Gadis Dingin

Gadis Dingin
Bab 134 Putri kita, Mas!


__ADS_3

Jakarta .....


Berbagai macam buah sudah selesai di panen. Seperti biasa mama Adelia akan membagikannya pada tetangga atau pedagang kaki lima yang lewat. Sisanya dia akan menyimpannya di kulkas buat cuci mulut.


Terik matahari begitu menyengat dimana matahari mulai naik. Semua orang kembali masuk kedalam merilekskan sejenak kakinya.


Sedang Dinda langsung membawa Alam ke kamar mandi. Karena dari tadi Alam main tanah membuat baju dan tangannya kotor.


Bersantai di ruang keluarga sambil menikmati buah hasil panen sendiri itu terasa lebih nikmat.


Rencananya Angga dan Murni akan pulang hari ini. Mungkin mereka akan berkunjung Minggu depan bersama Jek dan keluarganya.


Angga pamit pada putrinya setelah dia rasa cukup beristirahat.


"Pulang sekarang yah?"


"Iya nak, nanti ayah berkunjung lagi kok,"


"Emmz ... ngomong-ngomong rumah kak Jek dimana yah. Queen mau main ke sana?"


Selama ini memang Queen belum pernah main ke rumah kakaknya. Mungkin karena Queen waktu itu belum benar-benar menerima keadaan ini. Tapi semenjak menikah Queen mulai belajar menerima semuanya. Toh, kedua orang tuanya sudah memiliki keluarga masing-masing. Dan, itulah alasan Queen kenapa belum bisa memanggil Murni dengan sebutan mama.


"Nanti ayah kirim lewat WhatsApp,"


Queen hanya mengangguk saja, rasanya lidah Queen nampak kelu ingin mengucapkan satu kata. Namun kata itu begitu berat di lidahnya. Queen hanya menatap datar Tante Murni yang tersenyum padanya.


"Tante pamit dulu ya, baik-baik ya cucu nenek,"


Murni memeluk Queen sambil mencium keningnya halnya sering Murni lakukan pada menantunya, Melati.


Murni dan Angga beranjak setelah pamit pada semuanya.


"Ma ..."


"Mama!"


Deg ..


Sekuat tenaga Queen mengucapkan kata itu. Mungkin bagi orang lain sangat mudah memanggil nama itu. Tapi, tidak dengan Queen. Butuh kekuatan besar untuk Queen mengucapkan itu.


Ada desiran halus menyusup ke relung hati Murni. Bibirnya bergetar dengan mata berkaca-kaca. Dengan kaku Murni berbalik. Murni menatap tangannya yang di genggam oleh tangan lembut anak suaminya.


"Na .. nak ... ka ... kaa .."


"Boleh Queen memanggil Tante, Mama?"


Sungguh tidak ada kebahagiaan yang Murni rasakan ketika Queen mau memanggilnya Mama.


Penantian ini membuahkan hasil, dia dianggap, dia di akui. Membuat hati Murni merasakan plong yang luar biasa.


Rasa bersalah yang selama ini selalu Murni rasakan terasa berkurang.


"Nak .."


Lilir Murni melerai pelukannya, Murni menatap Queen penuh haru. Di hujannya Queen dengan berbagai kecupan dari Murni. Halnya seorang ibu selalu mencium anak-anak nya.


"Terimakasih ..."


Sungguh Murni sangat sangat bahagia sekali, Akhirnya Queen mau memanggilnya Mama.

__ADS_1


Mama Adelia dan mama Dinda hanya tersenyum melihat interaksi Queen dan Murni. Sungguh pemandangan yang sangat indah.


Tidak ada rasa cemburu di hati Dinda mendengar putrinya memanggil mama pada istri mantan suaminya. Yang ada Dinda juga turut bahagia mendengarnya. Berarti putrinya sudah benar-benar menerima keadaan yang ada.


'Mama'


Panggilan pertama keluar dari mulut Queen, sungguh ini bagai keajaiban yang nyata. Membuat Murni merasa bahwa hari ini dia orang yang paling bahagia.


"Mama,"


"Apa kamu bahagia?"


Ucapan Angga seketika membuat Murni kembali dari lamunannya. Dari tadi memang Murni melamun mengingat kejadian beberapa menit lalu.


Ini bukan mimpi, ini nyata. Queen memanggilnya Mama.


"Mas, aku tidak mimpikan?"


"Tidak!"


"Qu-Queen di.. dia memanggilku mama."


Lilir Murni benar-benar sangat bahagia. Matanya kembali berkaca-kaca. Bahkan Murni ingat jelas, ketika Queen mencium pipinya.


Rasanya Murni ingin kembali ke momen tadi. Ingin menghentikan waktu sejenak untuk merasakan debaran halus yang menyejukkan hatinya.


Ini hanya masalah waktu, semua bisa terjadi. Karena Tuhan maha membolak-balik kan hati setiap hambanya.


Angga menepikan mobilnya, Angga meraih tangan sang istri. Hingga membuat Murni menoleh.


"Putriku memang seperti itu! Dulu dia gadis lembut dan manja. Mudah bergaul dan baik hati. Mas, sudah bilang, ini masalah waktu. Putriku pasti menerima kamu,"


"Iya, dia putri kita! terimakasih sayang, kamu memang istri mas yang baik hati,"


Angga menarik dagu Murni hingga sebuah benda lembut menyapa hangat kening Murni. Membuat Murni seketika memejamkan kedua matanya. Meresapi rasa hangat yang di berikan Angga.


"Aku mencintaimu, hanya kamu tak ada yang lain,"


"Aku juga mencintai kamu, Mas."


Sejenak pasangan suami istri itu berpelukan. Mengulang perasaan cinta membara anak muda. Padahal mereka sudah menjadi kakek nenek. Tapi, cinta mereka bagai anak muda yang baru mengenal cinta.


Rasa itu begitu menggebu, rasanya masih sama seperti dua puluh tiga tahun yang lalu.


"Jalan mas,"


"Bagaimana kalau kita jalan-jalan dulu?"


"Ingat umur mas, kita sudah tak muda lagi!"


"Siapa yang bilang kita muda, umur boleh tua, tapi semangat harus tetap muda,"


"Terserah mas saja deh,"


"Bagaimana kalau kita ke hotel?"


Murni membulatkan kedua matanya menatap tak percaya pada suaminya.


Ngapain ngajak ke hotel, wong rumah juga ada. Kala mau tidur ya cepet pulang, Pikir Murni kesal.

__ADS_1


"Pulang mas!"


"Ke hotel saja sayang, biar romantis. Bukankah pahala ya menyenangkan hati istri!"


Goda Angga sambil mengedipkan matanya.


"Cari suasana baru, mau ya!"


"Mas, kamu gak lagi sakit kan?!"


"Dasar gak peka!"


Kesal Angga langsung menghidupkan kembali mobilnya. Dia hanya berusaha romantis tapi istrinya malah tak peka. Apa salahnya tidur di hotel, untuk sekedar jalan-jalan menghabiskan waktu berdua di masa tua. Mencari suasana baru yang membuat ikatan cinta mereka bertambah.


Angga pikir mengikuti cara Fandi menyenangkan istri akan berhasil. Tapi, nyatanya gagal total. Istrinya gak peka sama sekali.


Angga memang bukan laki-laki romantis seperti Fandi. Yang selalu membuat Dinda tersipu akan tingkah atau ucapannya.


Angga juga ingin seperti itu, Agara cinta mereka tetap terjaga.


Murni tersenyum geli melihat wajah tampan suaminya yang di tekuk. Bahkan Murni ingin tertawa melihat tingkah lucu suaminya yang meninggalkannya di mobil.


Ya, mereka sudah sampai rumah. Angga langsung keluar begitu saja tanpa membukakan pintu untuk sang istri.


"Mas mas, kamu itu sudah tua, tapi tentang masalah satu itu semangatnya membara."


Murni terkekeh sendiri sambil geleng-geleng kepala menyusul sang suami masuk.


Bukan Murni tak mau, tapi pernah mereka melakukan olah raga suami istri tapi suaminya malah sakit pinggang. Mungkin karena sudah tua atau Angga memang sudah jarang olah raga.


Cklek ...


"Mas ..."


Murni ingin sekali tertawa melihat wajah suaminya yang masih cemberut bak anak kecil saja. Kalau sudah begini, maka Murni harus bisa meluluhkan ya.


Pernah dengar gak, sebuah pepatah berkata seperti ini "Merayu anak kecil lebih mudah dari pada merayu orang tua yang bertingkah bocah."


"Hari ini gerah ya mas, cuacanya panas!"


"Mas gak langsung mandi?"


Tak ada jawaban dari Angga, Angga tetap saja bungkam.


"Ya sudah, aku mandi duluan ya mas,"


Angga seketika menoleh melihat selembar kain yang tergeletak. Seketika mata Angga melotot dengan jakun naik turun.


"Sayang ikut,"


"Tadi diam, Kiran gak mau!"


"Kalau begini mas mau,"


Ha ... ha ..


Murni tertawa ketika Angga menggendongnya masuk kedalam kamar mandi.


Bersambung ....

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah, dan, Vote Terimakasih....


__ADS_2