Gadis Dingin

Gadis Dingin
Bab 14 Lima belas juta!


__ADS_3

Perlahan Queen meninggalkan area kampus membawa motornya, baru saja menjalankan Queen menghentikan motornya masih tak jauh dari area kampus namun tempat itu agak sepi. Queen memicingkan matanya melihat salah satu mahasiswi yang sedang di jegat oleh preman. Queen tahu siapa mahasiswi itu, dia adalah Mawar mahasiswi yang satu kelas dengannya, gadis pendiam sepertinya namun gadis itu sangat lemah tak bisa melawan.


Entah ada angin dari mana Queen mendekati para preman itu. Biasanya Queen tidak akan pernah peduli dengan siapapun yang tersakiti walau itu di depan matanya, Queen tetap tak akan membantu. Tetapi, lihatlah sekarang Queen malah semakin mendekat.


“Jangan ganggu gadis itu!”


Ucap Queen datar namun sorot matanya sangat tajam. Para preman yang merasa terganggu langsung berbalik dan menatap Queen instens.


“Jangan ikut campur gadis kecil,”


Ucap salah satu preman yang terlihat ketua dari dua preman lain.


“Saya bilang jangan ganggu dia?”


Tegas Queen, membuat para preman tersenyum penuh arti melihat keberanian gadis yang ada di hadapannya. Salah satu preman mendekat menatap remeh Queen dengan senyum seringai. Tetapi tak membuat Queen sedikitpun takut.


"Ternyata gadis ini mau bermain-main,”


Ucap preman yang mendekat, belum sempat tangannya memegang dagu Queen.


“Awwss ..,"


Preman itu meringis merasakan sakit dan ngilu ketila tangannya di pelintirkan ke belakang dan menendangnya.


Queen menendang asset preman itu seketika membuatnya mundur sambil memegang asetnya. Melihat temannya meringis membuat para preman lain marah.


“Kau, beraninya ikut campur!!”


Tunjuk preman yang badannya jauh lebih besar dari pada yang lain, yang di perkirakan ketuanya.


”Habisi cecunguk kecil itu?”


Perintah ketua preman, tiga preman maju mendekati Queen yang satu preman masih saja kesakitan.


Perkelahianpun dimulai satu lawan tiga bukan lawan yang sebanding bukan. Tapi bagi Queen itu hanya cecunguk lemah, dengan cekatan Queen terus menghindar dari serangan ketiga preman itu membuat para preman semakin geram mereka telah meremehkan lawan.


Bug ... bug ...


Satu tonjokan dan satu tendangan Queen layangkan pada preman yang badannya cungkring, membuat preman itu mundur kebelakang. Melihat itu temannya semakin marah.


”Ternyata kau!“


Geram preman itu dan melayangkan pukulan namun sayang pukulan itu malah mengenai temannya sendiri yang Queen lilitkan tangannya dan mendorongnya.


“Kenapa kau malah menonjoku,”


Terik preman yang tertonjok.

__ADS_1


“Gak segaja, bodoh”


"Ah ... bug .. bug .., "


Bukannya melawan Queen para preman itu malah bertengkar dan saling memukul satu sama lain.


Queen malah tersenyum, berbeda lagi dengan ketua preman itu malah semakin geram melihat tingkah temannya yang sangat gob**k. Dia langsung menyerang Queen tiba-tiba.


Bug ...


Queen yang lengah mundur kebelakang karena tendangan ketua preman itu, bukannya merasa sakit Queen malah tersenyum seringai dan menatap tajam. Tatapan Queen yang tajam seketika membuat ketua preman itu sedikit terkejut karena perubahan tatapan Queen yang menusuk.Dengan santai Queen berjalan dan menyarang ketua preman itu bertubi-tubi. Pukulan Queen layangkan membuat ketua preman itu kewalahan karena serangan cepat Queen. Preman itu tak tahu jurus apa yang Queen gunakan.


Bruk ...


Ketua preman itu terpental dan menabrak temannya yang dari tadi masih adu mulut ,alhasil mereka bertiga jadi terjungkal.


“Loe gak papahkan?”


Ucap Queen menghampiri Melati.


“Terimakasih kamu sudah menolongku,”


Bukannya menjawab Queen menarik tangan Melati kearah motornya. Ketika Queen melewati para preman Queen menatap tajam lagi.


“Jangan pernah kalian mengganggu wanita lemah kalau kalian tidak mau keluarga wanita kalian mati di tanganku!”


“Tapi nona, gadis yang kau bawa punya banyak hutang. Kami hanya disuruh menagih?”


Teriak ketua preman yang berusaha berdiri.Membuat langkah Queen berhenti dan berbalik..


“Berapa hutangnya?”


“Lima belas juta?”


Queen mendekati preman itu, membuat para preman ketakutan.


“Hanya karena hutang kalian menagih sambil mau melecehkannya. Apa kalin tidak mempunyai hati nurani, Hah. Bagaimana kalau itu anak, istri atau keluarga kalian yang di gitukan apakah kalian terima, hah.”


Bentak Queen menggebu matanya sudah melotot.


”Ambil cek ini untuk membayar hutang gadis itu!”


Ucap Queen lagi, sambil memberikan cek ketangan salah satu preman itu dan meninggalkan tempat itu .


Entah kenapa hati Queen mendidih melihat Melati mau dilecehkan karena hutang.Membuat Queen semakin benci pada laki-laki mereka semuanya sama saja bisanya merendahkan wanita. Queen seperti bukan dirinya sendiri, semenjak tahu percerayai kedua orang tuanya hati Queen semakin dingin tak tersentuh. Apalagi ayahnya tak pernah menunjukan batang hidungnya lagi, sekedar menanyakan kabarpun tidak. Semua itu membuat Queen kian sakit, ayah yang selama ini dia banggakan dan sayang semuanya hilang dengan rasa kecewa walau sebenarnya di lubuk hati Queen masih ada ruang rindu. Rindu mengharapkan sang ayah datang walau hanya sekedar menanyakan kabarnya.


“Rumahmu di mana? “

__ADS_1


Tanya Queen memelankan laju motornya


“Di depan sana, ”


Jawab Melati sambil menunjukannya, Queen langsung menghentikan motornya tepat di depan rumah Murni. Rumah yang sederhana memiliki halaman kecil.


“Mampir dulu?”


Tawar Melati karena Queen mau melajukan motornya lagi. Queen tak menjawab malah melihat Murni datar, membuat Melati mengerti.


"Terimakasih sudah membantu saya, saya janji kalau sudah punya uang akan mengganti uang kamu, ”


“Jadi perempuan jangan lemah!”


Ucap Queen langsung melajukan motornya membuat Melati melongo.


Queen tersenyum ketika sampai rumah mendapati sang mamah sudah pulang.


”Assalamualaikum, mah.”


Dinda menoleh keasal suara dan tersenyum melihat putrinya sudah pulang.


“Waalaikumsalam, sayang.”


"Tumben mamah nyiram bunga, ”


“Mamah pengen aja, kebetulan tadi pekerjaan mamah sedikit jadi pulang lebih awal. Mamah bosan, ya sudah nyiram saja tanaman sambil nunggu anak mamah pulang,”


Ucap Dinda sambil tersenyum, Queen mengangguk saja.


“Nak entar malam siap-siap yah, mamah mau ngajak kamu makan diluar.”


Lagi-lagi Queen hanya mengangguk dan pamit masuk kedalam. Dinda hanya bisa tersenyum penuh arti.


”Semoga malam ini awal bahagia kamu nak,mamah ingin melihat senyuman hangat kamu yang telah lama menghilang,”


Gumam Dinda dan melanjutkan pekerjaan menyiramnya.


Queen membaringkan tubuhnya di atas ranjang sambil menatap langit-langit tak lama Queen terbangun lagi membuka laci mengeluarkan sebuah pas poto. Seorang bocah kecil yang sedang tersenyum di pelukan anak laki-laki. Queen mengamati poto itu dengan seksama menelusuri setiap pahatan wajah bocah laki-laki itu yang berbeda usia tujuh tahun di atas Queen.


”Kapan kamu datang seperti janjimu itu, apa kamu akan terus menghindar membuat aku perlahan membencimu. Aku butuh kamu, tapi aku juga kecewa. Kecewa yang menyesakan membuat aku marah, marah ingin meleyapkanmu. Apa tak ada yang mau kamu jelaskan!”


Gumam Queen, tak terasa cairan bening membasahi kedua pipi Queen. Lagi-lagi rasa sesak itu datang lagi, sungguh miris bukan.Queen terlihat kuat namun nyatanya hatinya begitu rapuh tak ada yang tahu cuma Queen sendiri yang merasaannya.


Bersambung....


Jangan lupa Like dan Votenya Say... he.. he...

__ADS_1


__ADS_2