
Farhan dan Daniel sampai di lokasi, Farhan memejamkan kedua matanya membayangkan bagaimana sulitnya kedua orang tuanya keluar dalam situasi mencengkram.
Farhan perlahan membuka matanya melihat ke bawah. Jurang ini begitu dalam dengan bebatuan yang tajam. Tidak mungkin satu orangpun bisa selamat dari sini.
"Tuan, anda yakin akan turun?"
"Iya!"
Jawaban dingin nan tegas membuat Daniel langsung mengerti. Dengan isyarat tangannya Daniel memerintahkan anak buahnya bergerak cepat.
Satu persatu anak buah Farhan turun ke bawah dengan badan yang sudah memakai baju pengaman. Jadi tidak takut akan ada ranting atau benda tajam yang menggores anggota tubuhnya.
Sudah anak buahnya turun semua, kini Farhan dan Daniel yang turun. Farhan begitu hati-hati dengan mata yang terus waspada.
Jurang ini begitu dalam, jika di lihat dari atas tidak terlihat dasarnya karena banyak pohon besar dan ranting-ranting yang menghalangi.
Lima belas tahun, Farhan hanya berharap ada kepingan petunjuk yang dia dapat.
Anak buah Farhan berpencar, walau sulit tapi mereka tetap turun. Sebagian anak buah Farhan menentukan kepingan mobil yang sudah berlumut.
Farhan menuju anak buah yang menemukan beberapa keping mobil. Farhan terdiam melihat kepingan itu yang sudah bercampur lumut ada juga yang sudah jadi batu. Lima belas tahun waktu yang begitu lama, wajar jika kepingan itu sudah tak utuh lagi.
"Tuan saya yakin, melihat situasi seperti ini kemungkinan besar tuan besar tidak selamat!"
Ya, Farhan tak menyangkal itu, apa yang anak buahnya ucapkan memang benar. Farhan hanya ingin membuktikan saja, supaya hati sang mama tenang. Setidaknya Farhan harus menemukan tulang belulang sang ayah.
"Tuan, di depan sana ada sebuah sungai!"
Ucap salah satu anak buah Farhan yang mencari ke bagian timur.
Farhan terdiam mencoba berpikir, jika ada sungai maka besar kemungkinan pasti ada penduduk.
"Cari di dekat sungai, apa ada penduduk atau tidak!"
"Baik tuan!"
Farhan dan Daniel langsung mengikuti langkah anak buahnya, sedang sebagian tetap mencari di bagian barat, selatan dan Utara.
Baju Farhan sudah basah oleh keringat, tapi Farhan tak lelah. Farhan hanya ingin meyakinkan sang mama kalau sang papa benar-benar sudah tak ada. Farhan tak mau membuat sang mama terus bersedih menunggu ketidak pastian. Farhan ingin sang mama bangkit dan terus meneruskan kehidupannya tanpa meratapi kepergian sang papa.
Walau rasanya pasti sulit, tapi Farhan ingin meyakinkan kalau sang papa memang benar-benar sudah tak ada.
Bruk...
Sret...
"Jebakan!!"
Daniel dengan cepat mendorong Farhan hingga tak mengenai potongan kayu yang bergelantung. Sedang salah satu anak buahnya terkena jaring.
Farhan begitu terkejut, bagaimana bisa di hutan begini ada sebuah jebakan. Membuat keyakinan Farhan kuat bahwa ada rumah penduduk di sekitar sini dan kemungkinan besar mereka tahu tentang kecelakaan ini.
__ADS_1
Tiba-tiba segerombol orang berpakaian aneh-aneh datang. Tapi, anehnya orang-orang itu menodongkan senjata. Bukan tombak atau semacamnya. Dari cara memegang senjata Farhan bisa tahu, bahwa orang-orang ini bukan orang sembarangan.
"Siapa kalian, kenapa masuk ke wilayah kami?"
Farhan mengisyaratkan pada anak buahnya diam di tempat jangan melawan. Sepertinya orang yang akan Farhan hadapi bukan orang sembarangan.
"Kami di sini hanya sedang menyelidiki kecelakaan lima belas tahun lalu."
"Jangan bohong, kalian pasti penyusup yang ingin menguasai wilayah kami."
Farhan mengisyaratkan pada anak buahnya untuk tetep dia, jangan ada yang melawan sedetikpun. Farhan, Daniel dan sebagian anak buahnya di bawa oleh orang-orang yang tak di kenal. Sedang anak buah sisanya bersembunyi di balik batu dan pepohonan sambil mengikuti kemana tuan mereka di bawa pergi.
Farhan di seret pada sebuah pondok dimana di setiap jalan hanya ada beberapa penduduk saja. Mungkin ini pelosok entah masuk ke daerah mana Farhan juga tidak tahu.
Tapi, Farhan sedikit merasa tak asing dengan kalung yang di pakai orang-orang yang memakai masker itu.
"Cepat panggil ketua, jika ada penyusup masuk?"
Perintah salah satu yang menyeret Farhan. Farhan tetap tenang saja tak merasa takut sama sekali.
Tak... tak... tak...
Suara langkah kaki terdengar nyaring, seseorang keluar dengan gaya Coll nya. Terlihat aura kepemimpinan walau memakai pakaian biasa. Orang-orang yang menyandera Farhan langsung membungkuk hormat ketika ketua mereka keluar.
"Ketika bangkai tercium baunya!"
Orang yang di sebut ketua, tersenyum seringai mendengar ucapan Farhan. Lalu berdiri dengan gaya arogannya sambil membuang sebatang rokok yang baru dia hisap. Semua orang menautkan alisnya bingung, kenapa sang ketua tak langsung mengeksekusi para penyusup.
"Ketua mer..."
"Buka ikatannya, mereka tamu kehormatan ku."
Glek...
Orang-orang yang mengikat Farhan dan anak buahnya menelan ludahnya kasar. Pasalnya mereka sudah salah tangkap.
Dor...
Bruk...
Anak buah Farhan yang bersembunyi terkejut akibat sebuah tembakan yang hampir mengenai kepala mereka.
"Keluar kalian..."
Anak buah Farhan keluar membuat orang-orang yang menyandra Farhan tadi terkejut. Pasalnya mereka tak menyadari kalau masih ada komplotan mereka.
"Bang.."
"Al-biru ha..ha...ternyata kau memang cerdik!"
Farhan dan sang ketua berpelukan jantan seperti seorang teman yang sudah lama tak bertemu. Sontak semua yang ada di sana terkejut kecuali Daniel yang memang tahu siapa sang ketua itu.
__ADS_1
" Dia adikku, ketua Ghost, Farhan Al-biru!"
Semua orang langsung menunduk hormat pada Farhan.
Farhan langsung di bawa ke dalam sebuah rumah. Terlihat sederhana tapi ketika sudah masuk ke dalam, rumah ini begitu mewah.
"Bang Jon, sepuluh tahun. Ternyata Abang bersembunyi di sini!"
Ucap Farhan tak menyangka akan bertemu dengan bang Joni. Bang Joni dulu adalah ketua geng motor Ghost sebelum jabatannya di serahkan pada Farhan. Ketika itu waktu Farhan berusia dua puluh tahun dan bang Joni memutuskan pensiun karena ingin mengasingkan diri di tempat yang damai.
"Bagaimana anak-anak Ghost?"
"Sudah pada vakum, bang. Dari enam tahun yang lalu. Mereka rata-rata menikah dan membuka bisnis."
"Bagaimana kabar om Gerry?"
"Saya kurang tahu bang, Om Gerry sulit di lacak, dia suka pindah-pindah. Bahkan markasnya dia serahkan pada Riko."
"Dan istri loe ada di baliknya!"
Farhan tersenyum ternyata bang Joni tahu tentang Queen. Berarti selama ini masih ada anak-anak Ghost senior yang masih berkeliaran di kota.
"Lalu apa yang membuat kau berada di sini, gue yakin loe bukan sedang mencari gue!"
"Saya sedang menyelidiki kecelakaan lima belas tahun lalu. Papa, mama dan om Lukman kecelakaan di tebing sana. Apa Abang tahu sesuatu!"
"Lima belas tahun lalu!"
"Ya, mama sama om Lukman selamat tapi sampai saat ini keberadaan papa belum di temukan. Apa Abang tahu sesuatu!"
Bang Joni tersenyum seringai menatap Farhan penuh arti.
"Bodoh!"
"Maksud Abang!"
Farhan begitu bingung dengan apa yang di katakan bang Joni. 'Bodoh' maksudnya apa, Farhan tak mengerti begitupun Daniel.
"Bang apa Abang tahu sesuatu, tolong katakan!"
Bang Joni melihat jam pergelangan tangannya, seketika bibirnya tersenyum tipis.
"Istri dan mama mu dalam bahaya! pulanglah!"
Deg...
"Mak..maksudnya bagaimana bang, bahaya gimana!"
"Lukman, yang kalian anggap Lukman dia bukan Lukman melainkan Samuel. Dia sengaja merubah wajahnya!"
"Apa!!!"
__ADS_1
Bersambung....
Jangan Lupa, Like, Hadiah, Komen dan Vote Terimakasih....