
Sepanjang jalan mama Adelia tetap bungkam sambil menatap Queen yang pokus menatap kedepan.
Mama Adelia ingin bertanya, tapi tidak berani. Apalagi mama Adelia melihat Queen seperti menahan amarah. Terdengar dari nafasnya yang tidak teratur.
"Kenapa mah, apa ada yang ingin mama tanyakan?"
Ucap Queen tiba-tiba, Queen sangat tahu, sendari tadi mama Adelia memerhatikannya dengan raut wajah pelik.
Mama Adelia yang mendapat pertanyaan seperti itu malah terkejut. Queen seakan bisa membaca pikirannya.
"Kalau boleh mama tahu, Rora seperti dekat dengan Riko. Bukankah Riko putra Gery adik dari pak Lukman?"
"Riko teman Rora mah,"
"Setahu mama Rora tidak punya teman laki-laki! di kampus saja Rora selalu sendiri?"
"Teman dari geng Motor,"
Mama Adelia hanya ber'Oh'riah saja. Karena mama Adelia menyangka Queen dekat dengan anak geng motor karena Farhan. Padahal Queen mempunyai geng motor sendiri, bahkan ketuanya.
Bagaimana reaksi mama Adelia jika tahu Queen suka balapan. Entahlah, Queen juga tidak tahu. Tapi, Queen bersyukur karena mama Adelia tidak banyak bertanya. Mungkin karena Riko sepupuh Daniel, asisten Farhan. Jadi mama Adelia tidak banyak bertanya.
"Maafkan Rora mah, Gara-gara Rora hari kita berantakan!"
Sesal Queen merasa bersalah, Mama Adelia tersenyum mendengar ucapan Queen. Hari ini mama Adelia tak menyangka bisa melihat sisi lain Queen. Pantas saja Farhan, putranya tergila-gila pada Queen. Ternyata ada keistimewahan di balik sifat dingin Queen.
"Gak apa-apa sayang, santai saja. Bagaimana kalau kita ganti makan saja, mama laper..,"
Queen mengangguk tanda setuju, sang supirpun mencari lestoran akan perintah mama Adelia.
Bukan maksud Queen menyembunyikan siapa Queen sebenarnya. Hanya saja Queen tak mau membuat mama terkejut jika tahu kalau calon mantu mama seorang anak motor, bahkan ketuanya.
Batin Queen merasa bersalah sambil menatap mama Adelia yang sedang makan. Sebenarnya Queen ingin menanyakan sesuatu tentang Farhan pada mama Adelia. Apa ada sesuatu yang Farhan sembunyikan atau tidak.
Tentang, suara yang Queen dengar saat vidio call dengan Farhan. Queen tidak tuli, Queen mendengar jelas ada suara perempuan menanyakan dimana baju dirinya di simpan.
"Mah, apa mama tahu tentang sesuatu?"
"Maksudnya!"
Queen bingung sendiri, apa Queen harus bertanya atau tidak. Tapi, Queen sangat penasaran dan ingin memastikan sesuatu.
"Emm.., ap.. apa Biru tinggal berdua di sana?"
Uhuk...
Mama Adelia tersedak karena terkejut mendengar pertanyaan Queen. Mama Adelia jadi gugup sendiri di tatap intens oleh Queen. Tapi, dengan cepat mama Adelia merubah mimik wajahnya dengan senyum di bibirnya.
__ADS_1
"Farhan kan tinggal sendiri di sana, jikapun berdua, paling Daniel kesana jika memang mengharuskan kesana!"
"Emang kenapa sayang, apa Biru tak memberi tahu?"
"Ah, enggak mah, Rora hanya tanya saja,"
Gak mungkin kalau aku salah dengar, telingaku gak bermasalah. Jikapun itu Daniel, masa suaranya berubah jadi perempuan. Dan, Biru juga kenapa tiba-tiba mematikan telepon. Ini aneh..
Ah.. lebih baik aku periksa saja telingaku, takut memang telingaku bermasalah.
"Hey.. sayang kenapa bengong..,"
Mama Adelia melambaikan tangan di depan wajah Queen yang malah bengong.
"Eh, maaf mah, Ro.. rora gak pa-pa!"
Mama Adelia dan Queen kembali menikmati makannya. Sehabis makan mereka langsung pulang karena waktu sudah sore.
Apalagi Queen memang tidak biasa jalan-jalan terlalu lama sampai lupa waktu. Kecuali kalau di markas maka Queen tak akan kenal waktu.
Sesampai di rumah, Queen merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil menatap langit-langit. Tangan Queen terulur memegang kalung yang melingkar indah di lehernya.
Queen teringat akan pertanyaannya pada mama Adelia pas waktu di lestoran. Tingkah mama Adelia sedikit berbeda, bahkan terlihat gugup. Entah ini perasaan Queen atau apa, baru kali ini Queen melihat gelagat aneh dari Farhan.
Biasanya Farhan tak akan langsung mematikan telepon walaupun ada Daniel dan siapapun. Tetap akan tersambung dan Queen akan mendengarkan apa yang sedang Farhan bahas.
Sesudah mandi, seperti biasa Queen langsung memakai baju tidur supaya nanti Queen gak ribet harus ganti lagi.
Tok.. tok...
Ketukan pintu membuat Queen langsung beranjak dari meja belajar.
"Makan malam, tuan dan nyonya sudah nungguin?"
"Oh iya bi, bibi duluan turun nanti Queen nyusul,"
Saking asiknya baca buku, Queen sampai lupa waktu hingga sudah malam. Jika saja bi Nani tak memanggilnya untuk makan, mungkin Queen tak tahu ini sudah malam.
Queen langsung duduk di samping sang mama, lalu mereka makan dengan hidmah.
"Nak, sebentar lagi kamu lulus kuliah. Sudah ada rencana, mau lanjut S2 atau bagaimana?"
Tanya Dinda pada putrinya, dimana mereka sudah makan langsung bersantai di ruang TV.
"Kalau lanjut kayanya gak deh,"
"Terus!"
__ADS_1
" Kan Queen sudah janji akan menikah jika sudah lulus,"
"Apa gak ada cita-cita yang mau kamu capai dulu?"
Queen tertegun mendengar kalimat ajaib yang sang mama ucapkan. Pasalnya baru sekarang sang mama bicara tentang sebuah keinginan Queen.
Dinda tak tahu, kalau Queen sudah mewujudkan cita-cita nya. Dan, tak ada lagi yang harus Queen raih lagi, karena semuanya sudah Queen genggam.
"Sebentar lagi Queen sarjana Hukum, apa gak mau kerja dulu?"
Kini Fandi yang bicara, Fandi hanya tak ingin putri sambungnya memutuskan sesuatu terlalu buru-buru. Apalagi perjalanan Queen masih panjang.
"Kayanya gak deh mah, apa mama sama daddy keberatan akan keputusan Queen?"
"Tidak sayang, tidak sama sekali. Mama akan mendukung apapun keinginan Queen. Tapi, ayah menginginkan Queen membantu di perusahaan,"
"Queen bersedia membantu tapi jangan paksa Queen menggantikan posisi ayah!"
"Kenapa sayang, ini juga hak kamu?"
"Queen tak butuh jabatan itu mah, yang Queen butuhkan hanya waktu ayah!"
Fandi menggenggam tangan sang istri, mengisyaratkan jangan bertanya lagi. Yang mengungkit tentang itu, yang ada mood Queen akan langsung berubah.
"Ya sudah, nanti mama yang akan bicara sama ayah jika ayah terus memaksa kamu,"
"Tidak perlu mah, Queen hanya ingin kesadaran ayah saja!"
"Bagaimana dengan kabar Biru, apa dia akan cepat pulang?"
Queen langsung mengeleng karena tak tahu apakah Farhan akan pulang cepat atau tidak. Dinda yang melihat putrinya langsung murung. Faham apa yang Queen rasakan. Menahan rindu itu tak enak.
Niat Dinda mengalihkan pembicaraan Angga, justru malah membuat Queen semakin murung. Tapi, Dinda tidak berani bertanya lagi takut malah membuat sang putri semakin murung.
"Ya sudah, kamu istirahat. Besok kan masuk kuliah, jangan sampai telat,"
"Iya mah. Kalau begitu Queen ke atas duluan. Night Ma, Dad."
Cup...
Setelah memberikan kecupan selamat malam pada mama dan daddy. Queen langsung beranjak ke kamarnya.
Bersambung....
Jangan lupa Komen, Like, Hadiah dan Vote
Terimakasih...
__ADS_1