
Esok hari, Queen dan Farhan di sibukkan mempersiapkan pernikahan mereka. Di adakan di salah satu hotel milik Angga.
Hari ini, Queen dan Farhan pergi guna fitting baju di salah satu butik teman mama Adelia. Persiapan pernikahan mereka begitu sempurna. Apalagi Farhan seorang pengusaha muda yang merajai kerajaan bisnis di daratan Asia.
Dan, Queen. Siapa sangka semua orang terkejut mengetahui siapa sebenarnya Queen.
Putri dari seorang Prayoga, yang kerajaan bisnisnya tak diragukan lagi. Bahkan pernikahan mereka semakin mempererat kekuasaan bisnis dari keduanya.
Para kolega dan saingan bisnis sudah tahu siapa seorang Angga Prayoga. Tapi, mereka belum tahu siapa Farhan sebenarnya. Karena selama ini yang mereka tahu putra dari keluarga Al-biru sudah meninggal.
Tapi, siapa sangka kehadiran Farhan membuat semua orang tercengang. Pasalnya mereka kira Farhan hanya seorang dosen saja.
Terkecuali munculnya mama Adelia ke buplik membuat jagat Maya begitu heboh.
Sepertinya keluarga Al-biru dan Prayoga membuat orang-orang pada jantungan.
Sudah selesai Fitting baju, Queen dan Farhan kembali pulang.
Sepanjang jalan Queen hanya cemberut karena kesal. Tak ada satupun baju yang Queen sukai. Al hasil membuat desainer pusing karena baju yang Queen inginkan sangat sulit di buat. Pasalnya baju itu membutuhkan beberapa bulan membuatnya.
Nah, ini pernikahan mereka tinggal enam hari lagi. Pada akhirnya Queen menyerah dan memilih baju yang pertama saja walau sedikit mengekspos punggung dirinya.
"Sudah sayang, jangan cemberut mulu,"
"Kenapa bajunya gitu semua, kamu kan tahu aku gak suka memakai baju terbuka!"
"Iya..iya aku faham, kamu tenang saja. Aku Pastika kamu menyukai hasilnya nanti!"
"Hm,"
Sekarang tujuan Farhan ke toko perhiasan masih sama sebua toko teman mama Adelia.
Di sana Queen tak banyak bicara, Queen menyerahkan semuanya pada Farhan. Queen hanya berpesan yang sederhana saja jangan berlebihan. Karena Queen memang tipikal orang penyuka yang simpel.
Farhan memangut saja dari pada membuat mood Queen bertambah buruk.
Sudah selesai semuanya, mereka benar-benar pulang. Apalagi Queen yang sudah kangen dengan adik tampannya.
Usia baby Alam yang menginjak satu tahun, dia sudah bisa berjalan walau sesekali jatuh.
"Aku langsung kembali ke kantor ya?"
"Iya, hati-hati bee,"
"Tunggu, kamu bilang apa tadi?"
"Aku gak bilang apa-apa ko!"
"Tidak! aku tidak salah dengar. Kamu memanggilku bee? coba ucapkan sekali lagi?"
"Mana ada, sudah Sanah pergi!"
Bukannya menurut Farhan malah menahan pinggang Queen yang ingin keluar.
"Ayo katakan, bahwa aku gak salah dengar?"
"Bee!"
__ADS_1
Seketika Farhan tersenyum mendengar panggilan baru untuk dirinya. Jarang sekali Queen memanggilnya mesra.
"Aku suka, tetap panggil aku seperti itu ya!"
"Iya, tapi lepaskan pinggang aku, aku mau keluar bee,"
Hati Farhan berbunga-bunga mendengar suara lembut Queen memanggilnya mesra. Queen hanya tersenyum saja melihat reaksi konyol Farhan. Seperti anak ABG saja.
Biasanya perempuan yang suka baper, lah ini malah Farhan. Padahal usia Farhan tak lagi muda. Dua puluh tujuh tahun tingkahnya masih saja seumuran Queen.
Farhan memandang punggung Queen hingga menghilang di balik pintu. Barulah Farhan benar-benar pergi.
"Dede Al..."
" Aka..."
Baby Alam berlari lucu masuk kedalam pelukan Queen. Bocah itu langsung mencium kakak tercintanya.
"Aka udah puyang?"
"Iya, kakak udah pulang. Buktinya kakak gendeng Dede,"
Baby Alam tertawa ketika Queen menggelitik baby Alam sampai gigi kelincinya terlihat.
"Ha..ha.. udah.. Uda kak.. Gili ha..ha.."
"Ok, dad sama mama dimana?"
"Nah.. tu..tu.."
Dinda dan Fandi sedang asik menanam bunga anggrek pink. Sampai tak menyadari kehadiran putrinya.
"Ma, dad.."
Panggil baby Alam sambil merentangkan kedua tangannya. Mengisyaratkan bahwa dia ingin di gendong.
" Mam dan dad kotor sayang, sama kakak dulu saja ya,"
"Na..na.. dad.."
Baby Alam terus saja memanggil Fandi ingin di gendong. Fandi terpaksa menggendong sang putra. Sebelum itu Fandi mencuci tangannya dulu.
"Gimana sayang, semuanya lancar?"
"Yah gitu!"
Dinda faham akan jawaban malas sang putri. Dinda tahu bagaimana Queen sangat berbeda dengan kebanyakan gadis.
"Hanya satu hari sayang, gak apa-apa. Toh kamu juga pasti sering berpakaian seperti itu. Apalagi kamu sebentar lagi akan menjadi istri seorang Farhan Al-biru."
"Mama, ngeselin.."
"Kok ngeselin, memang benar sayang!"
"Emang seperti itu ya mah, istri para pembisnis harus berpakaian modis?"
"Gak juga sayang, buktinya mama pakai pakaian seperti ini!"
__ADS_1
"Ih mama kan ini di rumah."
Ha..ha...
Dinda tertawa melihat wajah putrinya yang di tekuk. Karena kesal Queen pamit ke kamar saja.
Dinda hanya menggeleng melihat tingkah putrinya yang sama sekali tak berubah. Entah bagaimana jadinya jika suatu saat nanti Queen ikut acara-acara yang mengharuskan para istri ikut. Apa Queen akan memakai pakaian roker atau feminim. Membayangkan nya saja membuat Dinda geli.
Sesudah sampai di kamar, Queen langsung membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Tak lama sebuah notifikasi Pesan masuk.
" Sayang aku sudah sampai di kantor,"
"Iya, selamat bekerja bee :)"
"Kecupannya mana sayang?"
" Nanti saja kalau sudah halal."
" Buat semangat, ayolah..."
Satu menit ... dua menit ... tiga menit ....
Tak ada jawaban dari Queen membuat Farhan tersenyum. Queen selalu saja tak akan membalas pesan jika pesan berbau seperti itu.
Sekarang Farhan faham, calon istrinya tidak menyukai keromantisan dalam chatting melainkan suka mengatakan langsung di depan orangnya.
"Kamu selalu menggemaskan sayang, ah... andai pernikahan nya besok. Akan ku pastikan aku akan mengurung kamu seharian."
Monolog Farhan sangat gila sudah membayangkan yang tidak-tidak.
"Ah.. kenapa aku sangat mencintaimu sayang.."
"Bee, panggilan manis sangat manis.."
Farhan sepertinya benar-benar gila. Tingkahnya seperti anak kecil saja yang mendapat mainan.
Bahkan Farhan tak menghiraukan ketukan pintu.
Daniel sangat kesal karena dari tadi tak ada sahutan dari tuannya. Sedang meeting harusnya lima belas menit lalu sudah di mulai.
Karena tak bisa menunggu lagi, Daniel masuk saja. Alangkah terkejutnya Daniel melihat tingkah tuannya. Bahkan Daniel sendiri merasa merinding melihatnya.
Bagaimana Daniel tak merinding. Farhan tersenyum-senyum sendiri sambil menatap photo Queen yang sedang tersenyum. Sesekali Farhan menciumnya.
Daniel seakan melihat sisi lain dari tuannya. Di kantor saja wajahnya sangat menyeramkan dan membuat nyali siapa saja menciut. Tapi, jika dihadapkan sama Queen. Farhan bak anak kecil saja. Bahkan melebihi anak kecil.
"Aduh, kasih tahu gak ya. Tapi, takut marah."
"Tapi tuan harus meeting yang tak bisa aku gantikan!"
Daniel terus saja bermonolog dengan kebingungannya sendiri.
Bersambung....
Jangan lupa Like, hadiah, komen dan Vote....
terimakasih....
__ADS_1