
Jerman....
Farhan menatap tajam pada gadis yang malah tersenyum seakan meledeknya. Rasa kesal, marah dan terkejut atas kedatangan gadis yang tiba-tiba selalu datang tanpa di undang pergi tak di antar. Bak jialangkung saja dan itu sukses membuat Farhan kesal setengah mati.
"Kenapa masuk gak ketuk pintu dulu!"
"Ayolah sayang, jangan Marah-marah nanti cepet tua,"
"Saya sedang vidio call dan kau menghancurkannya bagaimana kala.. "
"Gak baklaan, Queen gak bakalan marah. Udah ya, jangan Marah-marah mulu, aku harus segera pergi lagi. Babay... Muach..,"
"Aielinnnn!!!"
Bentak Farhan menatap nyalang pada gadis yang berlari pergi. Nafas Farhan naik turun menandakan kalau Farhan benar-benar kesal.
Farhan menghapus ciuman Aielin di pipinya dengan kasar dan ini sungguh menyebalkan.
"Jangan lupa tiketnya sudah di siapkan belum, kalau belum segera siapkan. Dadah ganteng...,"
Farhan menahan nafas mendengar teriakan Aielin. Lalu membuangnya kasar, sungguh Farhan sangat kesal kesall.
Ahhhkkk...
Kesal Farhan meluapkan emosinya. Farhan menatap nanar ponsel yang dia matikan langsung. Queen pasti mencurigainya.
"Sial-sial!!!"
Farhan terus saja memaki dirinya karena ceroboh. Aielin kenapa juga datang tiba-tiba membuat Farhan terkejut.
Bagaimana kalau Queen curiga dan
"Oh, Tuhan kenapa jadi begini...,"
...---...
Indonesia ....
Queen berusaha tetap mempertahankan semangatnya. Ini akhir dari perjuangan Queen. Queen harus lebih giat belajar supaya mudah membuat skripsi.
Sedangkan Jek, sudah lulus tujuh bulan yang lalu dengan nilai IPK 3,25. Nilai yang memuaskan dengan sarjana Ekonomi. Dan, kini Jek sudah bekerja di perusahaan sang ayah. Awalnya Jek tak mau bekerja di perusahaan sang ayah. Jek ingin mandiri dan sukses dari hasil keringatnya sendiri. Jek tak mau di anggap remeh oleh orang lain.
Semakin hari semakin dewasa pikiran Jek, apalagi dengan keadaan yang terus membuat Jek berpikir dan terus berpikir.
Bahkan Jek sekarang jaran menongkrong, walau ada satu atau dua kali dalam sebulan Jek lakukan untuk mengusir rasa jenuh.
__ADS_1
Bahkan teman-teman Jek juga sudah pada bekerja. Andi, teman Jek memilih meneruskan usaha keluarganya. Angga membuka bengkel dan Jek sendiri menjadi kepala devisi keuangan. Tadinya Jek, meminta menjadi karyawan bisa saja, karena Jek ingin memulai dari nol. Tapi, sang mama menyarankan Jek bekerja di bagian itu. Supaya Jek bisa mengelola uang dan tahu bagaimana kerasnya bekerja. Jangan cuma bisanya main hambur-hamburkan uang saja.
Jek pasrah ketika sang mama memutuskan itu. Dan, benar saja. Jek sekarang jauh lebih baik lagi. Jek bisa benar-benar meninggalkan kebiasaannya.
Jika dulu Jek suka poya-poya maka Jek sekarang suka menyisihkan uang gajihnya untuk berbagi pada orang lain. Jek terinspirasi dari Queen.
Awalnya Jek tak sengaja lewat pulang dari kantor. Jek melihat Queen sedang membantu jualan seorang nenek pedagang telur. Di situ Jek, berpikir. Bagaimana mungkin gadis dingin seperti Queen yang terkenal arogan mempunyai hati bak malaikat.
Lama Jek memerhatikan Queen hingga satu jam lebih tapi tak ada satupun pembeli. Hingga Queen mengeluarkan uang beberapa lembar merah di berikan pada nenek itu. Di situ hati Jek tersentuh, dan itu juga kenapa Jek memilih mundur. Karena Queen layak menduduki kursi CEO dari pada dirinya.
Rasa benci perlahan terkikis rasa sayang layaknya seorang kakak pada adiknya.
Ya, Jek sudah mengakui dan menganggap Queen sebagai adiknya. Walau bagaimanapun mereka mengalir darah yang sama. Yang tak bisa di putus oleh apapun.
"Hey, Bro... kenapa bengong!"
Plakk...
Jek terperanjat kaget akibat tepukan Andi di lengannya.
"Kenapa lo lihatin cewe cupu itu!"
Jek langsung mengalihkan tatapannya lagi keluar restoran dimana ada seorang gadis yang sedang membantu seorang bapak-bapak penjual tisu. Dimana bapak itu hanya duduk di kursi roda, karena tak mempunyai satu kaki.
Jek langsung sadar, bahwa yang dia lihat bukan Queen. Jek tadi melamun melihat gadis itu mengingatkan Jek pada Queen. Hingga Jek juga melihat Queen di diri gadis itu.
Jek membelalakan matanya ketika ada anak kecil yang menyebrang jalan. Bukan menyebrang jalan melainkan mengejar balon yang lepas dari tangannya. Jek berlari keluar, membuat Andi terkejut dengan apa yang Jek lakukan. Bahkan pengunjung lestoran lainpun sama.
Tinnn ...
Bruk ...
Jeritan semua orang begitu memeking telinga Jek.
Jek bernafas lega ketika bocah kecil itu selamat. Tapi, kenening Jek sedikit mengerut melihat jalan gadis cupu itu sedikit berbeda bahkan sampai di bantu orang ke tepi jalan. Dan, orang-oranng yang lain memarahi si pengendara sang tak bisa memelankan laju mobilnya.
"Nak, terimakasih sudah menyelamtakan anak ibu,"
"Sama-sama bu,"
"Kita kerumah sakit ya, kaki kamu tadi keserempet. Saya takut kaki kamu jadi bermasalah?"
"Gak pa-pa bu, saya baik-baik saja!"
Jek terus memerhatikan interaksi antara gadis cupu dan ibu si anak kecil. Hingga, tak lama si ibu itu pergi membawa anaknya. Gadis itu tersenyum melambaikan tangannya pada bocah kecil yang sama sedang melambaikan tangan tanda perpisahan.
__ADS_1
Jek terus saja memerhatikan penasaran apa yang akan gadis itu lakukan lagi. Tak lama gadis cupu itu pamit pada si penjual tisu. Sebelum pergi, gadis itu membeli dua tisu lalu pergi dengan kaki sedikit pincang.
"Kenapa tak kerumah sakit, sok kuat!"
Gadis cupu itu menghentikan langkahnya ketika mendengar suara sinis. Lalu melanjutkan jalannya lagi tanpa menoleh kebelakang.
Jek menjadi kesal karena di abaikan, Jek mencengkal tangan gadis itu sedikit kasar.
"Awsss..,"
"Le.. lepas, an.. anda menyakiti saya!"
"Kamu pura-pura tak mengenal saya?"
Gadis cupu itu menunduk sambil meremas tasnya. Bukan tak mengenal siapa Jek, Melati hanya terkejut saja kenapa Jek mengikutinya.
"Maaf kak, saya harus segera pulang,"
Ucap Melati lembut sambil melepaskan lengannya yang di tahan Jek.
"Kaki kamu keserempet, itu pasti sakit. Kenapa gak kerumah sakit!"
Melati sedikit terkejut, kenapa Jek bisa tahu kalau dirinya keserempet. Tapi, Melati berusaha menutupi keterkejutan itu.
"Gak pa-pa, ini gak perlu ke rumah sakit. Mungkin nanti di urut di rumah,"
"Maaf kak, saya harus segera pulang. Permisi,"
Melati langsung berjalan tanpa memperdulikan jawaban Jek. Kakinya memang sakit, tapi Melati tak mau menyusahkan orang lain. Melati menghembuskan nafas kasar, lalu menghentikan langkahnya.
"Kenapa kakak ngikutin saya terus!"
"Saya ingin memastikan kalau kamu selamat,"
Ucap Jek enteng, entah kenapa Jek tertarik akan ketegaran gadis cupu di depannya. Bahkan sampai tak mau menatapnya.
"Saya bisa pulang sendiri, apalagi ini hampir sampai. Pulanglah jangan ikutin saya!"
"Dimana rumah kamu?"
Melati membuang nafas kasar sangat kesal dengan apa yang Jek lakukan. Melati memilih melanjutkan saja langkahnya dari pada melayani Jek. Melati tahu, kakak senior satu ini sangat keras kepala.
Melati sudah tak peduli apa Jek masih mengikutinya atau tidak. Yang Melati inginkan hanya ingin cepat sampai rumah dan mengurut kakinya.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa Like, Komen, Hadiah dan Vote
terimakasih....