
Hari ini Queen merasa bahagia, apalagi Queen mengingat kejadian semalam. Sangat indah kalau di lupakan.
Queen tidak ke kampus, karena Queen tinggal menunggu hari wisuda saja. Queen tak sabar menunggu di mana hari dia akan menjadi nyonya Biru. Membayangkannya saja membuat Queen senyum-senyum sendiri.
Tok.. tok...
Ketukan pintu membuat Queen menyembunyikan senyumannya. Lalu beranjak dari ranjang.
Cklek..
"Maaf non mengganggu, di bawah ada nona Aielin,"
"Oh iya bi, bikinin minum saja dulu Queen nyusul,"
Queen menepuk jidatnya lupa kalau hari ini dia sudah berjanji akan mengantar Aielin belanja untuk oleh-oleh buat kedua orang tuanya di Jerman.
Dengan cepat Queen mengganti pakainnya lalu turun ke bawah.
"Stoppp!!"
Queen cepat-cepat menuruni anak tangga dan berlari kearah Aielin. Lalu menarik tangan Aielin menjauh dari dede Alam.
"Jangan pegang-pegang apalagi mencium, dia adik aku!"
Aielin mendelik mendengar ucapan keposesifan Queen pada adiknya. Bahkan dirinya tak di biarkan dekat. Hanya Queen yang tersenyum, menyapa dan sesekali mencium dede Alam. Hingga dede Alam tersenyum melihat tingkah sang kakak.
Aielin benar-benar di buat kesal oleh Queen bahkan Queen langsung menjauhkannya dari dede Alam. Padahal Aielin hanya ingin sedikit mencium dede Alam yang sudah sangat ganteng dan wangi karena habis mandi.
Dinda dan Fandi hanya bisa menggeleng melihat kelakuan putrinya yang melarang siapapun mendekati adiknya. Hanya Farhan yang bolrh yang lain, No.
"Udah jangan cemberut kaya tutut, jadi gak ke Mallnya!"
"Iya jadi!"
Queen tersenyum tipis, masa bodo dengan apa yang Aielin rasakan. Queen langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang membelah kota Jakarta yang sudah membudidaya dalam kemacetannya. Hampir tiga puluh menit Queen melajukan mobilnya santai karena terjebak macet, Akhirnya sampai juga ke Mall.
Aielin semakin mendengus melihat Queen keluar duluan bahkan tak mengajaknya. Aielin berpikir, kenapa teman masa kecilnya benar-benar berubah menyebalkan dan tak peka. Apa karena amnesia hingga teman masa kecilnya berubah lupa caranya membujuk.
"Senyum dong?"
"Hi.. hi...,"
Aielin terpaksa tersenyum lalu cemberut kembali. Aielin menarik tangan Queen menuju toko asisoris.
Ini nih yang paling Queen tak suka kalau belanja. Pasti lama pilah-pilih tapi ujung-ujungnya yang di beli cuma satu dan dua. Bagi Queen semua ini membuang-buang waktu saja.
"Aku tunggu di sana ya!"
Queen melengos pergi begitu saja sesudah izin. Padahal Aielin tak mendengarnya karena terlalu heboh sendiri.
"Ra ini bagus gak? ah yang inu saja bagus ya. Bukan-bukan ini saja!"
"Oh my good, ini bagus. Rora kamu mau pilih yang mana?"
Aielin terus saja bicara sendiri sambil kesana-kemari memilah asisoris dan sesekali mencobanya.
__ADS_1
"Ra.. Rora.. kenapa diam. Kamu suka yang ma... "
Aielin membulatkan kedua matanya menyadari kalau Queen tidak ada di belakangnya. Aielin celengak-celinguk mencari Queen di setiap sudut tapi tak menemukan.
Seketika rasa panik menghampiri Aielin. Bagaimana kalau Queen meninggalkannya. Aielin sungguh tak tahu jalan pulang bahkan keluar dari mall ini saja Aielin bingung.
Panik!
Aielin mencoba keluar dari toko asisoris mencari keberadaan Aielin. Banyak orang lalu-lalang membuat Aielin bingung dalam kepusingan. Karena Aielin tak biasa sendiri di tempat keramain.
Kecemasan menghantui Aielin, bahkan kepala Aielin mulai merasa pusing karena banyaknya orang bahkan Aielin bingung melangkah kemana. Aielin ingin menangis tapi malu hingga
Bruk...
"Awwss, "
Aielin meringis karena tubuhnya terjatuh akibat bertabrakan dengan benda keras. Bukan tembok tapi dada manusia.
"Kamu gak pa-pa?"
Tanya seseorang sambil mengulurkan tangannya. Bukannya menyambut uluran orang itu Aielin malah menangis dan itu sontak membuat Riko terkejut.
Riko yang sedang melihat-lihat dan memerhatikan bagaimana cara kerja pegawainya langsung. Tak sengaja menabrak seorang gadis yang sepertinya bukan asli indonesia.
"Sorry, I didn't mean to. I'm here to help ( Maaf, saya tak sengaja. Sini saya bantu?"
"Tidak apa-apa, saya bisa sendiri!"
Ketus Aielin langsung berdiri sambil mengusap air matanya yang sempat jatuh.
Tapi, Riko di buat aneh dengan tingkah gadis yang dia tabrak, seperti sedang mencari seseorang.
"Boleh saya tahu, sedang cari siapa nona. Sepertinya anda terpisah dari keluarga anda?"
Aielin mengalihkan pandangannya pada laki-laki yang menabraknya. Sejenak Aielin terdiam, sedikit ragu apakah dia meminta bantuan atau tidak.
"Nona?"
"Saya terpisah dari sahabat saya, saya tidak tahu letak mall in! "
Deg...
Aielin terpaku melihat senyuman manis Riko yang menperlihatkan gigi susunya. Sangat manis dan menambah kadar ketampanan Riko.
"Mari ikut saya, nona bisa lihat dari CCTV dimana teman anda berada!"
"Jangan takut, saya tidak akan macam-macam. Nona bisa berteriak bila saja berbuat kurang aja,"
Ucap Riko yang mengerti keraguan gadis yang dia tabrak.
Pada Akhirnya Aielin mengikuti langkah Riko menuju ruang CCTV.
"Selamat siang pak Riko, ada yang bisa saya bantu?"
Tanya penjaga keamanan CCTV membungkuk hormat pada Riko. Aielin yang melihat sang penjaga merasa heran kenapa bisa hormat seperti itu. Aielin bisa menyimpulkan bahwa Riko mempunyai jabatan tinggi tentang Mall ini.
__ADS_1
"Nona ini mau mencari sahabatnya, katanya tadi terpisah. Bisa tolong bantu carikan pak? "
"Baik pak, silahkan nona duduk di sini. Sebelumnya tapi nona berada di mana?"
Tanya sang penjaga CCTV pada Aielin yang sudah duduk di sebuah kursi sedangkan Riko berdiri saja di belakang.
"Toko Asisoris pak!"
"Baik!"
Sang penjaga CCTV langsung menunjukan CCTV bagian itu. Aielin dengan pokus melihat semuanya.
"Itu pak sahabat saya, dia keluar dari toko!"
Tunjuk Aielin pada Queen yang berjalan santai meninggalkannya. Riko sedikit terkejut ternyata orang yang Aielin cari adalah bosnya.
"Kita lihat kemana teman nona pergi..,"
Terlihat Queen berjalan keluar dari toko perhiasan menuju sebuah tempat minuman. Lalu Queen duduk santai di sana.
"Oh ya Tuhan, dia begitu enak duduk disana sedang aku mencarinya. Sangat menyebalkan. Tunggu-tunggu, mau kemana lagi dia."
Aielin terus mempokuskan matanya melihat Queen berjalan kearah lift, ternyata Queen sedang membantu nenek-nenek yang akan turun eskalator. Hingga Queen duduk di loby sambil memainkan ponselnya.
Drett...
Ponsel Aielin berbunyi, dengan cepat Aielin melihatnya ternyata Queen meneleponnya.
"Udah selesai belum, cepat kita pulang. Aku menunggu di loby. Lima belas menit harus segera turun!"
Tut...
"Oh ya ampun harusnya aku yang marah, kenapa Queen yang jadi Marah-marah. Anak itu, ah... sial.. "
Aielin terus saja menggerutu kesal dengan apa yang Queen lakukan. Bahkan Queen mematikan langsung sambungan teleponnya tanpa memberi kesempatan Aielin marah.
Riko mengulum senyum melihat kekesalan Aielin begitupun penjaga CCTV. Bagi Riko itu sudah biasa, tapi bagi Aielin itu sangatlah menyebalkan.
"Terimakasih pak, sudah membantu saya.. Kalau begitu saya permisi,"
Aielin langsung pergi begitu saja sesudah mengucapkan kata terimakasih. Tak lama Aielin datang kembali membuat Riko menautkan kedua alisnya.
"Apa ada yang ketinggalan? "
"Bukan! em.. bo.. bolehkan anda mengantarkan saya ke loby saya tak tahu jalannya!"
"Hah!"
"Sungguh gadis unik! "
Bersambung....
Jangan lupa Like, Hadiah, Komen, Vote
Terimakasih...
__ADS_1