memberi tahunya.


Farhan berjalan kearah meja makan dan melihat memang sang mama sedang memindahkan pudding rasa melon kesukaan Farhan.


"Kapan Queen mengantarkannya, Mah."


"Kurang tahu, cuma tapi pelayan yang memberitahu mama kalau Rora mengantarkan pudding buat kamu. Ayo makan, sepertinya enak."


Farhan terpaksa duduk menikmati pudding buatan Queen dengan lahap larena memang Farhan sangat suka pudding.


"Biru mau kerumah Rora, Mah. Rora harus tahu masalah ini. Walau bagaimanapun kami harus segera memutuskan!"


"Ya sudah, jangan pulang malam. Semoga kalian berdua bisa membuat keputusan bijak. Kalian sudah sama-sama dewasa, mama percaya pada kalian."


"Iya, Mah. Kalau begitu Biru pamit,"


"Iya, sampaikan salam mama buat Rora katakan puddingnya enak."


Karena jarak rumah Farhan dan Queen tidak terlalu jauh, Farhan memakai sepeda kerumah Queen. Pak Tono langsung membukakan gerbang ketika menyadari kalau yang bertamu adalah Farhan.


"Silahkan, Den."

__ADS_1


"Terimakasih, Pak."


Farhan langsung masuk kedalam sambil mengucap salam.


Queen yang sedang bersantai menonton Tv bersama kedua orang tuanya terkejut melihat kedatangan Farhan tiba-tiba tanpa memberi tahunya.


Farhan menyalami Dinda dan Fandi lalu Dinda mempersilahkan Farhan duduk.


"Tumben, Nak. Mainnya malam!"


"Biasa tante dua hari ini sibuk,"


"Mau ngobrol sama Queen? "


"Iya, tan."


"Nak, sanah. Temanin Biru,"


Queen hanya mengangguk dengan jantung berdebar. Menerka-nerka apakah kedatangan Farhan akan menceritakan masalah itu atau ada hal lain.. Farhan dan Queen berjalan keluar rumah menuju gazebo dekan taman. Karena memang tempat itu akan menjadi tempat Queen mengobrol jika ada Farhan main kerumah.


"Tumben gak ngabarin dulu?"


"Sudah, cuma gak ada balasan."


Jawab Farhan enteng sambil duduk di samping Queen.


"Salam dari mama, terimakasih puddingnya. Sangat enak!"


"Em, emang kapan Rora mengantarkan puddingnya, kenapa gak langsung kasih sama aku?"


Tanya Farhan dengan sedikit cemas, takut Queen mendengar pembicaraan dirinya dan sang mama.


"Tadinya aku mau langsung kasih ke kamu tapi gak jadi. Pas waktu aku nelepon tadi sore aku bilang sedang berdiri. Itu di depan rumah kamu,"


Jawab Queen berusaha bersikap biasa seolah tak mengetahui tentang apapun. Queen hanya ingin mendengar langsung dari mulut Farhan.


Farhan sesikit bernafas lega ternyata Queen tak mendengar apapun. Farhan berusaha mengumpulkan keberanian untuk berkata jujur.


"Rora..,"


"Hm,"


"Aku mau ke Jerman!"


Deg....


Bersambung...


Jangan lupa Like dan Vote.


__ADS_1


__ADS_2