
Jam selalu berputar pada putranya, begitupun hari telah berganti dengan hari-hari lainnya. Banyak kejadian yang sudah setiap manusia lewati di muka bumi ini.
Begitu pun dengan sebuah kabar yang entah harus sedih atau senang mendengar ya.
Setelah selesai acara resepsi pernikahan Daniel dan Alexa yang di lakukan di Jerman. Farhan mendapat kabar bahwa Sam sudah meninggal dunia tepat jam tujuh pagi.
Farhan menyuruh anak buahnya yang ada di Indonesia langsung menguburkannya. Farhan masih berbaik hati tidak membuang mayatnya ke kandang buaya.
Farhan ingin kematian Sam adalah akhir dari dendam ini. Farhan ingin hidup damai bersama sang istri dan mama Adelia.
Semoga tak ada Sam Sam lain yang mengusik hidupnya nanti.
Queen sendari tadi mencari keberadaan suaminya tapi tak ada. Entah kemana perginya Farhan. Tadi katanya hanya menelepon sebentar, tapi sampai sekarang belum juga kembali. Padahal Queen masih sangat mengantuk, tapi Queen tak bisa tidur jika tidak dalam pelukan suaminya.
Jam sudah menunjukan pukul empat subuh waktu Jerman. Suasana sudah nampak sepi karena mungkin yang lain juga kelelahan.
"Bee ..."
Queen memanggil nama sang suami dengan tangan memegang pinggangnya. Perut Queen sudah membuncit, apalagi usia kandungannya sudah mau memasuki bulan ke lima.
"Bee ..."
Sekali lagi Queen memanggil nama sang suami. Tapi tak ada sahutan, membuat Queen kesal sendiri. Apalagi Queen belum tahu Selak beluk Mansion Uncle Smith yang sangat luas ini.
"Sayang!"
Queen langsung berbalik melihat suaminya yang baru masuk dari arah belakang.
"Kenapa tidak tidur lagi?"
"Ih .. bagaimana Rora bisa tidur, bee gak ada di samping Roda!"
Ketus Queen sambil mengerucutkan bibirnya lucu.
"Maaf, ya sudah. Yuk kita kembali ke kamar,"
Ajak Farhan yang merasa bersalah sudah terlalu lama meninggalkan sang istri. Queen bergelayut manja pada lengan sang suami, dengan sesekali menguap.
Farhan membantu sang istri berbaring, semakin bertambahnya usia kandungan Queen. Membuat Queen sedikit kesusahan tidur menyamping. Apalagi perut Queen begitu besar seperti usia tujuh bulan saja.
"Katanya ngantuk, kenapa masih terjaga?!"
"Gak tahu bee,"
"Boy, jangan ngajak bunda bergadang ya. Kasihan bunda, sekarang tidur ya."
Farhan mengajak ngobrol anaknya sambil mengelus-elus perut buncit sang istri. Perlakuan Farhan sungguh berhasil membuat Queen tidur kembali. Bahkan Farhan sampai mendengar dengkuran halus sang istri.
Farhan tersenyum melihat istrinya sudah terlelap. Di tatapnya dalam wajah chubby sang istri. Yang membuat Queen semakin imut saja. Farhan masih tak menyangka kalau Queen tak pernah menunda kehamilannya. Justru Queen yang menginginkan segera hamil.
Farhan pikir dia yang akan banyak bersabar menghadapi kerasnya sang istri. Namun, nyatanya Farhan salah. Yang ada, dia di buat terkagum-kagum dengan kedewasaan sang istri di setiap harinya yang semakin meningkat.
__ADS_1
Gadis dinginnya nyatanya sebentar lagi akan menjadi seorang ibu di usianya yang menginjak dua puluh dua tahun. Dan, Usia Farhan Tiga puluh tahun. Mereka akan menjadi orang tua baru.
Mungkin sebelum Queen melahirkan, Melati yang terlebih dulu melahirkan.
Karena memang, usia kandungan Queen dan Melati beda tiga bulan. Dan, sekarang Melati sedang menunggu bulannya dimana dia akan melahirkan.
Keluarga Prayoga dan Mangku Alam memang tidak ikut ke Jerman. Mengingat Melati sebentar lagi akan melahirkan. Mama Murni dan papa Angga ingin mendampinginya. Begitupun mama Dinda tak bisa karena baby Alam yang sedang kurang sehat.
Walau mereka tak ikut, tapi doa mereka sampai ke sana.
Jika Queen dan Farhan masih tidur dalam suasana pagi. Berbeda waktu di Indonesia yang sudah menunjukan jam sembilan pagi. Karena memang, waktu Indonesia lima jam lebih cepat dari Jerman.
Entah kenapa hari ini Jek tak mau berangkat ke kantor. Pikirannya terus tertuju pada sang istri. Apalagi dokter bilang, bahwa Melati kemungkinan akan melahirkan dalam waktu dekat.
"Akhh ..."
"Astagfirullah non kenapa?"
Bik Iteung terkejut mendengar teriakan majikannya yang mengeram sakit sambil memegang perutnya.
"Bik perut Mel sakit,"
"Ya Allah non, kayanya non mau melahirkan!"
Pekik Bik Iteung buru-buru memegang tangan Melati agar tidak jatuh.
"Bik tolong telepon tuan, ponsel Mel ada di atas meja,"
"Non, nama kontak tuan siapa?"
"I-Im ..."
"Sayang ..."
Teriak Jek langsung berlari ke arah sang istri. Rasanya jantung Jek mau copot saja melihat keadaan sang istri yang menahan sakit.
Pantas saja hati Jek tak tenang dan ingin putar arah. Ternyata sang istri memang sedang membutuhkan dirinya.
Jek langsung mengangkat sang istri dengan perasaan cemas, takut menjadi satu. Apalagi sang istri terus meringis kesakitan.
"Sayang bertahanlah, Abang yakin adek pasti kuat!"
Jek menenangkan sang istri walau di sendiri sebenarnya merasa jantungan.
Bik Iteung mencoba menenangkan majikannya yang terus meringis. Bik Iteung memang tidak pernah merasakan bagaimana perjuangan melahirkan. Tapi, dia pernah merasakan sakitnya ke guguran. Mungkin sakitnya hampir sama.
Sesudah sampai di rumah sakit, Melati langsung di bawa ke ruang persalinan. Dengan Jek di perbolehkan masuk agar menemani pasien.
Sedangkan Bik Iteung mencoba mengabari kedua orang tua majikannya lewat SMS saja, karena Bik Iteung tak tahu cara menelepon.
"Masss ..."
__ADS_1
Uhuk ...
Teriak Murni membuat Angga langsung tersedak kopi.
"Ada apa!"
"Menantu kita mau melahirkan! cepat mas kita harus ke rumah sakit!!!"
Angga langsung berdiri menghampiri sang istri yang bersiap.
Mereka berdua langsung menuju rumah sakit yang Bik Iteung kasih tahu.
Rasa cemas, bahagia, khawatir menghantui mama Murni dan Angga. Mereka berdua terus berdoa untuk keselamatan dan kelancaran persalinan sang menantu.
Murni menarik tangan Angga menuju ruang persalinan. Rasanya mereka tak sabar untuk menyambut cucu pertama mereka.
"Bik .."
Bik Iteung langsung berdiri menyambut kedatangan kedua orang tua majikannya.
"Bagaimana Bik, apa persalinannya sudah selesai?"
"Belum buk!"
Murni semakin cemas sambil melihat pintu yang tertutup rapat. Dimana menantunya sedang mempertaruhkan antara hidup dan mati untuk bisa mengeluarkan Malaika kecil.
"Bik, apa bibi sudah memberi tahu besan saya?"
"Belum buk, saya kurang tahu nomornya!"
Mama Murni langsung menelepon besannya.
Oek ... oek ...
Sang dokter bernafas lega ketika sang baby sudah berhasil keluar.
Sedang Melati terlihat lemas dengan nafas memburu dengan tangan masih menjambak rambut sang suami.
Jek menitikkan air mata mendengar suara anaknya. Walau penampilan Jek tidak di katakan baik-baik saja. Karena Murni menjambak, mencakar dan menggigit bahunya. Jek seakan lupa akan rasa sakitnya ketika mendengar suara tangis anaknya.
"Terimakasih dek, terimakasih ..."
Ucap Jek bergetar sambil mencium puncak kepala sang istri. Rasanya Jek tak bisa menggambarkan betapa bahagianya dirinya. Dia benar-benar sudah menjadi seorang ayah.
"Baby nya perempuan, silahkan di adzani pak?"
Dengan gemetar Jek menggendong baby mungil yang sudah di bersihkan sama suster.
Sungguh kebahagiaan mereka terasa lengkap nan sempurna atas kelahiran sang baby.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa, Like, Hadiah Komen dan Vote Terimakasih....