Gadis Dingin

Gadis Dingin
Bab 37 Nasib Sam!


__ADS_3

Mentari bersinar di upuk timur menemani aktifitas berbagaimanusia di kalangan dunia. Begitupun dengan suasana keluarga Dinda dan Murni. Mereka sejenak mengistirahatkan hati dan pikirannya untuk tidak memikirkan apa yang terjadi. Biarlah semuanya berjalan semestinya, tanpa ada rasa sakit dan kekecewaan lagi.


Murni menggenggam tangan Angga dengan lembut, entah sampai kapan Angga akan bangun. Ini sudah hampir satu bulan paska kecelakaan tapi belum ada tanda-tanda Angga bangun dari komanya. Murni dengan setia menemani sang suami di temani Jek.


"Mas, sudah satu bulan kamu masih betah tidur. Aku mohon bangunlah.., aku butuh kamu untuk menyatukan anak-anak..,"


Lilir Murni menyeka air mata yang menetes keluar. Sesekali Murni mencium punggung tangan sang suami berharap Angga bangun dan mendengar suaranya. Namun sampai sekarang Angga tak merespon sama sekali.


Murni juga tak lelah membujuk Queen menjenguk Angga berharap ada keajaiban setelah Queen berbicara pada Angga.


Jek menatap sendu sang mama yang setiap hari tak menjaga kesehatannya karena sibuk mengurus sang papa. Jek tidak tega melihat sang mama setiap hari menitikan air mata menunggu sang papa sadar.


Apalagi Queen belum juga mau melihat keadaan sang ayah, walau dalam hati Queen Queen menginginkannya. Tapi, rasa kecewa pada sang ayah masih ada, bukan menyalahkan ayahnya selingkuh atau tidak pada dasarnya Queen sudah mengetahui kebenarannya. Tak ada yang disalahkan antara sang mama, ayah dan Murni karena semuanya adalah korban.


Queen hanya kecewa kenapa ayahnya tak menjelaskan sama sekali tentang semuanya. Harusnya sebagai laki-laki dan ayah bagi dua anaknya kenapa sang ayah begitu pengecut. Hanya kerena takut anak-anak nya membenci naytanya memang sudah terjadi.


Bujuk rayu sudah Dinda lakukan untuk membujuk sang putri menjenguk ayahnya. Tapi Queen masih memegang teguh pendiriannya. Tidak akan pernah menemui sang ayah, jika sang ayah tak menemuinya terlebih dahulu, walau Queen tak tahu sampai kapan sang ayah koma.


Dinda pasrah tak bisa memaksa sang putri, Dinda faham apa yang sang putri rasakan.


Dinda berusaha mengiklaskan takdir yang mempermainkan dirinya. Dinda sedang berusaha menata hati untuk bangkit dari rasa sakit. Berusaha menerima apa yang terjadi pada dirinya. Bahkan sekarang hubungan Dinda dan Murni kembali layaknya adik dan kakak walau sedikit ada benteng di anatara mereka.

__ADS_1


Bagaimana dengan Jek dan Queen, apakah mereka sudah bisa menerima jika mereka paktanya adik dan kakak.


Jawabannya tetap sama, Jek dan Queen belum bisa menerima status mereka. Bahkan ego mereka masih besar untuk saling mengalah.


Jika keadaan Queen, Dinda, Jek dan Murni merenungi apa yang terjadi pada dirinya sendiri dengan keadaan yang membelit satu sama lain. Berbeda dengan Farhan yang begitu bahagia bisa berkumpul dengan sang mama walau ada rasa sedih jika sang papa benar-benar tak selamat dari kecelakaan itu. Karena waktu itu sang papa menyelamatkan nyawa istrinya sebelum ledakan itu terjadi.


Farhan terus saja memeluk sang mama tanpa mau melepas seakan Farhan takut sang mama akan pergi. Wanita yang begitu Farhan cintai dan rindukan sekarang ada di sampingnya.


...---...


Sedangkan di balik jeruji besi Sam menggeram sakit, marah, dendam bercampur jadi satu. Akhir-akhir ini Sam sulit menggerakan kakinya. Kadang satu kadang dua-duanya kakinya terasa kaku dan kram.


"Ah..., brengsek akan ku balas kaliannn!!! "


"Brisik!!! "


Bentak salah satu tahanan yang satu sel dengan Sam.


"Apa, hah. Dasar manusia bodoh! "


Umpat Sam kesal menatap tajam pada tahanan yang berbadan kurus dengan rambut gondrong. Bahkan Sam menatap jijik laki-laki kurus itu.

__ADS_1


"Akan ku bunuh kau, "


"Aku harus keluar bagai manapun caranya!"


"Ah...,"


Sam menjerit ketika kakinya di injak oleh pemuda berbadan kurus itu karena kelas dengan teriakan Sam yang mengganggunya.


"Lepas sialan, dasar menjijikan.., "


"Singkirkan kaki mu.., "


Bugh... bugh...


Laki-laki berbadan kurus malah meninju Sam karena kesal dengan pak tua sombong ini. Sendari awal mulutnya tak bisa diam.


Begitulah sekarang ke adaan Sam di penjara. Harus menghadapi para teman satu selnya yang akan memukul Sam jika Sam menggangu mereka.


Bersambung.....


Jangan lupa like dan Vote....

__ADS_1


__ADS_2