
Kejutan yang bertubi-tubi Queen rasakan. Sungguh Queen tak menyangka kalau Farhan akan melakukan semua ini. Mempersiapkan acara ulang tahun untuknya. Bahkan Dinda dan om Fandi sudah ada di situ berdiri di samping kue ulang tahun. Di samping Dinda ada wanita paru baya yang begitu cantik, Queen sedikit lupa dia siapa dan laki-laki paru baya yang Daniel dorong dari kursi roda.
Sungguh Queen merasa bahagia dengan semua ini. Ini kejutan yang sangat luar biasa, bahkan Farhan selama ini tak menunjukan gelagat apapun. Bahkan Queen sendiri lupa akan ulang tahunnya, biasanya dulu waktu kecil Queen akan antusias menyambut ulang tahunnya tapi paska kecelakaan itu membuat Queen lupa segalanya dan mengubah hidup Queen menjadi gadis dingin tak tersentuh.
Binar bahagia terpancar di mata dan bibir Queen yang terus mengembangkan senyuman manisnya yang jarang Queen keluarkan.
Tak banyak orang yang hadir di acara ulang tahun Queen, semuanya hanya orang-orang yang Queen kenal dan orang terdekat Farhan.Queen benar-benar merasa bahagia, hari ini bertubi-tubi kejutan menghampirinya.
Tak lekas Queen memeluk sang mama dan mencium wajah sang mama bertubi-tubi membuat Dinda kegelian. Dinda merasa bahagia melihat kebahagiaan sang putri, bahkan putri manjanya hari ini kembali.
"Perhatian semuanya..., "
Fandi berbicara lantang membuat semua orang yang ada di lapangan yang sudah di desaint sedemikian rupa. Semua orang mengalihkan pokusnya pada Fandi yang berjalan ke arah Queen. Fandi menarik Queen lembut ke sisinya membuat Queen sedikit bingung apa yang akan di lakukan om Fandi.
Hingga Fandi berdiri di hadapan Queen seperti seorang laki-laki yang akan menembak teman wanitanya. Fandi menggenggam tangan Queen, lalu Fandi berjongkok sontak membuat Queen terkejut hingga repleks Queen memundurkan langkahnya tapi di tahan oleh Fandi.
Fandi tersenyum melihat kebingungan Queen, bahkan Dindapun sama. Kedua matanya melotot sempurna melihat Fandi berjongkok di hadapan putrinya.
Apa yang akan kamu lakukan Fandi, apa kamu akan melamar anakku, pikir Dinda sungguh tak menyangka. Adegan yang Fandi lakukan seperti laki-laki yang sedang melamar kekasihnya.
Queen berdiri tak nyaman, bahkan Queen mendecak kesal melirik sekilas pada Farhan yang tersenyum melihat Queen. Seolah senyuman itu Farhan mendukung Queen dan itu membuat Queen geram. Harusnya yang berjongkok di hadapan Queen adalah Farhan bukan om Fandi, masa iya Queen akan di lamar om Fandi, pikir Queen kesal.
Tapi entah kenapa Queen malah diam melihat wajah memelas om Fandi ada rasa yang tak bisa Queen artikan.
__ADS_1
"Queen Aurora Prayoga, will you make me part of your mother, Dinda Anjani, to be my wife?
Queen Aurora Prayoga, maukah kamu menjadikan aku bagian dari ibumu, Dinda Anjani, menjadi istriku?"
Deg...
Jantung Dinda seakan berhenti berdetak mendengar apa yang Fandi ucapkan. Bahkan Dinda hampir saja terjatuh jika bukan Farhan yang menahan tubuhnya. Mata yang melotot kembali melebar sempurna saking terkejutnya.
Behitupun dengan Queen, hatinya dari tadi sudah was-was dengan apa yang om Fandi lakukan. Queen pikir om Fandi sudah tak waras melamarnya, ternyata dugaan Queen salah besar. Om Fandi meminta izin padanya untuk melamar sang mama. Queen terdiam melihat sebuah cincin berlian yang om Fandi pegang bersama kotaknya.
"Maukah Queen menjadikan aku bagian dari hidup ibumu? "
Entah apa yang harus Queen lakukan dan menjawab lamaran om Fandi untuk sang mama. Karena yang berhak menjawab adalah sang mama. Queen mengalihkan pandangannya pada sang mama yang nampak shok dengan apa yang om Fandi lakukan. Queen secara bergantian memandang sang mama dan om Fandi, terlihat begitu besar cinta yang om Fandi miliki untuk sang mama.
"Om, kebahagiaan mama adalah kebahagiaan aku juga.., "
"Queen tak tahu harus menjawab apa, Queen hanya bisa mendatangkan mama kehadapan, Om. Hanya mama yang bisa menjawabnya, semoga apapun jawaban mama om gak akan kecewa, "
Fandi tersenyum masih setia berjongkok menunggu Queen membawa Dinda kehadapannya.
"Mama.., "
"Sa.. sayang..,"
__ADS_1
Lilir Dinda belum bisa mengendalikan keterkejutannya.
Queen memegang tangan sang mama lalu mengajaknya kehadapan om Fandi. Dinda hanya menurut saja dengan keadaan linglung.
Dinda menatap tak percaya pada Fandi yang masih berjongkok dengan sebuah cingcin berlian di tangannya.
"Queen tak bisa melarang ataupun menyetujui mama menikah lagi. Tapi, Queen akan selalu mendukung apapun keputusan mama, jika itu akan membuat mama bahagia. Kebahagiaan mama adalah kebahagiaan aku juga. Jadilah diri mama sendiri, dan cari kebahagiaan mama sendiri. Jangan pikirkan tentang Queen karena Queen sudah ada Biru, "
"Sayang..,"
Dinda begitu gugup ketika sang putri meninggalkannya berdua bersama Fandi yang masih setia berjongkok.
"Be.. berdirilah apa kamu gak pegal!"
Fandi tersenyum melihat kegugupan Dinda yang begitu imut di usianya yang tak muda lagi. Fandi menatap Dinda penuh cinta tatapan itu sama seperti dulu tak berubah sampai sekarang.
"Maukah kamu menjadi bagian hidupku, menemani masa setengah tua denganku?"
Rasa gugup yang meliputi hati Dinda menjadi sedikit mencair mendengar permohonan konyol Fandi. Setengah Tua, usia Fandi memang baru menginjak empat puluh tahun dan usia Dinda tiga puluh sembilan jalan. Di usia Fandi yang ke empat puluh, tak memperlihatkan wajah tuanya, jutru di usia matang itu Fandi nampak gagah dan berkarisma. Bahkan wajahnya terlihat awet muda sama seperti Dinda.
"Yes or no?"
"Yes, I accept you to be a part of my life,"
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa Like dan Vote....