
Queen duduk di atas pangkuan sang suami sambil menyuapi sang suami dengan penuh kasih sayang.
"Apa bee selalu telat makan siang?"
Queen memicingkan mata menatap curiga pada sang suami yang gelagapan.
"Ah .. itu, tidak juga sayang. Kebetulan hari ini memang lelah jadi bee tidur sebentar."
"Hm,"
Queen berusaha percaya saja tak mau menyudutkan sang suami. Mulai hari ini, Queen putuskan akan selalu mengantar makan siang untuk sang suami. Dan, walaupun dia tidak bisa maka Queen akan mengirim mang Danang untuk mengantarkannya.
Queen mengelap mulut sang suami yang belepotan, lalu menyodorkan minum.
"Terimakasih sayang, masakannya sungguh lezat."
"Tapi, masalah tad ..."
"Suttt .. jangan bahas itu, Rora gak apa-apa kok. Jangan salahkan mereka, mereka tidak tahu siapa Rora. Justru kerja mereka bagus sudah menjaga bee dari wanita-wanita ganjen."
"Tapi, mereka mengusir kamu sayang ..."
Farhan masih tak terima istrinya di perlakukan semena-mena. Siapapun harus membayar mahal akan hal itu. Bagaimana kalau terjadi sesuatu.
"Tenang bee ..."
Queen mengelus dada sang suami, berharap ini bisa menenangkan hatinya.
"Jika bee tetap mau menghukumnya silahkan. Tapi, kasihanilah keluarga merek, mereka pasti punya keluarga yang mereka nafkahi. Jika mereka bee pecat, siapa yang menafkahi keluarganya,"
"Kenapa sayang selalu memberi kejutan,"
Farhan mengeratkan pelukannya hingga tubuh Queen menempel pada tubuh sang suami.
"Apa bee gak berat, badan Rora gendut loh,"
"Apa nya yang berat, ini nyaman sayang."
Tak ada percakapan lagi di antara mereka, suami istri itu hanyut dalam pelukan masing-masing. Mencari kenyamanan tersendiri dalam pelukan itu.
Queen mengelus-elus kepala sang suami yang menempel di dadanya.
Drettt ...
Suara ponsel Queen berdering, memecah keheningan yang tercipta.
Queen tersenyum ketika tahu siapa yang menelepon.
"Iya mah,"
"Nak kamu dimana?"
Queen menautkan kedua alisnya atas pertanyaan mama Adelia.
"Queen di kantor Biru mah, kenapa mah, apa mama butuh sesuatu di sana?"
Terdengar helaan nafas di sebrang telepon membuat Queen benar-benar bingung. Bahkan Queen melirik pada suaminya.
"Ah ... kejutan mama jadi gagal deh, ini mama sudah pulang, tapi di rumah tak ada siapapun!"
"Hah, mama sudah pulang!"
"Iya sayang, cepet pulang ya .."
__ADS_1
Mama Adelia langsung mematikan teleponnya.
Queen menatap tak percaya pada sang suami, begitupun Farhan yang kebingungan.
"Mama sudah pulang bee, ayo kita pulang."
Farhan terkejut ketika sang istri melompat dari pangkuannya. Membuat Farhan jantungan saja.
Queen memberi pesan pada mang Danang supaya pulang terlebih dahulu.
Queen menarik tangan sang suami agar cepat membuat Farhan tak bisa menolak. Padahal ada beberapa berkas yang harus Farhan periksa. Tapi, Farhan tak mau mengecewakan sang istri. Apalagi sang istri terlihat bahagia sekali.
"Iya sayang, tapi hati-hati jalannya. Ingat ada baby di perut sayang,"
Tegur Farhan lembut sambil menarik pinggang sang istri merapat pada tubuhnya.
Para karyawan dan staf yang melintas melihat bos mereka memperlakukan Queen dengan lembut. Bahkan tatapannya begitu penuh cinta.
Mereka bertanya-tanya siapa wanita yang bersama bos mereka, bahkan dalam keadaan hamil besar. Mereka belum pernah melihat bos mereka seperti itu pada perempuan. Bahkan jika adapun yang mendekati siap-siap saja berujung di permalukan.
Bahkan ketika Farhan dan Queen sampai di lobi, sang resepsionis langsung membulatkan kedua matanya. Lagi-lagi melihat bosnya memperlakukan orang yang dia usir tadi dengan penuh kasih sayang.
Sang resepsionis langsung menunduk takut ketika Queen tersenyum ke arahnya. Begitupun kedua satpam tadi. Niat mereka ingin minta maaf karena sudah melakukan kesalahan besar.
"Tu .."
"Kalian selamat karena istriku,"
Ucap Farhan dingin masih kesal akan kejadian tadi.
Queen hanya tersenyum saja, bahkan senyuman itu membuat ketiganya terpaku. Berbeda dengan tadi. Pas pertama Queen begitu dingin dengan tatapan datar, tapi sekarang begitu berbeda.
"Cantik!"
Gumam mereka bertiga melihat senyum manis Queen yang jarang Queen perlihatkan pada orang lain. Hanya pada keluarga dan suami tercintanya saja.
"Sebahagia itu sayang?"
"Iyalah bee, jadi Rora ada temannya lagi. Gak kesepian deh."
Farhan seakan tertampar dengan ucapan sang istri. Farhan pikir sang istri baik-baik saja ketika dia tinggal kerja.
Queen memang yang paling jago menyembunyikan perasaannya.
"Ye ... sudah sampai ..."
Queen langsung ke luar tanpa menunggu suaminya terlebih dahulu. Dengan cepat Queen berjalan masuk ke dalam rumah.
Bruk ...
"Mama .."
"Sayang,"
Queen memeluk mama Adelia begitu erat walau terhalang dengan perutnya yang buncit.
"Gimana kabar kalian, baby baik kan?"
"Baik mah, Queen kangennn ..."
Mama Adelia terkekeh mendengar rengekan menantunya. Jika Queen sudah bersikap manja maka Farhan akan terlupakan.
Farhan hanya diam saja melihat kehebohan mama dan istrinya tanpa memperdulikan dirinya. Seakan dunia milik mereka berdua.
__ADS_1
Perhatian mama Adelia memang untuk Queen seorang. Bahkan mama Adelia membelikan berbagai macam mainan tanpa tahu perempuan atau laki-laki cucunya.
"Duh, mama sudah tak sabar menanti cucu mama lahir,"
"Rora juga mah, apa yang mama rasakan ketika melahirkan?"
"Rasanya sangat istimewa sayang, mama tak bisa menjelaskannya oleh kata. Tapi, sebentar lagi Rora akan merasakannya. Perjuangan seorang ibu tak mudah, dia bahkan mempertaruhkan nyawanya demi mengeluarkan malaikat kecil tanpa dosa. Di situ kita akan merasa, kasih sayang seorang ibu bagaimana."
"Sakit gak mah?"
Mama Adelia malah terkekeh mendengar pertanyaan polos menantunya. Sungguh Queen memang menggemaskan. Kala dia bertingkah manja, kala dia bertingkah dewasa, kala dia bertingkah menyeramkan. Dan, sekarang Queen menunjukan sisi polosnya.
"Sakit! namun, rasa sakit itu akan terbayar mendengar suara tangisan baby,"
"Sudah, kenapa kita ngebahas itu. Ceritakan, kenapa kekantor, mama jadi gagal deh buat kejutannya?"
"Maaf mah, tadi Queen hanya bosan saja!"
Jawab asal Queen, gak mungkin kan Queen menjelaskan kalau dia tadi mengantar makan siang karena tahu Farhan belum makan. Yang ada masalahnya jadi panjang, kenapa Queen bisa tahu. Bisa gawat kalau Queen pada akhirnya ketahuan meretas keamanan kantor Farhan.
"Maaf ya, mama lama di Jerman. Mama sengaja pulang cepat karena tahu Biru akan ke Jerman Minggu depan. Mama gak mau nanti menantu mama sendirian,"
Senyuman Queen seketika luntur mendengar suaminya akan ke Jerman. Queen belum tahu itu, kenapa suaminya belum memberi tahu pada dirinya.
Farhan jadi salah tingkah di tatap seperti itu oleh sang istri.
Queen kembali tersenyum karena tak mau membuat mama Adelia bertanya.
"Iya mah, sekarang mama istirahat dulu ya, mama pasti cape,"
"Ya sudah, kamu juga ya sayang."
"Hm,"
"Sayang ..."
Queen langsung beranjak setelah mama Adelia masuk kamar. Queen tak memperdulikan panggilan suaminya. Queen terus saja berjalan menuju kamarnya.
Farhan mendekati sang istri yang duduk di sisi ranjang dengan wajah di tekuk.
"Sayang .."
"Berapa lama bee di sana?"
"Maaf, bee belum memberitahu sayang. Tadinya bee akan kasih tahu pas pulang dari kantor tapi nyatanya mama terlebih dahulu ngomong,"
"Ada masalah di perusahaan cabang di sana dan harus bee yang membereskannya."
"Berapa lama di sana?"
"Bee kurang tahu, tapi bee berusaha akan pulang cepat,"
"Apa bee akan mendampingi Rora, di saat Rora akan melahirkan?"
"Itu pasti sayang, maaf ya .. "
Farhan menarik sang istri ke dalam pelukannya.
Bersambung...
Jangan lupa Like Hadiah Komen dan Vote Terimakasih....
Hay ... semuanya...
__ADS_1
Maaf ya jika besok author tidak update, di kerenakan besok ada acara. Tapi, Author akan usahakan agar tetap bisa Update.
Terimakasih...