Gadis Dingin

Gadis Dingin
Bab 88 Gugup!


__ADS_3

Aielin masih saja menahan kesal dengan apa yang Daniel lakukan. Kenapa sang kakak Alexa sampai bisa mencintai laki-laki kaku seperri itu.


Walau pesawat dari tadi sudah terbang membawa Aielin ke langit Jerman. Tetap saja pikiran Aielin entah kemana bahkan Aielin tak memerhatikan suara peringatan kalau seluruh penumpang di harapkan tenang. Ada sedikit cuaca buruk yang harus di lewati.


"Ahh...,"


Ailin terkejut sampai menjerit memegang sesuatu karena tiba-tiba ada sedikit goncangan. Hanya tiga menit, lalu Aielin kembali tenang.


Deg..


Alangkah terkejutnya Aielin ketika melihat tangannya melukai tangan seseorang yang duduk di sebelahnya. Aielin pikir dia memegang pegangan di samping kursi nyatanya Aielin dari tadi tak sadar kalau yang dia pegang tangan seseorang.


Aielin merutuki dirinya sendiri kenapa bisa seceroboh ini. Karena terlalu banyak melamun hingga ketika ada goncangan Aielin terkejut.


Aielin perlahan menengok ke arah samping dengan wajah gugup. Seketika mata Aielin membola melihat pemilik tangan yang Aielin lukai oleh kuku jarinya.


"Kamu!"


Orang yang duduk di samping Aielin hanya tersenyum tipis menanggapi reaksi Aielin. Lagi-lagi Aielin di buat terpana oleh senyuman itu. Senyuman yang mengingatkan Aielin pada seseorang.


"Ma.. maafkan saya, saya telah melukai anda,"


Gugup Aielin melihat ada sedikit darah yang keluar dari kulit tangan orang itu. Aielin dengan cepat mengeluarkan sesuatu dari saku celanannya. Sebuah plaster yang sering Aielin bawa kemanapun dia pergi. Aielin membantu memasangkannya karena merasa bersalah.


"Sekali lagi saya minta maaf, saya sudah membuat tangan anda terluka!"


"Santai saja, ini luka kecil!"


"Riko! siapa nama kamu?"


Aielin tertegun mendengar nama itu, nama seseorang di masa lalu Aielin.


"Riko,"


"Ai-Aielin!"


Entah kenapa Aielin begitu gugup di tatap seperti itu. Entah gugup karena malu sudah membuat orang lain terluka atau yang lain.


"Ai?"


"Hah!!"


Aielin terperanjat ketika Riko memanggil dirinya dengan sebutan Ai. Panggilan yang sudah lama menghilang. Tak ada satupun orang yang memanggil Aielin dengan sebutan Ai. Hanya ada satu orang, yaitu bocah kecil di masa lalu Aielin yang sampai sekarang masih tertahta di hatinya.


"Kenapa! apa ada yang salah. Bolehkan saya memanggil anda Ai. Lebih simpel?"


Aielin hanya mengangguk kaku, dengan ekpresi entah.Tanpa Aielin sadari Riko tersenyum tipis sangat tipis hingga Aielin tak melihatnya.


Pikiran Aielin entah kemana, yang jelas Aielin masih memutar memorinya waktu kecil. Aielin selalu suka menggangu bocak kecil dingin tanpa ekpresi yang selalu menolak jika dia dekati. Bahkan Aielin selalu mencuri ciumannya dan itu akan membuat bocah laki-laki itu marah.

__ADS_1


"*Kenapa kamu selalu menggangguku, pergi sana!"


"Jadi anak gadis jangan centil, aku gak suka!"


Cup..


"Kau, selalu saja menciumku tanpa permisi. Jika kamu laki-laki sudah aku pukul."


"Pergi sana aku tak suka gadis centil dan manja!"


"Aku yang pergi saja, aku tak menyukaimu jangan ikuti aku. Pergi atau aku tak akan pernah main ke sini lagi*!"


"Iko..,"


Tanpa sadar Aielin melilirkan nama itu. Nama panggilan kesayangan Aielin pada bocah dingin itu. Semenjak kejadian itu, bocah dingin itu benar-benar tak datang lagi ke mansion Al-biru. Bahkan sampai Aielin pindah ke Jerman pun, bocah itu hilang bak di telan bumi.


"Ai, Apa kamu tadi memanggil namaku?"


"Hah, ah.. ti.. tidak!"


...---...


"Dek, buat wisuda sudah di persiapkan belum?"


"Alhamdulillah sudah bang! tinggal nyiapkan diri saja he.."


Kini hubungan Melati dan Jek semakin melekat. Bahkan Melati sudah tak segan atau malu-malu lagi mengungkapkan perasaannya.


Rasa lelah Jek bekerja seharian kini sirna ketika melihat Melati selalu menyambut kepulangan dirinya dengan penampilan yang begitu seksi. Padahal Melati jika keluar rumah dia akan memakai baju kedodoran.


Jek mendudukan melati di atas pangkuannya dengan Melati melingkarkan tangannya di leher kokoh Jek.


"Sukurlah kalau sudah selesai persiapannya, berarti tinggal nunggu minggu depan adek wisuda,"


"Iya!"


Jek membelai pipi Melati, rasanya Jek seakan mimpi sudah menikah dan menjadi seorang suami. Kehadiran Melati benar-benar merubah Jek. Dari sikap, perilaku dan semuanya.


"Kenapa adek selalu membuat abang jatuh cinta di setiap harinya?"


"Masa sih,"


"Beneran!"


Jek menyentuh perut rata sang istri. Pernikahan mereka memang baru menginjak satu bulan. Tapi, entah kenapa Jek ingin Melati segera hamil. Jek merasa sudah siap menjadi seorang ayah.


"Dek, abang ingin ada malaikat kecil di sini?"


"Apa abang sudah siap menjadi papa?"

__ADS_1


Jek hanya mengangguk sambil mengelus perut rata sang istri. Melati tersenyum, memang selama ini Melati tak meminum obat pencekah kehamilan. Karena Melati juga ingin segera mengandung, ingin merasakan bagaimana menjadi seorang ibu yang berjuang mempertaruhkan nyawanya.


"Apa adek tak keberatan jika hamil di usia muda?"


"Tidak sama sekali bang, justru adek juga ingin secepatnya merasakan bagaimana hamil dan menjadi seorang ibu!"


"Terimakasih dek, abang berharap malaikat kecil segera hadir di sini?"


"Amin,"


Melati merasa geli ketika sang suami terus menciumi perut ratanya. Jek mendongkak dengan mata sayunya menatap sang istri penuh puja. Melati faham dengan tatapan itu, tatapan yang menginginkan dirinya.


"Tahan dulu ya bang, tanggung bentar lagi isya. Apalagi kita belum makan malam,"


"Baiklah,"


Melati terkekeh melihat wajah muram sang suami. Melati beranjak dari pangkuan Jek menuju dapur guna mempersiapkan makan malam. Tepatnya untuk mengisi tenaga agara Melati kuat melayani sang suami.


Sebisa mungkin Melati berusaha menjadi istri yang baik dan penurut. Melati tak mau rumah tangga sang ibu dia juga alami. Untuk itu, Melati akan banyak memberikan cinta dan kasih sayang untuk Jek supaya Jek gak akan pernah berpaling darinya.


Melati tersenyum ketika sudah selesai menyiapkan hidangan makan malannya. Melati masuk ke dalam kamar guna memanggil sang suami untuk makan.


Glek...


Melati menelan ludahnya melihat sang suami baru selesai mandi. Hanya ada kain putih saja yang melilit di pinggangnya. Memperlihatkan perut roti-roti sobek. Jika begini caranya apa Melati akan kuat. Godaan di depan matanya.


"Kenapa dek, kok lihatnya gitu?"


"An.. anu, adek mau bilang makan malam sudah jadi!"


"Ya sudah, abang pakai baju dulu!"


Melati hanya mengangguk dan langsung keluar. Nafas Melati tak teratur, sungguh kenapa Melati bisa berpantasi liar seperti itu.


Melati mencoba menormalkan detak jantungnya. Lalu berjalan kearah meja makan menunggu sang suami di sana.


Tak lama Jek datang langsung duduk di samping sang istri. Dengan cekatan Melati mengambilkan nasi dan lauk pauk untuk sang suami.


"Agak lebih banyak dek,"


Melati menurut saja mengambilkan lebih porsi sang suami.


"Sini duduk di pangkuan abang, kita makan sepiring berdua!"


Bluss...


Bersambung...


Jangan lupa Like, komen, hadiah dan Vote

__ADS_1


terimakasih...


__ADS_2