Gadis Dingin

Gadis Dingin
Bab 57 Istana Cinta


__ADS_3

Sudah selesai dengan acara makannya, semua keluarga beralih ke ruang utama. Mereka di sana kumpul membicarakan seputar bisnis.


Sedang Daniel dan Fandi sibuk main catur di temani segelas kopi yang Dinda buatkan.


Jika semua keluarga sibuk di dalam berbeda dengan Farhan dan Queen. Pasangan itu sedang duduk di pinggir kolam dengan kedua kakinya mereka sengaja tenggelamkan ke dalam kolam.


"Rora,"


"Hm,"


"Apa kamu gak memberiku sesuatu!"


"Apa!"


"Semua keluarga memberiku hadiah, cuma kamu yang belum,"


"Ingat! Sudah tua, masa ingin hadiah!"


"What!"


Pekik Farhan melotot di bilang tua, padahal usia Farhan baru dua puluh tujuh tahun.


Queen terkekeh melihat wajah terkejut Farhan yang terlihat menggemaskan di mata Queen.


"Apa kamu benar-benar ingin hadiah dariku?"


"Iya, tapi kalau kamu gak ngasihpun gak pa-pa. Asal kamu selalu berada di sisiku,"


Queen tersenyum mendengar ucapan tulus Farhan, entah kenapa hatinya menghangat.


"Mau kemana?"


"Tunggu di sini,"


Farhan hanya mengangguk melihat Queen beranjak masuk kedalam. Entah apa yang Queen ambil Farhan tak peduli. Bagi Farhan hanya Queen kado terindah yang dia dapatkan.


Farhan menggerak-gerakan kedua kakinya di dalam air kolam hingga Queen kembali duduk di samping Farhan.


"Ini,"


Farhan menyerngit melihat kotak yang Queen berikan berukuran sangat kecil seperti kotak cincin. Tapi, tidak mungkin Queen memberinya cingcin.


Farhan membulak-balik kan kotak kecil itu yang di hiasi pita berwarna pink.


"Apa ini?"


"Buka saja,"


Perlahan Farhan membuak tali pitanya lalu perlahan membuka kotak kecil itu. Seketika Farhan terdiam dengan mata menatap intens benda di dalamnya.


Lalu Farhan mengalihkan tatapannya pada Queen yang tersenyum dan itu membuat jantung parhan bekerja tidak baik.

__ADS_1


"R-Rora sudah mengingatnya?"


"Iya, aku sudah mengingatnya!"


"K.. kalung i.. ini begitu berharga di keluarga Al-biru."


Lilir Farhan mengambil Liontin yang ada di dalam kotak kecil itu dengan mata berkaca-kaca.


"Maka dari itu, aku kembalikan pada sang pemiliknya. Bukankah itu kado yang teristimewa di antara yang lain."


"Ya, kado ini teristimewa dari yang lain. Tapi, Liontin ini bukan milikku lagi. Sejak tiga belas tahun Liontin ini sudah aku berikan pada gadis yang begitu menggemaskan. Tanda bukti kalau aku mengikat gadis itu kedalam hidupku. Akan tetapi, waktu merubah segalanya hingga aku kehilangan gadis kecilku. Maka..."


Farhan mengalihkan tatapannya pada Queen, tatapan penuh cinta yang begitu dalam hingga Queen hanyut di dalamnya.


"Maukah kamu menjadi wanitaku?"


"Apa Biru begitu mencintai gadis kecil itu?"


"Sangat!"


"Terus kenapa memilihku, bukan gadis itu?"


"Karena gadisku sudah tumbuh menjadi wanita dewasa. Bukan lagi menggemaskan tapi dia tumbuh begitu cantik dan manis hingga aku ingin memiliki dia seutuhnya. Gadisku tumbuh menjadi wanita di hadapanku, ku ulang, maukah kamu menjadi wanitaku hari ini esok dan selamanya?"


"Kalau aku tak mau?"


"Maka aku akan memaksa!"


"Seperti apa!"


Cup...


Sebuah kecupan mendarat di kening Queen, Queen memejamkan kedua matanya merasakan kehangatan dari kecupan Farhan. Hingga Farhan menjauhkan bibirnya berganti dengan belayan tangan Farhan.


Queen masih memejamkan kedua matanya merasakan setiap sentuhan tangan Farhan menelusuri setiap inshi wajahnya hingga Farhan berhenti di bibir seksi Queen. Ingin sekali Farhan menyesap bibir ini, ingin merasakan bagaimana manis dan legitnya. Hingga tangan Farhan bergerak kembali membelai leher Queen dan


"Bukankah Liontin ini sangat indah terpasang pada sang pemiliknya,"


Queen membuka kedua matanya ketika tangan besar Farhan berada di atas dadanya sedang menggenggam liontin yang entah sejak kapan sudah melingkar indah di leher Queen. Repleks Queen memegang liontin itu dan benar saja liontinnya sudah terpasang indah di lehernya hingga mampuh membuat bibir Queen tertarik ke samping.


"Apa kamu begitu mencintaiku waktu kecil atau sekarang?"


"Kalian adalah satu orang di generasi yang berbeda. Aku mencintai kamu dari kecil hingga sekarang cinta itu sama walau di usia yang berbeda."


Queen menyandarkan kepalanya di pundak Farhan dengan tangan yang memainkan jari-jari tangan Farhan sesekali Queen mencium tangan besar Farhan. Seolah Queen ingin waktu ini berhenti agar tetap pada rasa yang sama.


Tanpa Farhan sadari bahwa dirinya sudah mengungkapkan kata cinta pada Queen. Rasa cinta yang tak bisa di cegah, bahkan rasa itu malah tumbuh semakin subur.


Dua inshan yang hanyut dalam perasaan dan pikiran masing-masing. Hingga Farhan dan Queen tidak sadar kalau sendari tadi kedua orang tuanya mengintip hingga mereka kembali membiarkan Queen dan Farhan mengungkapkan segala rasa yang membelenggu hatinya selama ini.


"Kapan kamu siap menikah?"

__ADS_1


Sebuah pertanyaan yang mampuh membuat Queen langsung mendongkak dengan posisi masih bersandar di bahu Farhan. Begitupun Farhan menunduk sedikit guna melihat wajah kekasihnya. Jarak mereka begitu dekat bahkan hidung mancung Farhan hampir menyentuh kening Queen.


"Aku sudah siap, kapanpun. Bahkan sekarangpun aku siap, tapi..."


Queen menunduk tapi dengan cepat Farhan menarik dagu Queen hingga Queen kembali mendongkak dengan mata saling tatap menembus kedalam mata masing-masing.


Terlihat jelas pancaran cinta dan kasih sayang dari keduanya. Bahkan debaran jantung keduanya saling berirama bak melodi mengalun indah.


"Tapi kenapa, Hm?"


"Nunggu mama hamil bisakan,"


Cicit Queen memelas bahkan matanya mulai berkaca-kaca.


"Bagaimana kalau mama tidak hamil!"


"Tunggu tahun depan aku wisuda, bahkan di hari wisudapun kita nikah aku setuju!"


Farhan menatap intens bola mata jernih yang terlihat jelas memancarkan kegelisahan. Tapi kata-kata yang Queen ucapkan adalah keseriusan dan Farhan bisa melihat itu.


Bukan Farhan ingin cepat-cepat memiliki Queen. Tapi, ada sesuatu yang harus Farhan lakukan dan Farhan tak mau berjauhan dengan Queen. Kalau sudah menikah maka Farhan akan membawa Queen.


"Baiklah aku akan menunggu!"


"Apa kamu kecewa?"


"Iya, tapi mau apa, aku tak bisa memaksa!"


"Maaf!"


Lilir Queen merasa bersalah, entah siapa di sini yang egois.


Hening...


Mereka sama-sama diam bergelut dengan pikiran dan rasa yang bergemuruh. Walau tatapan mereka masih saling mengunci tapi entah kemana pikiran keduanya.


"Aku tahu, ini bukan tentang mama ataupun tentang adik. Tapi, ini tentang om Fandi!"


Queen mengerjapkan kedua matanya seakan tersadar dari lamunannya. Ucapan Farhan sukses membuat Queen akhirnya mengangguk. Entah kenapa Farhan selalu saja bisa menebak apa isi kepala dan perasaannya.


"Kenapa kamu selalu bisa menebak pikiranku. "


"Karena kamu ratu hati dan pikiranku. Jika seorang ratu sedang banyak masalah bukankah penasihat yang akan selalu mengerti ratunya. Aku ingin menjadi penasehat ketika ratuku sedang gelisah dan aku akan berubah menjadi raja untuk memberi istana cinta,"


Bluss...


Pipi Queen merona mendengar gombalan Farhan. Farhan selalu bisa mencairkan suasan yang dingin menjadi hangat kembali.


Bahkan tadi sedikit tegang, tapi Farhan berusaha menyamankan kembali keadaan supaya Queen tak tertekan.


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa Like dan Vote....



__ADS_2