Gadis Dingin

Gadis Dingin
Bab 64 Sebuah Janji!


__ADS_3

Dari kejadian itu Queen memutuskan untuk membatalkan niatnya. Bukan karena tak kuat keyakinan Queen melainkan Queen terlanjur kecewa dengan sang ayah. Bahkan Queen semakin dingin, bukan Queen tak ingin dekat dengan Angga tapi ucapan Angga yang kadang mengores hati Queen hingga membuat Queen menjauh.


Padahal jauh dari lubuk hati yang paling dalam, Queen menginginkan pelukan hangat sang ayah, merasa di perhatikan dan di sayangi. Tapi, semua itu hanya sia-sia. Bahkan Angga belum mengerti dan paham bagaimana sikap dan karakter Queen.


Bukankah sang ayah orang pertama yang mengerti hati putrinya tapi kenapa Angga tak mengerti sama sekali keinginan Queen.


Hingga tiba saatnya dimana hari keberangkatan Farhan. Queen tetap bungkam menatap datar. Bukan karena Queen sudah rela berjauhan melainkan kedatangan sang ayah yang tersenyum seakan bahagia akan tak adanya pernikahan.


Seolah Angga bangga karena putrinya patuh pada dirinya. Berkali-kali Murni hanya bisa membuang nafas kasar melihat perubahan sikap Angga yang mengekang Queen. Seolah menunjukan pada dunia kalau Queen anaknya dan dia berhak menentukan masa depan Queen. Angga seolah ingin Queen patuh dan menuruti perintahnya.


Sikap cemburu Angga pada Fandi membuat Angga bertindak sesuka hatinya hingga tanpa sadar Angga sudah membuat putrinya semakin jauh dari dirinya.


Bukan salah Queen yang pada akhirnya tidak merasa nyaman dengan ayahnya sendiri karena Angga tak berusaha mendapatkan hati Queen melainkan malah memulai pertengkaran baru.


Tidak bisakah Angga belajar dari kesalahannya yang lalu. Tapi, kenapa malah mengulang kesalahan yang sama.


Queen masuk kedalam mobil Farhan bersama mama Adelia. Angga yang melihat putrinya masuk kedalam mobil Farhan merasa sedikit kecewa. Tadinya Angga ingin Queen bareng bersama dirinya. Entah siapa yang meminta Angga mengantarkan Farhan ke bandara. Itu hanya kemauan Angga sendiri bahkan Murni tak bisa mencegahnya.


Angga hanya takut Queen tak bisa melepaskan kepergian Farhan maka Angga orang terdepan yang akan menenangkan Queen.


Ketidak sukaan Angga pada kedekatan Queen dan Fandi membuat Angga seakan menjadi benteng untuk memisahkan mereka. Padahal, pada kenyataannya Fandi tidak ikut karena kepalanya tiba-tiba pusing dan sangat mual. Terpaksa Dinda juga tak ikut karena harus mengurus Fandi.


Sesampainya di Bandara Farhan tak pernah sekalipun melepas genggamannya ke tangan Queen. Begitupun Queen menggenggam erat tangan Farhan, Queen dan Farhan seakan tak mau saling melepaskan satu sama lain.


"Jaga diri baik-baik ya, aku pergi!"


Queen hanya diam enggan menjawab ucapan Farhan, apalagi nama Farhan Berkali-kali di panggil untuk segera masuk karena beberapa menit lagi pesawat akan terbang.


"Setidaknya berikan aku satu senyuman agar aku tenang dalam meninggalkanmu. Cuma satu tahun! aku berjanji akan pulang kurang dari waktu di tentukan!"


"Janji!"


Farhan tersenyum ketika Queen baru merespon.


"Aku, Farhan Al-biru berjanji akan pulang dalam waktu kurang dari satu tahun! aku janji!"


"Aku, Queen Aurora berjanji akan menunggu kepulangan kamu."


Cup...


Farhan mengecup kening Queen dengan lembut penuh gebuan cinta.


"Tolong jaga mama untukku?"

__ADS_1


"Ya, aku akan menjaganya!"


Farhan kini beralih memeluk sang mama, Berkali-kali Adelia mengecup wajah sang putra dengan kesedihan yang teramat.


"Jaga diri baik-baik di sana, Kalau sudah sampai kabari mama?"


"Aku pergi..,"


Adelia memeluk Queen dengan erat, sedang tangan Queen berat melepas Farhan.


"Sudah, Nak. Jangan bersedih, Farhan cuma satu tahun pergi. Nanti juga kembali,"


Adelia menatap malas pada Angga yang tak mengerti sama sekali. Queen hanya diam saja tak mau bersua, pikiran dan hati Queen sangat kacau tak mau menanggapi ucapan sang ayah yang ujung-ujungnya akan membuat Queen kesal.


"Mah, bolehkan Queen pulang sendiri, Queen mau ke suatu tempat dulu!"


"Boleh sayang, kalau begitu Mama pulang duluan,"


Pamit Adelia, tinggallah Queen masih berdiri memandang kearea lapang dimana pesawat yang Farhan tumpangi sudah lepas landas.


"Sayang, ikut ayah ke kantor. Ada sesuatu yang ayah sampaikan?"


"Maaf ayah, Queen tak bisa. Besok bagaimana, Queen hari ini harus segera pergi!"


"Mas..,"


Potong Murni menatap tajam sang suami yang benar-benar tak mengerti akan keadaan putrinya sendiri. Murni tak habis pikir dengan jalan pikiran Angga. Semenjak pulang dari Puncak sikap Angga benar-benar berubah.


"Nak, kalau mau pergi silahkan. Tante mengerti! hati-hati di jalan ya,"


"Terimakasih tante. Kalau begitu Queen pamit. "


"Kenapa kamu malah menyuruh Queen pergi!"


Kesal Angga menatap tak suka pada sang istri, untung mereka sudah ada di dalam mobil, kalau tidak pasti mereka akan menjadi bahan tontonan.


"Mas, sebenarnya ada apa dengan kamu. Apa kamu tak melihat kesedihan di mata Queen. Dia butuh sendiri, cobalah mengerti!"


"Justru aku ingin membawa Queen ke kantor supaya sedikit bisa mengalihkan pikirannya dari Farhan. Aku yakin kalau Queen di sibukan oleh pekerjaan mungkin Queen tidak terlalu memikirkan Farhan yang akan terus berujung sedih!"


"Apa mas sudah gila!"


Pekik Murni tak habis pikir dengan jalan pikiran suaminya. Kenapa bisa berpikir seperti itu, yang ada Queen akan semakin kecewa pada ayahnya sendiri.

__ADS_1


"Aku ayahnya, aku yang lebih tahu bagaimana putriku sendiri!"


Murni hanya bisa membuang nafas kasar berkali-kali. Murni sudah tak habis pikir dengan jalan pikiran suaminya. Kenapa bisa setega itu pada anaknya sendiri.


Apa salahnya, Angga ingin dekat dengan Queen. Dan, satu-satunya cara menarik Queen bekerja di kantornya dan supaya Queen juga terbiasa jika suatu saat nanti menggantikan Angga di perusahaan. Angga sudah bulat, akan menjadikan Queen pewaris kejayaannya.


Apa kabar dengan Jek!


Apa Angga tak memikirkan Jek, putrana juga.


Murni hanya diam tak mau membalas ucapan sang suami yang ujung-ujungnya akan semakin menimbulkan pertengkaran.


Sedangkan Queen berjalan menusuri trotoar jalan menuju taman dimana tempat Queen melepas penat.


Queen duduk di salah salah satu kursi tempat Queen duduk.


"Jangan menangis, pangeran akan segera kembali!"


Queen terperanjat mendengar suara yang begitu pamilar di pendengarannya.


"Adi!"


Bocah laki-laki yang bernama Adi tersenyum sambil memberikan setangkai bunga mawar pada Queen. Dengan ragu, Queen mengambilnya.


"Terimakasih,"


"Itu bukan dari Adi, Kak."


Queen mengerutkan kening mendengar ucapan polos Adi sambil duduk di samping Queen. Jika bukan dari Adi, lalu dari siapa! pikir Queen.


"Terus dari siapa?"


"Dari pangeran! sebelum berangkat, pangeran menyuruh Adi memberikan bunga ini. Kata pangeran, tuan putri pasti akan datang kesini,"


Queen menyunggingkan senyum manisnya mendengar ucapan Adi. Queen tahu kemana arah pembicaraan Adi.


Ternyata Farhan sudah mempersiapkan semunya. Rasa sedih perlahan berkurang menjadi debaran yang tak bisa Queen jabarkan. Dengan Farhan Queen merasa menjadi wanita feminim. Bahkan tanpa sadar Queen Berkali-kali mencium aroma bunga mawar itu dengan bibir yang terus tersenyum.


Pangeran benar! tuan putri kembali tersenyum ketika mendapatkan bunga ini.


Batin Adi, bocah kecil yang Queen tak tahu asal muasal Adi.


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa Like dan Vote....


__ADS_2