Gadis Dingin

Gadis Dingin
Bab 127 Ma.. mampus aku


__ADS_3

Queen melakukan aktivitas seorang diri, karena mama Adelia belum kunjung balik bersama Bik Marni.


Ya, Bik Marni nyusul ke Jerman atas perintah Farhan supaya bisa menemani sang mama. Sedangkan mang Danang tidak di izinkan ikut. Karena harus menjaga rumah, dan mengantar sang istri bilah mau main ke rumah mama Dinda.


Tanpa ada mama Adelia membuat Queen merasa kesepian jika Farhan berangkat kerja. Entah kapan mama Adelia kembali, ini sudah hampir dua Minggu. Mama Adelia masih betah mengunjungi tempat-tempat yang dulu dia dan sang suami kunjungi dan menghabiskan waktu berdua di sana.


Tapi bukan Queen namanya jika dia terlarut dalam kebosanan.


Queen mengambil laptop nya yang sudah lama tidak di pakai.


Sesudah hidup, Queen memasukan sebuah angka dan garis titik-titik yang aneh. Hingga muncul beberapa kolom kode yang harus Queen masukkan. Entah apa yang sedang Queen kerjakan, matanya begitu serius sekali.


Tak lama bibir Queen tersenyum melihat layar laptop di depannya.


Terlihat Farhan sedang melakukan meeting dengan wajah seriusnya.


Ya, Queen sedang meretas keamanan cctv di perusahaan sang suami. Bukan Queen tidak percaya sang suami. Tapi, Queen sedang bosan dan ingin melihat suami gagahnya sedang meeting.


Farhan terlihat gagah dan berkarisma bahkan tatapannya begitu tajam. Membuat lawan menciut. Daniel memang mengerjakan perusahaan sendiri. Karena Daniel belum kembali dari Jerman. Farhan memang memberi cuti tiga Minggu pada Daniel untuk menghabiskan waktu bersama dengan istrinya.


Mungkin Minggu depan Daniel baru kembali. Dan, Farhan benar-benar mengerjakannya sendiri. Jangan di tanya bagaimana kemampuan Farhan dalam memimpin. Bahkan semenjak Farhan mengambil alih perusahaan antek-antek yang bekerja sama dengan Sam dan orang-orang yang korupsi sudah Farhan pecat dan di ganti dengan yang baru. Mata Farhan penuh kejelian dan siapapun yang berkhianat jangan mampu bisa lari.


Sesudah meeting Farhan kembali ke ruangannya. Walau Farhan kelelahan tak ada Daniel tapi Farhan mampu menyelesaikannya tepat waktu.


Huh ...


Farhan menghela nafas kasar sambil melonggarkan dasinya. Di saat kelelahan seperti ini hanya dengan menatap wajah istrinya Farhan merasa lebih baik.


Farhan mengambil Poto sang istri yang sengaja di pajang di meja kerjanya. Poto sang istri bersama sang mama tercinta yang sedang berpelukan.


Farhan mencium Poto itu, lalu tersenyum sambil mengelus wajah di Poto tersebut. Dua wanita yang begitu berharga di hidup Farhan.


Farhan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Kepalanya menengadah ke atas dengan tangan yang meletakan Poto di dadanya. Farhan memejamkan kedua matanya sejenak istirahat guna memulihkan tenaganya.


Queen yang melihat suaminya di balik layar hanya tersenyum saja, merasa geli dengan apa yang suaminya lakukan. Tapi, sedetik kemudian, bibir Queen cemberut lantaran sang suami belum makan siang.


Queen menemukan ide, dia akan mengantarkan makan siang untuk sang suami. Queen tak mau kalau Farhan nanti jatuh sakit akibat terlalu lelah bekerja.


Dengan cepat Queen memasak makanan kesukaan sang suami. Satu jam Queen berkutat di dapur, akhirnya selesai juga ia memasak.


Sesudah menyusun di kotak makan, Queen bergegas mengganti pakaian nya.


"Cantik,"

__ADS_1


Satu kata yang keluar dari bibir Queen ketika dia melihat pantulan dirinya sendiri.


Lantas Queen bergegas pergi di antar oleh mang Danang.


Di sepanjang Jalan Queen terus saja tersenyum tak sabar memberi kejutan pada sang suami.


"Mamang tunggu saja di loby, kalau jenuh nunggu Rora, mamang boleh keluar cari makan atau ngopi gitu,"


"Baik non,"


Lantas Queen langsung memasuki perusahaan sang suami. Baru pertama kali Queen menginjakan kedua kakinya ke kantor sang suami.


Banyak pasang mata yang memandang Queen dari atas sampai bawah. Semua orang bertanya-tanya siapa wanita hamil yang masuk kedalam perusahaan besar. Apa dia istri salah satu karyawan di sini! tapi dari wajah sepertinya Queen bukan istri karyawan di sini.


Queen tak memperdulikan tatapan semua orang padanya. Queen berjalan menuju resepsionis guna menanyakan di mana ruangan sang suami.


"Mau tanya mba, dimana ruang pak Farhan?"


Sang resepsionis hanya diam, mengamati Queen.


Apa dia istri pak Farhan, mana mungkin! pakaian nya biasa saja, walau wajahnya memang cantik.


Batin sang resepsionis, menatap sinis pada Queen.


"Mba, kok malah bengong, dimana ruang pak Farhan?"


Sinis sang resepsionis, menatap remeh pada Queen. Tidak mungkin istri pemilik perusahaan memakaikan pakaian sederhana seperti itu, bahkan Queen memakai sendal rumah.


"Saya istrinya,"


"Ha ... ha... jangan mengada-ngada mba, sudah banyak wanita yang mengaku istrinya juga bahkan mereka langsung di usir. Berhubung saya sedang baik hati, karena mba nya sedang hamil, silahkan mba keluar Mba gak lupa kan pintu keluar!"


Queen malah menautkan kedua alisnya bingung. Kenapa orang ini malah menertawakan nya. Perasaan Queen merasa berpakaian bisa saja. Tapi, Queen mencoba sabar karena Queen pikir memang tak ada satu orangpun yang tahu siapa dirinya, selain Daniel dan penasihat perusahaan yang tak lain om Lukman sendiri.


"Saya tanya satu kali lagi, dimana ruang pak Farhan?"


Kini Queen memberikan intonasi berat sambil menatap tajam pada sang resepsionis. Membuat sang resepsionis terkesiap melihat tatapan itu. Tapi, tak membuatnya takut, karena memang dia sudah kebal dengan wanita-wanita ganjen yang mengejar pemimpin mereka.


"Mba ini malah ngeyel ya, saya gak bisa di bohongi sama perempuan seperti mba. Jangan mimpi mengaku istrinya pak Farhan. Satpammm ..."


Panggil sang resepsionis di akhir kalimatnya.


Queen hanya menghela nafas kasar, tak suka dengan cara sang resepsionis ini.

__ADS_1


Dua satpam langsung masuk ingin mencengkram tangan Queen. Tapi dengan cepat Queen mundur.


"Tidak perlu, saya bisa sendiri!"


Ucap Queen dingin langsung keluar, tapi Queen tidak benar-benar keluar melainkan dia berdiri sambil menelepon sang suami.


Satu ...


Dua ...


Tiga ...


Panggilan ketiga telepon Queen baru di angkat. Queen tersenyum menyadari sang suami tidurnya terganggu.


"Bee, Rora ada di depan kantor!"


"Hah .."


Farhan langsung terlonjat kaget mendengar sang istri ke kantor. Rasa kantuk yang tadinya berat hilang begitu saja.


Farhan langsung berlari keluar, para staf dan karyawan yang melihat bos mereka berlari tergesa-gesa merasa aneh dan penasaran. Apa yang membuat bos mereka panik seperti itu.


"Sayang tunggu bee menjemput,"


Farhan terus berlari tanpa mematikan teleponnya. Rasanya jantung Farhan mau copot saja ketika melihat dari CCTV bagaimana sang istri di perlakukan tidak baik.


Sang resepsionis terkejut melihat bosnya berlari keluar. Yang membuat sang resepsionis itu gemetar akibat melihat tatapan tajam Farhan.


"Sayang ..."


Farhan langsung memeluk sang istri membuat dua satpam yang menjaga Queen langsung pucat.


"Kenapa gak kasih tahu bee, kalau sayang kesini. Mereka mengusir sayang?!"


Farhan menatap tajam dua satpam yang tak jauh darinya. Queen langsung mencengkal tangan sang suami yang akan menghampiri dua satpam tersebut.


"Jangan marah, kaki Rora pegel ingin segera keruangan bee,"


Farhan langsung menggandeng tangan sang istri masuk ke dalam. Bahkan Farhan sangat hati-hati memapah sang istri.


Sang resepsionis membelalakkan kedua matanya melihat pemandangan di depan matanya.


*Ma..mampus aku ...

__ADS_1


Bersambung*...


Jangan lupa Like Hadiah, Komen, dan Vote Terimakasih....


__ADS_2