
"Sebentar lagi semuanya jadi milikku ha.. ha.., "
Tawa seseorang menggema di sebuah ruangan. Merasa senang karena sebentar lagi tujuannya akan tercapai. Tinggal satu langkah lagi yaitu menyingkirkan satu-satunya penghalang terbesarnya. Jika dia masih hidup maka orang itu tak bisa menguasai semuanya.
"Bunuh dia malam ini? "
Titah seseorang itu mutlak pada anak buahnya yang langsung mengangguk patuh lalu pergi menjalankan titah tuannya.
"Dan kau sayang, sebentar lagi akan menjadi milikku ha.. ha.. "
...----...
Dengan langkah lemas Queen di bantu Dinda pergi keruangan Angga di mana di dalam ruangan itu ada Murni yang terus setia menemani suamimya.
Ada rasa nyeri di hati Dinda melihat begitu perhatiannya Murni pada mantan suaminya.
Queen hanya berdiri tanpa mau masuk sedikitpun.
"Nak.., "
"Gak usah mah, ayo kita kembali!"
"Ta.., "
"Apa Biru tidak ke sini? "
Dinda menghela nafas pelan, Dinda tahu sang putri hanya mengalihkan pembicaraan saja.
"Biru masih di jalan,"
"Ya sudah kita tunggu di ruangan Queen saja, "
Dinda membantu Queen kembali masuk ke ruangannya dengan hati-hati.
Sedangkan Farhan masih pokus mengemudi menjemput Queen di rumah sakit.
__ADS_1
Fqrhan melirik kearah kaca spion terlihat ada dua mobil yang mengikutinya.
"Sittt, ternyata dia bergerak cepat, "
Umpat Farhan langsung menambah kecepatan mobilnya. Dua mobil itu terus mengikuti Farhan tah kalah cepat seperti memang mereka sudah propesional dalam hal mengemudi.
"Daniel, ada dua mobil yang mengikutiku? "
"Tuan posisi berada di mana? "
"Di jalan xxx! "
"Baik, tuan terus saja pancing mereka menuju arah selatan di sana ada terowongan, "
"Kerja bagus, "
Farhan tersenyum seringai sambil mematikan sambungan teleponnya.
"Kalian mau bermain-main denganku, baiklah! "
Ke dua mobil yang mengejar Farhan pun tak kalah menambah kecepatannya hingga mereka masuk di sebuah trowongan.
Tiga mobil yang saling kejar mengejar hingga drungan suara mobil begitu nyaring membelah keheningan jalan yang sepi karena Farhan memang sengaja membawanya ke jalan yang sepi.
Farhan tersenyum puas melihat kinerja kaki kanannya yang selalu bisa di andalkan.
"Kenapa lama, ini sudah malam! kemana saja? "
Farhan meringis mendengar secercah pertanyaan dari Queen apa lagi Queen menatapnya penuh selidik.
"Di jalan ada kendala, maaf. Ayo kita pulang, "
Queen hanya mendengus kesal karena dari tadi menunggu Farhan tapi baru datang dan itu membuat Queen menatapnya penuh curiga karena tak biasanya Farhan telat Jik Queen memanggil.
Dinda yang melihat putrinya cemberut tersenyum geli. Apalagi Dinda baru melihat sisi manja dari putrinya dan itu hanya Farhan yang bisa membuat putrinya seperti ini.
__ADS_1
Di Jalan..
Cittt...
Daniel menghentikan mobilnya mendadak membuat dua mobil yang mengejarnyapun melakukan hal yang sama.
Tapi Daniel tak keluar sama sekali dan itu membuat musuh menyerngit bingung. Tapi mereka semua keluar karena mereka harus membunuh Farhan.
"Keluarrr...,"
Daniel perlahan keluar dengan angkuhnya bahkan Daniel tak sedikitpun takut menghadapi pada cecunguk yang berani memburu tuannya.
"Kau!!! "
Pekik para musuh terkejut karena mereka salah target.
"Bagaimana mungkin! "
Bingung musuh jika yang keluar dari mobil bukan targetnya melainkan orang lain. Para musuh saling pandang satu sama lain karena mereka bingung harus membunuh atau tidak.
"Dia kaki kanannya, bunuh saja dia juga? "
Usul salah satu musuh pada ketua mereka dimana menbuat ketua musuh langsung menatap Daniel tajam karena merasa di permainkan.
"Kalian mau membunuhku silahkan, tapi.. "
Daniel seganya menjeda ucapannya sambil berjalan mendekat ke arah musuh dengan senyum penuh arti.
"Tapi kalian harus mati bersamaku! "
Dor...
Bersambung....
Jangan lupa Like dan Vote...
__ADS_1