Gadis Dingin

Gadis Dingin
Bab 7 Keadaan Queen


__ADS_3

Tok.... tok...


Ketokan pintu membuat Queen kesal, Queen tak mau di ganggu, ia malah mencocokan kapas kedalam dua telinganya dan membungkus tubuhnya dengan selimut.


Queen malas sekali tak mau pergi ke kampus atau kemana pun. Entah kenapa dengan suasana hatinya, kenapa ada kesesakan yang tak bisa Queen ungkapkan.


Tingkah Queen justru membuat Dinda, sang mamah kewatir. Takut-takut anaknya pingsan,karna dari tadi Queen tak membuka pintu.


Apalagi dari kemaren sikap Queen berbeda membuat Dinda bingung.


”Suruh pak Tono dobrak aja kali?”


Batin Dinda, Dinda pun memanggil-manggil bi Nina.


”Bibi …. bibi …. bibi …,”


“Iya, Nyonya.”


Jawab bik Nina berteriak di lantai bawah.


“Bi cepat panggil pak Tono kesini, ”


Teriak Dinda, belum sempat bi Nina menaiki tangga mendengar permintaan nyonyanya,terpaksa bi Nina berbalik arah memanggil sang suami.


“Pak di panggil nyonya kedalam,”


Pak Tono merasa ada yang memanggil langsung menghentikan pekerjaan nya yang sedang menyuci mobil. Bi Nina dan pak Tono pun bergegas keatas.


“Ada apa nyonya panggil saya?"


Ucap pak Tono ketika sudah ada di hadapan nyonyanya.


"Tolong dobrak pintu kamar Queen pak, dari tadi saya gedor-gedor tak ada sahutan dari Queen. Saya takut Queen kenapa-napa.Soalnya dari kemaren muka Queen pucet banget saya takut terjadi apa-apa??”


Ujar Dinda nyerocos tanpa jeda, tak luput dengan nada kewatir.


Pak Tono mengangguk mengerti, pak Tono membuat kuda-kuda untuk mendobrak pintu kamar Queen.


"Ssatu … , dua ahhhhhh….”


Ucap pak Tono.


Bruk ...


Bukannya mendobrak pintu Pak Tono malah terjungkal karena Queen membuka pintu tepat waktu membuat pak Tono meringis.


Queen kesal mendengar kegaduhan didepan pintu kamarnya dan Queen terlojat kaget mendengar mamahnya meminta pak Tono mendobrak pntu dengan gesit Queen berlari.


Alhasil yah begitu, pak Tono jadi sakit pinggang dan dengan kecerobohan Queen pak Tono tidak bisa mengantar Dinda pergi kekantor. Sebagai gantinya Dinda menyuruh Queen mengantarnya.


”Niatnya gue gak mau keluar ujung-ujungnya keluar juga”


Batin Queen kesal, ”Tapi gak pa-pa yang penting gue gak ngampus” batinnya lagi.


Dengan santai Queen membawa mobil mamahnya sambil menengok kanan-kiri,rasanya Queen merasa kaku sudah lama tak mengemudi.


“Mau mampir gak?”


Tanya Dinda dimana mobil sudah terparkir di depan kantor.


Lama Queen berpikir, ikut masuk atau enggak.”Kalau gak masuk pasti mamah suruh kuliah ah …, aku gak mau!” Batin Queen menggeleng-gelengkan kepala, membuat dinda mengerutkan kening bingung.


“Nak mau ikut masuk gak?”


Tanya Dinda lagi langsung di angguki oleh Queen tanda setuju membuat Dinda tersenyum.


Queen berjalan di belakang Dinda, para karyawan membungkuk hormat.

__ADS_1


Baru pertama kali Queen memasuki kantor sang mamah. Ternyata besar sekali, ada dua puluh lantai dan sang mamah berada dilantai ke Sembilan belas.


“Kalau lantai terakhir ruangan siapa, mah?”


Tanya Queen, ketika sudah duduk disalah satu kursi ruangan sang mamah. Queen sangat kagum dengan ruangan sang mamah.


“Ruangan komisaris,”


Jawab Dinda, membuat Queen menyerngit bingung.


"Maksudnya!! "


Ujar Queen tidak mengerti hingga mata Queen tertuju pada papan nama di depan meja sang mamah.


"Direktur utama!"


“Mamah hanya sebagai direktur disini bukan pemilik kantor ini. Karena pemiliknya, ya komisaris!” Jelas Dinda enteng.


“Terus siapa nama pemilik asli perusahaan ini, mah?"


“Fa …”


Tok.. tok...


Suara ketokan pintu membuat Dinda tidak jadi melanjutkan kalimatnya.


"Masuk ..” malah itu yang Dinda ucapkan.Orang yang mengetuk pintu pun masuk.


" Maaf buk mengganggu, saya mau memberi tahu sekitar sepuluh menit lagi ada rapat dengan perusahaan A ” ucap sekertaris.


“Tolong kamu siapkan berkasnya, Fan,"


“Baik buk, kalau gitu saya permisi.”


Queen memerhatikan orang yang berbicara dengan mamahnya, sepertiny Queen pernah melihatnya.


”Ternyata dia sekertaris mamah,” batin Queen mengingat-ngingat.


Queen hanya mengangguk saja. Lama Queen menunggu kedatangan sang mamah tetapi tak kunjung datang membuat Queen bosan. Queen pun memutuskan keluar ruangan sang mamah sambil melihat-lihat bangunan perusahaan tempat mamahnya bekerja.


____


“Emmmz ...,”


Gumaman kecil terdengar dari mulut Queen yang baru bangun tidur.


Badan nya sangat lelah sekali dari tadi melihat-lihat bangunan perusahaan sang mamah. Bahkan kakinya sedikit pegal, membuat Queen terpaksa balik lagi keruangan sang mamah dan tidur di kursi yang pertama kali Queen duduki.


Krukk … krukkk


Cacing-cacing didalam perut Queen domo meminta di isi. Queen melirik meja kerja sang mamah.


"Apa mamah belum beres rapatnya?"


Batin Queen kesal, Queen pun terpaksa harus keluar mencari restoran terdekat, supaya cacing-cacing didalam perutnya tidak demo lagi.


Queen menyipitkan matanya seperti melihat seseorang yang Queen kenal. Sedang makan,sesekali tersenyum. Perlahan Queen mendekat kearah orang itu memastikan.


Deg ...


Rasanya dada Queen sakit sekali, sekedar melangkah pun sangat sulit. Tak terasa cairan bening keluar tampa izin membasahi pipi Queen.


Seseorang itu berbalik karena mersa ada yang memerhatikan dirinya. Mata mereka bertemu saling mengunci satu sama lain.


“Maaf mba, mau duduk dimana?”


Tanya salah satu pelayan restoran menarik kesadaran Queen. Dengan kasar Queen menghapus air mata yang keluar dan berlari meninggalkan restoran itu tampa satu kata pun. Membuat sang pelayan melonggo.

__ADS_1


Queen terus berlari tampa arah hingga sampai di taman tempat Queen membagi kesedihannya. Entah berapa kilo jarak yang Queen tempuh. Queen duduk di salah satu kursi dibawah pohon besar yang mengarah ke danau.


“Hiks … hiks …, Kenapa tega lakuin ini sama Queen dan mamah. Ayah jahat, ah ….”


Teriak Queen kecewa, marah, dan kesala bercampur jadi satu.


”Ayah tega ninggalin Queen demi wanita itu. Sakit yah, dada Queen sakit hiks … hiks ...


Apa ini yang selalu mamah rasakan ketika melihat Ayah selingkuh. Ah ... Queen benci ayah, benci!!!”


Teriak Queen menggebu, hatinya benar-benar sakit.


Apa yang Angga lakukan, bahagia diatas penderitaan Dinda dan Queen.


Sungguh hati anak dan istri yang mana melihat suami dan sebagai ayah membuangnya.


”Queen benci benci Ayah. Ah … mamah, ”


Jerit Queen dadanya semakin sesak dan sakit mengingat betapa bahagianya sang ayah duduk bersama selingkuhannya. Queen memukul-mukul dada seakan ingin menghilangkan rasa sesak yang kian sakit.


Hingga sebuah tangan menarik Queen kedalam pelukan hangatnya.


“Tenang, Nak. Mamah ada di sini, tenang!”


Ucap Dinda mempererat pelukannya dimana tubuh Queen semakin terguncang hingga Queen tak sadarkan diri.


Dinda begitu panik melihat ada darah yang keluar dari hidung Queen. Dengan cepat seseorang yang sendari tadi berdiri langsung menggendong Queen.


Dinda terus mundr-mandir didepan ruangan UGD menunggu dokter keluar memeriksa keadaan Queen. Rasa cemas mengerogoti hati Dinda takut terjadi apa-apa dengan sang putri.


Cklek...


Melihat dokter keluar, Dinda langsung berlalri menghampiri dokter.


“Gimana dok, keadaan anak saya?” Tanya Dinda cemas.


“Alhamdulillah keadaan nya baik-baik saja, anak ibu hanya kelelahan. Tapi ...,”


“Kenapa, dok? "


Cemas Dinda takut terjadi apa-apa.


“Bisa ibu ikut keruangan saya,”


Ucap dokter menjadi serius, Dinda hanya mengangguk setuju dan mengikuti langkah dokter.


“Silahkan buk, ” ucap dokter mempersilahkan Dinda duduk.


“Maaf sebelumnya, apa anak ibu dulu di tinggal oleh orang yang disayangnginya?" Tanya dokter hati-hati dan langsung diangguki oleh Dinda.


“Begini buk, anak ibu mengalami post-traumatic stress disorder atau PTSD adalah kondisi mental dimana anak ibu mengalami


serangan panik yang memicu oleh pengalaman trauma di masa lalu. Mengalami teromatis adalah hal berat bagi siapa pun,contohnya seperti mengalami peristiwa yang menyakitkan, atau mengejutkan. Seperti kecelakaan atau indsiden yang lainnya yang benar-benar membuat hatinya anak ibu hancur.”


Deg …


Dinda diam membeku mendengar apa yang sang dokter jelaskan. Sungguh, Dinda tak tahu harus bereaksi apa. Kabar ini sangat membuat Dinda shok.


“Terus apa yang harus saya lakukan, dok?”


Tanya Dinda gemetar menahan isakan tangis.


“Dengan cara Exposure Therapy dan Prosedur tambahan seperti menceritakan memory trauma yang dialami anak ibu, disertai pengaturan nafas. Supaya, anak ibu bisa mengendalikan emosi yang ada di dalam dirinya. Tetapi kalau saya lihat sepertinya anak ibu mulai mengingat kembali ingatannya, hanya saja anak ibu belum bisa mengendalikan emosi yang ada. Sehingga membuat bayangan ingatan itu terputus-putus ” ucap dokter panjang lebar.


Dinda mengerti dengan apa yang dokter jelaskan. Ada rasa senang bercampur sedih,senang mendengar anaknya sedikit-sedikit mengingat ingatannya kembali. Sedih karena anaknya mempunyai trauma.


"Maaf kan mamah nak, mamah sudah membuat kamu seperti ini”

__ADS_1


Batin Dinda. Tidak dapat di pungkiri hati Dinda jauh lebih sakit melihat keadaan anaknya seperti itu.


Ibu mana yang akan tega melihat anaknya di jona terlemahnya. Sedangkan sumber kekuatannya malah meninggalkan.


__ADS_2