Gadis Dingin

Gadis Dingin
Bab 23 Semakin kritis


__ADS_3

"Jek tunggu papah.., "


Teriak Angga terus berlari mengejar Jek yang kabur karena tak mau bertemu dengan sang papah dulu. Jek masih belum terima dengan semuanya. Belasan tahun sang papah dan sang mamah menyembunyikan sebuah kebenaran yang sangat menyakitkan.


Bagaimana mungkin Queen adalah adiknya bahkan Jek sangat membenci Queen dan kebencian itu semakin membara ketika mengetahui Queen adalah adik tirinya.


"Jek dengerin pa.., "


Brak...


Jek terus berlari menghidar sang papah dengan penuh emosi.


Tetapi Jek langsung menghentikan langkahnya ketika tak mendengar suara sang papah. Jek membalikan badanya mencari keberadaan sang papah tapi tak ada. Alis Jek saling bertautan ketika melihat sebuah kerumunan jauh di depan sana. Rasa cemas tiba-tiba menghantui Jek ketika banyak orang terus berdatangan mengurumuni satu objek. Entah apa yang orang-orang kerumuni. Jek melangkah perlahan dengan rasa penasaran dan cemas menggerogoti hatinya.


"Cepat panggil ambulan? "


"Lukanya sangat parah, kita harus segera membawanya ke rumah sakit.., "


Teriakan orang-orang membuat Jek semakin cemas hingga dengan cepat Jek masuk kerumunan itu.


Deg...


Seketika Jek terdiam dengan dada bergemuruh melihat sang papah tergeletak berlumur darah.


"Dia papah saya.., pah.. "


Teriak Jek langsung mengangkat kepala sang papah ke pangkuannya. Jek menangis histeris melihat darah terus keluar dari kepala dan mulut sang papah.


Tak henti-hentinya Jek meraung membangunkan sang papah tapi sang papah tak kunjung bangun.

__ADS_1


"Pah.., Jek mohon bangunnn... Bangun pah, maafkan Jek .. , Jek janji akan mendengarkan penjelasan papah."


Raung Jek histeris sambil mengguncang tubuh Angga prustasi hingga suara mobil ambulan datang. Jek langsung menggendong Angga di bantu oleh beberapa orang.


Jek terus menggenggam tangan Angga erat dengan perasaan cemas, takut bercampur jadi satu. Semua salahnya, jika saja Jek tak berlari dan mau mendengar penjelasan Angga, kejadian ini tak akan terjadi. Tapi semuanya sudah terjadi dan itu membuat Jek benar-benar prustasi. Apa lagi Jek tak membawa ponsel untuk menghubungi sang mamah.


"Pah, ber.. bertahanlah Jek mohonn..,"


Lilir Jek dengan air mata yang terus keluar membasahi pipinya.


"Maaf Tuan anda tidak boleh masuk, "


Jek menggeram dengan rasa cemas kian menggerogoti. Apa lagi salah satu suster melarangnya masuk. Membuat Jek mau tak mau harus menunggu. Jek terus saja bulak-balik panik menunggu dokter yang tak kunjung keluar.


Bugh..


Cklek..


Jek terkesiap saat mendengar puntu ruang ICU di buka.


"Maaf Tuan, pasien membutuhkan donor darah AB. Di rumah sakit ini golongan darah AB sudah habis, tolong secepatnya cari anak, istri atau saudaranya yang bergolongan darah sama? "


"Saya putranya, tolong ambil darah saya! "


Seloroh Jek cepat karena shok mendengar kondisi sang papah.


"Baiklah kalau begitu tuan ikut saya? "


Jek dengan cepat mengikuti langkah dokter untuk di priksa lebih dulu apakah darah Jek cocok atau tidak. Walaupun cocok tapi keadaan Jek harus sehat.

__ADS_1


"Bagaimana dok, apa saya bisa mendonorkan darah saya? "


Tanya Jek tak sabaran , Jek hanya takut keadaan sang papah semakin kritis.


"Maaf Tuan anda tidak bisa mendonorkan darah anda! "


"Apa!! bagaimana bisa dok. Saya putranya!"


"Golongan darah Tuan memang sama tapi..., "


Dokter menjeda ucapannya karena takut menyinggung Jek. Keterdiaman dokter membuat Jek geram.


"Tap apa dok? "


"Ap.. apa anda pemabuk! maaf, kondisi anda saat ini tak bisa mendonorkan darah karena Anda kurang sehat apa lagi kandungan alkohol yang anda minum itu dosis tinggi dan tentu itu membahayakan pasien! "


Deg...


Jek terdiam mendengar penjelasan dokter dan itu membuat Jek mengutuk dirinya sendiri kenapa di saat keadaan genting begini Jek tak berguna.


"Tuan bisakah anda mencari sanak sudaranya, karena konsisi pa.., "


"Bagaimana dok, kondisi Pasien semakin keritis! "


Duarr...


Bersambung...


Jangan lupa Like dan Vote..

__ADS_1


__ADS_2