Gadis Dingin

Gadis Dingin
101 Mama ....


__ADS_3

"Bee, nanti kamu jangan bersikap seperti itu ya pada anak kita nanti?"


Entah kenapa Queen jadi merasa takut sendiri jika suatu saat nanti Farhan membatasi ruang gerak anaknya.


Penjelasan uncle Smit membuat semua orang tercengang. Begitupun Queen, karena Queen pernah berada di posisi seperti itu. Tapi, Alexa mungkin lebih parah dari pada Queen.


Seorang ayah memang menginginkan yang terbaik untuk putrinya. Apapun akan dia lakukan agar putrinya bahagia. Tapi, kerap kali sering lupa, karena terlalu sayang dan takutnya hingga ketakutan itu menjadi bumerang sendiri pada anaknya.


Itulah yang di lakukan uncle Smit, Dia yang meminta Daniel untuk menjauhi putrinya karena Daniel tak pantas buat anaknya. Berbagai hinaan dan cacian uncle Smit berikan hingga Daniel memilih pergi. Uncle Smit melakukan itu hanya ingin melihat keseriusan Daniel dalam mencintai putrinya. Apalagi Alexa sedang sakit, uncle Smit hanya ingin yang bersanding dengan putrinya laki-laki yang benar-benar mencintai Alexa apa adanya. Seperti cinta uncle Smit pada Alexa.


Tapi, selama ini Daniel tak menunjukan keseriusan nya hingga uncle Smit menganggap bahwa Daniel laki-laki pengecut yang tak pantas untuk putrinya. Baru di coba begitu saja sudah menyerah. Dan, itu membuat uncle Smit meminta Alexa untuk melupakan Daniel karena menganggap Daniel tak benar-benar mencintainya.


"Sayang, mungkin cara uncle Smit salah. Namun begitulah bentuk ketakutan seorang ayah jika melepas putri mereka. Banyak ketakutan yang seorang ayah rasakan. Takut laki-laki itu tak mencintai putrinya seperti cintanya. Takut laki-laki menyakiti putrinya, sedang sang ayah selalu memberi kasih sayang. Dan, banyak ketakutan lagi."


"Takut boleh, tapi jangan membuat ketakutan kita menjadi kesakitan pada anak kita nanti. Aku ingin, menjadi ibu, teman, sahabat dan guru untuk anak kita."


"Sayang memang sudah siap untuk punya anak?"


"Di bilang siap sih enggak, di bilang tak siapapun enggak. Tapi, kalau pun aku di percaya punya, maka aku akan sangat bahagia."


Ucap Queen mantap, tatapannya menyiratkan rona bahagia yang tak bisa di jabarkan. Bahkan Queen tersenyum sendiri seolah sedang membayangkan dia menjadi ibu di usinya yang masih terbilang muda.


Farhan memeluk pinggang sang istri dengan mesra.


Farhan dan Queen memang sudah pulang, begitupun mama Adelia. Karena sekarang sudah ada keluarga Alexa. Paling sesekali Queen menemani mama Adelia ke rumah sakit, Farhan tidak bisa mengantar karena dia harus pergi ke kantor. Banyak pekerjaan yang merindukan dirinya.


"Bagaimana kalau kita sekarang mencetaknya, agar baby cepat ada?"


Plakkk ...


Queen memukul pelan dada sang suami, dengan wajah memerah. Memang, ketika kejadian Alexa dan banyaknya pekerjaan di kantor membuat Farhan dan Queen jarang menghabiskan waktu berdua.


Bahkan Farhan harus lembur dan pulang larut ketika Queen sudah tidur. Hari ini mereka bisa menghabiskan waktu berdua karena Farhan berusaha menyelesaikan pekerjaannya agar bisa menghabiskan waktu bersama sang istri.


"Mau ya ..."


"Kalau tak mau!"


"Maka aku akan memaksa!"


"Maka lakukanlah..."


Cup ...

__ADS_1


Farhan tersenyum ketika mendapat lampu hijau dari sang istri. Bahkan Queen sendiri yang memulai menciumnya. Hanya sebatas kecupan di hidungnya tapi itu sukses membuat Farhan tersengat.


Entah siapa yang memulai, dua manusia itu mencari sebuah kenikmatan yang tak bisa mereka jabarkan. Mengungkap gebuan cinta yang selalu mekar di setiap harinya.


Tok .. tok ...


"Sitt..."


Farhan berdecak kesal ketika pintu kamarnya terus di ketuk membuat Farhan terpaksa menghentikan aksinya. Bahkan wajah Farhan sudah memerah menahan hasrat yang sudah melambung.


"Sayang.."


"Tahan dulu bee, itu pasti mama. Aku buka dulu,"


"Sayang,"


"Bee.."


Huh...


Farhan membuang nafas kasar harus mengalah. Padahal ini sudah satu langkah lagi dia bisa menuju kenikmatan itu.


Queen hanya menggeleng melihat wajah suaminya yang di tekuk. Dengan cepat Queen membenahi pakainya sendiri. Untung belum terbuka semua jadi gampang bagi Queen memakainya kembali.


Cklek...


"Makan malam dulu nak, mana Biru?"


"Baik mah, Biru lagi mandi. Nanti Queen nyusul,"


"Baiklah, mama tunggu di meja makan ya,"


Queen mengangguk sambil tersenyum, lalu Queen menutup kembali pintu kamarnya.


Terdengar suara gemercik air, itu pasti sang suami yang sedang mandi merendam hasratnya. Queen merasa kasihan, tapi mau bagaimana lagi. Nasib jika satu rumah dengan mertua, pasti ada gangguannya. Tak bisa bebas melakukan apapun, harus lihat sikon dan kondisi.


"Sudah jangan cemberut, kasihan mama sedang nunggu di meja makan. Ayo?"


"Senyum dulu, masa nanti mama lihat muka Bee di tekuk seperti ini. Senyum dong.."


"Hi..,"


Queen malah tertawa melihat tingkah sang suami. Baru kali ini melihat Farhan bertingkah seperti anak kecil. Sangat imut dan menggemaskan.

__ADS_1


Tanpa Queen sadari, tawa Queen sampai terdengar ke ruang makan. Membuat mama Adelia mengalihkan tatapannya pada putra dan menantunya yang sedang turun tangga sambil bercanda.


Ya, terlihat oleh mama Adelia anak dan menantunya sedang bercanda. Padahal kenyataannya tidak. Bahkan mama Adelia sampai ikut tersenyum melihatnya.


Queen mengulum senyum bahkan rasanya Queen ingin tertawa terbahak-bahak. Queen berusaha bersikap romantis berharap hati suaminya dingin kembali.


Bahkan Queen makan sepiring berdua sambil menyuapi Farhan.


Melihat pasangan muda di depannya membuat mama Adelia jadi teringat akan mendiang suaminya. Dulu, dia juga seperti itu. Selalu makan sepiring berdua dan mama Adelia akan menyuapi suaminya. Kadang suaminya yang menyuapi mama Adelia. Tanpa terasa mama Adelia menitikkan air mata.


Sekuat tenaga berusaha ikhlas akan kepergian sang suami. Namun, nyatanya hatinya masih merasa sakit. Tapi, hebatnya selama ini mama Adelia bisa menyembunyikan kesaktiannya. Karena tak mau membuat putranya ke watir.


Buru-buru mama Adelia menghapus air matanya karena tak mau anak dan menantunya melihat dia bersedih. Mama Adelia kembali tersenyum ketika menantunya menatap dirinya.


"Mama sudah selesai, mama ke kamar duluan. Kalian lanjutkan makannya!"


Farhan hanya mengangguk saja, tapi tidak dengan Queen. Queen seakan menangkap sesuatu yang aneh. Entah perasaan Queen atau apa. Tapi, sepertinya mama Adelia sedang tak baik-baik saja.


"Bee.."


"Apa!"


"Aku merasa mama sedang sedih!"


Farhan menghentikan kunyahannya lalu menatap intens sang istri.


"Perasaan kamu saja sayang,"


"Tidak bee, aku yakin mama sedang mencoba menutupi sesuatu dari kita."


Yakin Queen, Dari rasa sakit, kecewa, marah membuat Queen belajar kuat dan tahu bagaimana memandang orang lain terlihat baik-baik saja atau tidak. Karena Queen pernah berada di posisi seperti itu, mengendalikan sebuah kesedihan yang sangat menyakitkan.


"Coba bee, ke kamar mama. Hibur dia, aku yakin mama sedang ada sesuatu!"


Farhan menuruti permintaan sang istri, apalagi melihat tatapan sang istri yang memelas.


Tanpa mengetuk pintu Farhan membuka kamar sang mama. Karena memang seperti biasa Farhan sudah biasa masuk tanpa mengetuk pintu.


Deg...


Hati Farhan seperti di hempit batu besar, sangat sakit dan sesak melihat pemandangan di depannya.


Mama...

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa Like, Hadiah, Komen, dan Vote Terimakasih....


__ADS_2