Gadis Dingin

Gadis Dingin
Bab 78 Kakak!


__ADS_3

Esok hari, sudah merasa baik-baik saja, Dinda di perbolehkan pulang. Dan, itu membuat Queen bahagia. Jadi Queen tak perlu menahan suara untuk mengajak ngobrol adiknya. Kalau di rumah sakit semua terbatas, jangan terlalu berisik. Walaupun Dinda memang berada di ruang VIP tapi tetap saja jangan sampai ada kegaduhan.


Sedangkan Angga dan Murni pulang terlebih dahulu dari semalam. Apalagi besoknya Angga ada meeting. Di sepanjang jalan Angga terus menggenggam tangan sang istri bahkan sampai tak sadar Murni kesakitan.


Murni menatap Angga dengan kening mengerut lalu melihat tangannya yang di genggam erat oleh Angga.


"Mas..,"


"Iya!"


"Kamu menyakitiku!"


Citt...


Angga menghentikan mobilnya mendadak membuat Murni terkejut. Untung Murni memakai sabuk pengaman kalau tidak mungkin keningnya terjedot.


"Mass.., kenapa malah berhenti mendadak!"


"Tadi kamu bilang aku menyakiti kamu, apa tadi ada sikapmu yang membuat kamu tak nyaman?"


"Bukan! tapi tanganku yang sakit kamu genggam,"


Sontak saja Angga melepaskan genggaman tangannya. Dan, benar saja, tangan putih Murni sedikit memerah akibat genggaman Angga.


"Maafkan aku sayang, aku tak sengaja!"


"Emang apa yang kamu pikirkan mas, sampai tak sadar seperti itu?"


Angga terdiam ragu untuk mengatakan keinginannya. Angga takut sang istri tak menyetujuinya. Dan, bahkan marah dengan apa yang Angga pikirkan saat ini.


"Mas, ko malah diam. Kenapa?"


"Janji kamu gak bakalan marah?"


Murni mengerutkan keningnya ketika mendengar ucapan sang suami dan bahkan Murni memicingkan matanya menatap curiga. Apa yang akan sang suami lakukan.


"Iya, tapi apa dulu. Kalau masuk akal aku gak bakalan marah atau..,"


"Aku ingin Jek segera menikah! "


"Apa!!!"

__ADS_1


Murni melotot dengan apa yang sang suami katakan. Ada angin dari mana kenapa sang suami menginginkan anak mereka menikah. Apa kepala Angga terjedot pintu rumah sakit atau kerasukan. Kenapa tiba-tiba menginginkan Jek menikah, bagi laki-laki usia Jek baru menginjak dua puluh tiga tahun itu masih kecil belum matang. Apalagi Murni tahu bagimana watak anaknya, apa Jek mau terjerat dalam komitment yang harus merubah ruang gerak Jek.


"Jangan bercanda mas, aku gak suka!"


"Sayang, aku gak bercanda. Aku serius, aku ingin Jek segera menikah!"


"Apa alasan kuat yang mengharuskan aku setuju akan keinginan kamu mas?"


"Sayang, lihatlah aku sudah tua. Usiaku sudah menginjak ke lima puluh dua. Sebelum aku memberikan perusahanaan pada Jek sepenuhnya aku ingin Jek menikah dulu, setidaknya Jek kalau sudah mempunyai istri dia tidak akan keluyuran, Jek pasti langsung pulang kerumah. Apalagi Queen sebentar lagi akan menikah, mungkin aku tak bisa memberi dia apa-apa karena Queen sendiri menolak. Tapi aku sebagai ayah akan memberikan haknya. Saham yang ada di kampus akan aku berikan pada Queen, walau aku tahu saham Farhan di sana lebih besar dari punyaku. Setidaknya Queen dan Farhan bisa mengelola bersama dan.. "


Angga sengaja menjeda ucapannya, Angga menatap sang istri penuh cinta. Angga meraih tangan sang istri lalu menciumnya.


"Aku ingin menghabiskan sisa usiaku bersama kamu di rumah. Menebus waktu yang dulu hilang, dengan bermain bersama cucu-cucuku nanti,"


"Apa benar begitu, tak ada niat lain!"


"Niat apa, gak ada sayang! kamu benar, Queen tidak butuh harta aku yang dia butuhkan waktu aku. Jadi sebelum Queen menikah aku ingin menghabiskan waktu dengannya sebelum waktu Queen di curi Farhan,"


Murni tersenyum melihat perubahan sang suami. Keras kepalanya runtuk ketika Angga bertengkar hebat dengan Murni waktu itu. Angga di situ berpikir dan merenungi apa yang sudah dia lakukan.


"Untuk itu mas ingin Jek menikah lalu tinggal satu rumah sama kita. Jadi, walaupun nanti aku gak bisa ketemu Queen ada istri Jek yang bisa mengobati rindu aku."


"Tapi, siapa yang mau menikah dengan Jek mas, wong kamu tahu Jek tak pernah dekat dengan satupun wanita!"


"Jangan mas, aku tak mau menekan Jek, kita hanya menyampaikan saja keinginan kita. Biar dia sendiri yang mencari tapi, jika Jek tak bisa baru kita jodohkan dia!"


"Ide bagus sayang, ya sudah kita pulang. Besok kita bicara sama Jek,"


Murni hanya mengangguk saja, Murni bahagia melihat ego sang suami perlahan menghilang. Ini yang selalu Murni inginkan dari dulu. Tapi, nyatanya Tuhan mengabulkan sekarang.


...---...


Sepulang dari rumah sakit Queen tak henti-hentinya berceloteh. Bahkan Queen tak sedikitpun meninggalkan sang adik. Rasa gemas membuat Queen tak mau beranjak sedikitpun. Bahkan Queen sampai meninggalkan sarapan paginya.


Fandi dan Dinda hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Queen. Dinda tak menyangka Queen akan se antusias itu menyambut kehadiran adiknya.


"Mah, Dad. Kenapa dede Alam gak ada satupun yang mirip sama Queen. Bahkan wajahnya mirip semua sama daddy, hanya bibirnya saja ke mama, sangat seksi."


Dinda terkekeh mendengar ucapan sang anak. Yah gak bakalan sama orang yang mencetaknya juga berbeda. Kecuali Queen sama Jek ada sedikit kemiripan karena yang mencetaknya sama walau keluar dari ibu berbeda.


"Kan yang mencetaknya daddy, yah pasti beda tuan putri. Tapi, katanya wajah baby itu akan ubah-ubah. Mungkin, kalau sudah besar Alam akan ada kemiripan sama kakak."

__ADS_1


"Kakak!"


"Ya, mulai hari ini tuan putri daddy harus di panggil kakak, jangan Queen lagi. Dan, Tuan putri harus panggil diri sendiri dengan sebutan kakak,"


"Kakak!"


Queen tersenyum sendiri, rasanya begitu geli terdengar di telinga Queen. Kakak! oh mimpi apa Queen semalam. Ternyata Queen benar-benar sudah menjadi seorang kakak.


"Tidak buruk,"


Fandi tersenyum melihat anak sambungnya yang bertingkah konyol. Emang sebutan kakak itu buruk. Queen ada-ada saja, gadis ini setiap hari bikin kagum saja.


Ea.. ea...


"Uluh... uluh... Dede Alam haus ya, sini kakak gendong kasih ke mama,"


"Terimakasih kak, "


Dinda meraih putranya dari gendongan Queen dengan hati-hati. Dinda masih tak menyangka kalau dirinya benar-benar masih di kasih kesempatan untuk bisa mempunyai malaikat kecil.


"Kalau begitu kakak, ke kamar dulu ya,"


Sesudah pamit Queen langsung keluar dari kamar sang mama menuju lantai atas dimana kamar Queen berada.


Rasanya Queen bahagia, keinginannya sudah tercapai. Queen merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil menatap langit-langit. Queen merogoh ponselnya karena teringat akan calon suaminya. Semalam Farhan, Mama Adelia dan Aielin pulang terlebih dahulu bareng sama ayah Angga dan Murni.


"Sayang maaf, aku tak bisa menjemput kamu pulang. Ada urusan di kantor yang harus aku selesaikan."


"Hati-hati di jalan, dan ingat! ponsel jangan di matikan. Mentang-mentang ada dede Alam aku di sisihkan."


"Kalau kita sudah menikah aku tak izinkan kamu lama-lama sama dede Alam. Aku cemburu, waktu kamu jadi kurang sama aku."


"Aku berangkat ke kantor, I love You! "


Queen tersenyum membaca deretan pesan dari Farhan. Dasar kekanak-kanakan. Queen memang mematikan ponselnya dari semalam dan tadipun pas waktu pulang sang daddy yang memberi tahu Queen kalau Farhan gak jadi menjemput. Memang benar, ada belasan panggilan masuk dari Farhan muncul. Tapi, itulah Queen, kalau sudah bersama keluarga Queen akan selalu mematikan teleponnya. Karena bagi Queen, ketika sama keluarga maka tak ada urusan lain.


"I Love You Too,"


Bersambung...


Jangan Lupa Like, Hadiah Komen dan Vote...

__ADS_1


Terimakasih....


__ADS_2