Gadis Dingin

Gadis Dingin
Bab 75 Boleh!


__ADS_3

Tak henti-hentinya Queen menangis di pelukan Farhan. Bahkan Queen memukul-mukul dada bidang Farhan. Rasa kesal, marah, bahagia bercampur jadi satu. Queen seakan bermimpi, Farhan melamarnya tepat di hari ulang tahunya yang ke 21. Dimana semua keluarga ada di sana, bahkan Angga sekarang mendukung penuh dan mengizinkan sang putri menikah. Kebahagiaan yang tak bisa mereka gambarkan dengan kata.


Semua keluarga memberikan ruang pada sepasang kekasih yang sedang menangis, menenangkan dan menjelaskan semuanya.


"Sudah jangan menangis, maafkan aku jika keterlaluan!"


Queen malah semakin terisak dalam pelukan Farhan. Queen benar-benar kesal dengan apa yang Farhan lakukan. Tapi, rencana Farhan juga tak sia-sia bahkan sampai Queen menangis begini.


Farhan bukan merasa bersalah tapi malah bersorak dalam hati karena bisa membuat Queen terbakar api cemburu seperti itu.


Bahkan semua keluargapun ikut terkejut melihat reaksi Queen yang di luar dugaan. Mereka pikir, gadis dingin seperti Queen tidak akan marah. Malahan marah Queen begitu mengerikan. Bahkan kue ulang tahun Queen buang dan bergegas pergi tapi tangannya langsung di cekal oleh Farhan.


Farhan melamar Queen tepat di hari ulang tahunnya dan itu benar-benar membuat Queen menahan nafas.


Belum reda rasa marahnya kini Farhan memberi kejutan yang tak terduga. Dan, jahatnya semua orang malah ikut mengerjainya berpura-pura tak tahu apa-apa.


Pantas saja kemaren mama Dinda memaksa Queen membuat kue dan sekalian membuat kue untuk mama Adelia. Padahal itu juga sebaian dari rencana.


"Aku kesel.. kesel.., kalian jahat..,"


Ucap Queen sesegukan bahkan sampai ingusnya keluar dan di bersihkan pakai baju Farhan. Farhan hanya diam dengan tingkah jorok Queen, untung sayang kalau tidak sudah Farhan dorong.


"Aku pikir kamu akan mengamuk, tapi melihat kamu meradang saja sudah membuat aku senang. Berarti rencanaku berhasil!"


"Dasar..,"


Lilir Queen memukul dada bidang Farhan yang malah terkekeh.


Kedua inshan itu saling berpelukan kembali. Rasanya bagi mereka belum cukup melepas rindu selama delapan bulan LDR.


"Aku sangat mencintai kamu,"


"Aku lebih mencintai kamu,"


Mereka saling tatap satu sama lain, menyelami netra bening penuh cinta. Farhan menghapus lelehan bening yang masih keluar dari pelupuk mata Queen. Lalu Farhan menarik wajah Queen hingga mendarat sebuah kecupan di kening. Queen dengan repleks memejamkan kedua matanya menikmati kelembutan bibir Queen yang menempel di keningnya. Cukup lama Farhan mengecup Queen perlahan Farhan melepasnya dengan gerakan mata Queen kembali terbuka.


"Apa kamu sudah siap menikah dengan Farhan Al-biru?"


"Ya, Queen Aurora Prayoga siap menikah dengan Farhan Al-biru!"


"Waktu wisuda?"


"Iya!"


"Sekarang? "


"Boleh,"


Ha.. ha.. ha...


Mereka berdua malah tertawa kembali berpelukan. Kini pelukan sekarang semakin erat seperti mereka tak mau lepas. Berkali-kali Farhan mencium puncak kepala Queen.

__ADS_1


Queen mendongkakkan kepalanya guna melihat wajah Farhan. Bahkan wajah mereka begitu dekat.


"Lalu siapa gadis bernama Aielin itu?"


Farhan tersenyum mendengar pertanyaan calon istrinya. Apa benar Queen melupakan Aielin. Jika iya, berarti ingatan Queen tentang masa kecilnya belum teringat semuanya. Masih ada kepingan pazel yang tertinggal hingga Queen melupakannya.


"Bahkan dia memanggil kamu sayang, aku pikir kalian memang punya hubungan .."


"Ya, aku dan Aielin ada hubungan!"


Queen melepaskan pelukannya tapi Farhan malah memeluknya erat. Bahkan mata Queen sudah melotot menatap tajam Farhan yang malah tersenyum.


"Aku memang punya hubungan, bahkan hubungan ini tap bisa di putus!"


"Kau!!"


"Aielin Alexsandria Diego adik sepupuhku, putri dari tante Maria Sandria dan Marseleno Diego, adik mama Adelia!"


"Sepupuh!"


Ulang Queen seakan tak percaya, bahkan Queen berusaha mencari kebohongan dari Farhan tapi Queen memang tak menemukannya.


"Apa kamu tak mengingatnya? "


"Siapa!"


"Aielin!"


"Apa dulu aku mengenalnya?"


"Kamu mengenalnya bahkan sangat, bahkan dulu kamu sering ngerjain Aielin hingga dia sampai menangis,"


"Apa benar aku seperti itu!"


"Lebih parah, bahkan kamu dulu tak bisa menyebut nama Aielin dengan jelas. Kamu akan memanggil Aielin dengan sebutan Elin Linlin,"


Linlin!


Queen mengerutkan kedua alisnya seakan pernah mendengar nama itu, sebutan itu. Queen berusaha mengingat masa kecilnya kembali. Apa benar Queen berteman dengan gadis itu.


Tapi Queen tidak mengingatnya. sama sekali, Queen benar-benar lupa. Seakan potongan pazzel itu susah Queen rangkai.


"Rapunzel! dulu kamu memanggil Aielin dengan Rapunzel. Karena kamu tak bisa menyebut nama Aielin dengan benar maka kamu akan memanggil Aielin dengan Rapunzel karena rambut Aielin pirang, "


"Rapunzel, Linlin, aku tak asing dengan nama itu. Tapi kenapa aku sulit mengingatnya. Bahkan kepalaku jadi pusing,"


Keluh Queen mencoba mengingat-ngingat apa benar Queen berteman baik dengan Aielin waktu kecil. Farhan mengusap lembut kepala Queen.


"Sudah jangan di paksa, nanti kepala kamu tambah sakit! "


"Perlahan saja coba mengingatnya, jangan di paksa. Aku tak mau kamu kesakitan,"

__ADS_1


"Hm,"


Hanya gumaman yang mampuh Queen keluarkan karena memang kepala Queen mulai merasa sakit tetkala di paksa mengingat.


"Apa kamu benar-benar tak mengingatku!"


Seru Aielin berjalan menghampiri Queen dan Farhan. Queen melepaskan diri dari pelukan Farhan. Queen memicingkan kedua matanya menatap lekat ke arah wajah Aielin yang sudah berada di hadapannya. Mengingat-ngingat apa benar dulu Queen berteman dengan gadis menyebalkan ini.


"Tidak! "


Aielin menghembuskan nafas kasar, ternyata Queen benar-benar tak mengingatnya. Pantas saja Queen sombong ketika bertemu di kampus. Bahkan terkesan dingin.


"Coba kamu lihat gelang ini, mungkin kamu mengingatnya?"


Queen menatap gelang kain yang Aielin pakai, tangan Queen telurur memegangnya. Bahkan mata Queen sampai menyiput dengan kening yang mengerut.


"Awwss.., "


Queen meringis memegangi kepalanya yang terasa berdenyut. Dengan sigap Farhan menahan tubuh Queen supaya tidak ambruk.


"Sudah jangan di paksa, Aielin jangan dulu banyak bertanya. Kakak yakin Queen pasti akan mengingat kamu!"


Farhan menggendong Queen yang kesakitan. Semua orang terkejut ketika melihat Farhan menggendong Queen.


"Nak, kenapa dengan Rora. Apa yang terjadi?"


"Rora berusaha mengingat Aielin tante, jadi seperti ini,"


"Cepat bawa ke kamar,"


Farhan melangkah menaiki anak tangga guna membawa Queen ke kamarnya. Tangan Dinda di cengkal oleh Fandi ketika akan mengikuti Farhan.


"Mas.., "


"Kamu lagi hamil besar sayang, biarkan Biru menjaga Queen."


Fandi hanya takut melihat sang istdi naik tangga dengan keadaan perut besar. Membayangkannya saja membuat Fandi meringis. Dinda lupa kalau selama hamil sang suami melarangnya naik tangga. Fandi hanya takut terjadi hal-hal yang tak di inginkan.


Bukankah mencegah lebih baik dari pada ngeyel.


"Maafkan Aielin tante, sudah membuat Queen begitu,"


"Tidak nak, Queen memang seperti itu jika di paksa mengingat masa lalunya!"


Di kamar...


Perlahan Farhan merebahkan tubuh lemah Queen dengan hati-hati. Terlihat jelas kening Queen masih mengerut seakan Queen sedang kesakitan di bawah alam sadarnya. Farhan mengelus kepala Queen, seketika kerutan di kening Queen menghilang, seakan Queen mulai tenang.


"Tidurlah sayang, jangan banyak pikiran! "


Cup...

__ADS_1


Bersambung....


Jangan lupa Like, Hadiah, Komen, Dan Vote...


__ADS_2