
Hari Libur...
Tak ada acara ataupun aktifitas yang Queen lakukan. Queen memilih menghabiskan waktunya di rumah. Bagi kebanyakan remaja pasti banyak menghabiskan waktu libur dengan jalan-jalan, makan, ataupun belanja. Tapi, Queen lebih suka berada di rumah berkumpul dengan keluarganya.
Seperti biasa, Queen suka sekali menyiram tanaman hasil tanaman sang mama dan dirinya. Banyak bunga yang bermekaran membuat pagi ini nampak indah. Di tambah cahaya mentari yang mulai hangat membuat Queen bertambah semangat.
Sedangkan Fandi dan Dinda hanya duduk saja di kursi malas melihat sang putri yang asik sendiri. Tadinya Dinda ingin ikut menyiram, tapi Fandi melarangnya. Bukan apa-apa, ibu dan anak ini jika sedang menyiram tanaman, bukan bunga saja yang di siram melainkan tubuh mereka juga. Seperti sekarang ini, Queen asik sambil main basah-basahan bak anak kecil saja. Tapi, memang Queen menyukai itu.
Queen orang pecinta hujan, jika ada hujan turun maka Queen akan ujan-ujanan. Menurut Queen, hujan adalah makhluk yang tepat untuk mengungkap sebuah rasa tanpa takut orang lain tahu.
"Nak sudah main airnya!"
Teriak Dinda di ujung sana yang sedang menikmati mentari pagi di temanai secangkir susu ibu hamil dan beberapa cemilan. Sedang Fandi menikmati minuman madu, entah kenapa semenjak kehamilan simpatik Fandi tak menyukai bau aroma kopi.
"Sebentar lagi, Mah."
Balas Queen tak kalah teriak, karena memang tinggal satu baris lagi Queen selesai menyiram tanamannya. Sudah selesai, Queen mematikan kran lalu berjalan kearah sang mama dan daddynya berada.
"Terimakasih, Dad."
Queen mengambil handuk yang Fandi berikan untuk mengeringkan wajah dan rambutnya.
"Cepat, langsung mandi sana. Takut nanti masuk angin,"
"Siap, Mah."
Sebelum benar-benar pergi Queen mencomot beberapa biskuit ibu hamil lalu pergi begitu saja menuju kolam renang. Jika sudah basah-basahan maka Queen akan langsung berenang sebelum benar-benar mandi.
Bi Nina sudah mempersiapkan keperluan Queen di simpan di atas kursi malas pinggir kolam renang. Sehingga jika Queen masuk tidak takut basah kelantai.
Dinda hanya menggelengkan kepala melihat tingkah anaknya. Tak pernah menyangka kalau Queen akan bersikap manja dan hangat. Bahkan semakin hangat ketika Dinda dinyatakan hamil. Dinda tak pernah menyangka di usianya yang akan memasuki empat puluh tahun dia masih bisa dipercaya oleh Tuhan mengandung malaikat kecil.
Di kehamilan ini Dinda tak merasakan rasa sakit seperti dulu waktu mengandung Queen. Bahkan Dinda tak mengidam sama sekali, malahan di sini Fandi yang tersiksa.
Tapi, ngidam simpatik ini mulai beransur membaik karena mungkin usia kandungan Dinda juga sudah memasuki bulan ke lima.
Fandi terus saja menatap sang istri penuh cinta di setiap harinya. Apa lagi perutnya yang sudah mulai membuncit membuat Dinda semakin seksi di pandang mata.
"Jangan lihatin Dinda terus, Mas!"
He.. he...
Fandi malah terkekeh, kepekaan sang istri masih saja sama walau usianya sudah tak remaja lagi. Padahal Dinda tak menghadap sang suami, tapi kepekaannya sangat tajam hingga tahu kalau sang suami sedang memerhatikannya.
__ADS_1
Fandi menggeser kursi yang ia duduki mendekat pada sang istri. Di usapnya perut buncit sang istri dengan lembut.
"Kita belum melakukan USG lagi, apa dia laki-laki atau perempuan?"
"Jangan! biar ini jadi kejutan. Laki-laki atau perempuan Dinda tak masalah, yang penting baby lahir dengan selamat."
"Baiklah, Ratuku."
Selalu ada getaran halus menyejukan hati Dinda tetkala Fandi berkata romantis. Setiap hari pasti selalu ada kata-kata romantis yang Fandi ucapkan dan berbeda kata. Kadang Ratuku, honey, bee, istriku atau yang lainnya. Dan, Kata itu mampuh membuat cinta semakin tumbuh liar di hati Dinda.
"Jika anak kita sudah besar, seusia Queen. Apa orang lain akan menganggap kita neneknya atau ibunya!"
"Hey.. hey... kenapa malah bicara jauh begitu. Walaupun usia kita enam puluh tahun Mas yakin wajah kamu masih tetap cantik dan tidak kelihatan tua. Sekarang saja usia kamu sudah mau empat puluh tali kelihatan seakan usia dua puluh lima tahu."
"Masa sih, Mas. Ah.. kamu bohong!"
"Idih... siapa yang bohong. Kemaren saja waktu kita jalan ke mall kamu sama Queen di anggap adek kakak. Muka kalian itu imut, cuma Queen badannya lebih tinggi seperti ayahnya,"
"Jadi aku kecil gitu!"
"Bukan! kalau kalian tingginya sama yang ada orang lain nganggap kalian kembar, nanti mas ketuker gimana!"
Dinda melotot menatap tajam sang suami yang bicara sembarangan. Sedang Fandi yang di tatap seperti itu hanya terkekeh.
"Sudah jangan melotot, tambah imut tahu!"
"Istt, ngeselin. Kalau nanti anaknya laki-laki Dinda gak mau ya, dia seperti mas, yang banyak gombalnya!"
"Ya gak apa-apa lah sayang, yang penting aku gombalnya sama kamu bukan sama yang lain,"
Queen yang sedang berada di balkon kamarnya tersenyum melihat interaksi kedua orang tuanya. Sangat lucu dan menggemaskan.
Queen ingin sekali dia juga seperti itu bersama Farhan. Membangun sebuah keluarga yang harmonis.
"Hey.. Rora.. apa kamu masih di sana!"
Queen terkejut, baru sadar kalau dirinya sedang vidio call dengan Farhan. Waktu Indonesia pukul 10:30 siang, berarti di Jerman baru pulul 06:30 dan Farhan baru bangun tidur.
"Maaf,"
Cicit Queen nyengir kuda, sambil berjalan masuk kedalam kamar.
"Bagaimana magangnya, lancar?"
__ADS_1
"Lancar, sekarang tinggal buat skripsi. kapan pulang?"
"Kan lima bulan lagi!"
"Katanya sudah janji, akan pulang cepet. Nah ini sama saja!"
"Sabar sayang, nanti juga aku kabarin. Kangen ya?"
"Emang kamu gak kangen aku?"
Queen malah membalikan pertanyaan bukan menjawab dan itu malah membuat Farhan terkekeh di serbang sana.
"Kangen lah sayang, malahan sudah rindu berat."
"Gombal,"
"Loh, ko gombal sih. Ini beneran. Oh iya, bagaimana kabar kehamilan mama, apa om Fandi masih merasakan kehamilan simpatik?"
"Kabar mama baik, dedek baby juga sehat. Alhamdulillah daddy sudah tak merasakan kehamilan simpatik lagi, mungkin kehamilan mama juga sudah besar."
"Titip salam sama mama dan om, kata mama Adel, Rora sekarang jarang main ke rumah?"
"Maaf, jadi mahasiswa akhir semester banyak tugas, jadi belum sempet main ke sana. Tapi mama Adel yang akan main ke sini."
"Kakak, baju aku di taruh di mana?"
Queen menautkan kedua alisnya ketika mendengar suara perempuan di apertemen Farhan. Bukankah Farhan tinggal sendiri, lalu dia siapa, gak mungkin kalau suara hantu, pikir Queen.
"Biru, kok ada suara perempuan, dia siapa?"
"Sayang udah dulu ya, nanti sore aku telepon lagi!"
"Biru.. biru... "
Queen mendengus kesal karena Farhan malah mematikan teleponnya langsung.
"Aku gak salah dengarkan, tapi ada suara perempuan di apertemen Biru. Apa mungkin, ah... tidak.. tidak..,"
Monolog Queen menggelengkan kepala, Queen yakin Biru tak setega itu menghianati dirinya. Queen yakin Biru setia padanya dan Biru hanya milik Queen. Queen akan bertanya nanti pada Farhan, untuk meyakinkan kalau Farhan bisa menjaga dirinya di sana.
Bersambung....
Jangan lupa Like,Komen,Hadiah dan Vote....
__ADS_1