
Satu
Dua
Lari ….
Ibu dan anak itu terus berlari saling mengejar satu sama lain. Dua-duanya tak mau terkalahkan.
Keringat sudah bercucuran antara keduanya,Queen tertinggal jauh dari sang mamah. Bagaimana tidak Queen tidak kalah kalau lawannya pernah juara satu lomba lari tingkat perovinsi. Jadi wajar Queen kewalahan mengejar mamahnya. Nafas Queen sudah tidak teratur, bahkan Queen mulai lelah hingga
Awsss...
Pekik Queen tersungkur ke torotol jalan ketika ada anak-kecil yang sedang berlarian tak sengaja mendorong Queen karena Queen menghalangi jalannya.
“Kamu gak pa-pa?”
Deg...
Suara berat seseorang mengagetkan Queen,membuat Queen langsung berbalik dan berusaha berdiri.
"Awss... ,"
Quewn kembali meringis ketika lututnya berdarah apalagi memang Queen menggunakan celana bahan pendek.
“Lutut dan tanganmu berdarah,”
Queen di buat bengong dengan orang itu membopong Queen ke salah satu kursi taman dan mendudukan Queen dan anehnya Queen menurut saja.
“Sini tangan kamu,”
Entah kenapa Queen langsung menurut dan memperlihatkan lukanya membuat orang itu mengulum senyum.
"Awhh ..,”
Ringis Queen, tangannya terasa perih dan berkedut. Seseorang itu dengan telaten membasuh luka yang ada di tangn dan lutut Queen dengan air minelar yang ia bawa tak menghiraukan ringisan kecil Queen sama sekali yang menahan sakit.
“Kain ini ada satu dan lukamu ada empat. Saya ikat diluka yang paling parah saja ya? ”
Ucap orang itu dan mengikatkan kain di lutut kanan Queen tampa menunggu jawaban Queen. Kain itu sudah terikat sempurna di lutut Queen.
“Terimakasih,”
Cicit Queen. Seserang itu hanya tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban.
“Saya duluan, ”
Ucap Queen lagi, belum genap dua langkah Queen melangkah.
”Awwshh ..., ”
Queen meringis lagi, kedua lututnya sangat sakit.
__ADS_1
“Kamu gak pa-pa?”
“Mau pulang?”
Tanya seseorang itu yang langsung di angguki oleh Queen sambil meringis.
Grep...
Queen terkejut ketika tubuhnya melayang,karena takut jatuh dengan repleks Queen memegang erat pundak seseorang itu.
“Pak Farhan turunkan Queen,”
Cicit Queen gugup dan takut jatuh sambil melirik kebawah.
“Kedua lutut mu kan sakit, kamu juga tak bisa jalan. Kalau kamu saya gendong dari arah belakang, rasa sakit di lututmu pasti bertambah terpaksa saya harus begini,"
Ujar dosen Farhan panjang lebar sambil melngkah, membuat Queen seketika diam. Wajah Queen memerah bak tomat matang,Queen menyembunyikan wajahnya di dada bidang dosen Farhan karena malu.
Orang-orang yang sedang joging,meneriakinya. Tidak membutuhkan lama,dosen Farhan sudah ada di depan rumah Queen.
Tunggu-tunggu kenapa dosen Farhan tahu letak rumahnya, perasaan dari tadi aku tak menunjukan jalan ke arah mana rumahku, pikir Queen bingung.
“Buka pintunya?”
Ucap dosen Farhan membuyarkan lamunan Queen. Perlahan tangan Queen terulur membuka pintu. Dosen Farhan melangkah lebar dan meletakan Queen di atas sofa. Dosen Farhan langsung pergi tampa mengucap satu kata apa pun.
“Terimakasih,”
“Baru pulang, Nak? ”
Tanya Dinda dan langsung duduk.
“Aww…” jerit Queen membuat dinda panik.
“Kenapa, nak?”
“Itu mah,,”
Queen menunjuk tangannya yang diduduki bokong sang mamah. Membuat Dinda berdiri dimana darah keluar kembali di telapak tangan Queen.
“Kenapa dapat luka seperti ini?”
Tanya Dinda terkejut melihat luka di tangan putrinya. Bahkan kedua lututnya juga sama mendapat luka.
“Tadi jatuh pas lari, mamah sih larinya kenceng Queen kan tak bisa menyusul,"
Ucap Queen kesal karena sang mamah meninggalkannya.
”Maaf sayang, “
Cicit Dinda merasa bersalah karena memang benar Dinda sengaja meninggalkan putrinya karena Dinda kebelet pipis.
__ADS_1
Queen pun di papah oleh sang mamah ke kamarnya. Butuh waktu satu menit hanya untuk melewati dua tangga. Sungguh manjanya Queen dengan susah payah Dinda membopong Queen dan akhirnya sampai juga di kamar putrinya walau Dinda sedikit kesulitan karena sang putri sulit melangkah.
“Ya sudah, kamu istirahat dulu. ”
Queen hanya mengangguk dan menyenderkan punggungnya di sandaran ranjang. Dinda pun keluar dari kamar anaknya,membiarkan Queen intirahat. Sudah memastikan sang mamah keluar, Queen langsung memegang dadanya yang sendari tadi berdisko ria. Ada getaran aneh menjalar di sekujur tubuhnya. Tapi apa itu? Queen menggeleng-geleng kepala bingung. Queen membuka perlahan kain yang di pakaikan dosen Farhan, seulas senyuman terpancar indah di bibir Queen ketika Queen mengingat masa kecilnya.
“Rora hati-hati jangan lari!!”
Teriakan anak laki-laki mengejar bocak perempuan.
“Ayo Biru ..., kejar aku. Kamu payah kalah sama aku,”
Bocah perempuan itu berteriak sambil berlari mundur tanpa melihat jalan di belakangnya.
"Awwsss..., "
“Tuh kan aku juga bilang apa, jangan lari-lari”
Tegor anak laki-laki kesal karena bocah perempuan itu tak mau mendengarkannya. Mumbuat bocah perempuan itu cemberut.
“Tuh, tangan kamu berdarah. Sini? ”
Anak laki-laki itu terus mengomel tapi dengan telaten Anak laki-laki itu membersihkan luka gadis bocah perempuan dan membelitkan kain ketangan yang terluka.
“Sini aku gendong?”
Ucap anak laki-laki itu lagi, bocah perempuan yang bernama Rora hanya mengangguk dengan bibir cemburut karena dari tadi Biru terus mengomel. Tetapi, seulas senyum menghiasi bibir bocah perempuan itu dimana mendapat perhatiaan dari Biru.
Tok... tok...
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Queen. Seketika Queen tersenyum kecut dan mendengus.
“Masuk saja, ”
Teriak Queen malas untuk melangah apalagi lututnya masih sakit. Muncul bi Nina membawa makanan.
“Bibi bawa makanan non, dari pagi non belum makan?” Ucap bi Nina.
“Loh ko bibi, mamah kemana?” Tanya Queen.
“Tadi nyonya keluar, kelihatannya buru-buru.Cuma sebeleum pergi berpesan sama bibi harus jagain non!”
Tutur bi Nina menjelaskan membuat Queen mengerutkan keningnya.
”Ada apa?”
Batin Queen merasa ada sesuatu masalah yang sangat besar.
Queen pun langsung makan, masakan yang sudah tersaji di atas piring. Jujur perutnya butuh di isi, tak lama makanan itu semua ludes di makan Queen. Membuat bik Nina tersenyum karena Queen mau makan.
Bersambung...
__ADS_1
Jangam lupa Like dan Vote ya Cinta he.. he..