
Queen tak habis pikir dengan pikiran sang ayah. Kenapa bisa dengan entengnya bicara seperti itu tanpa memikirkan perasaannya.
Dulu ketika Queen membutuhkan sang ayah tidak ada bahkan ketika sakitpun tak menjenguk sama sekali. Kini, Queen hanya meminta izin akan terkabul keinginannya tapi nyatanya hal yang menyakitkan yang Queen terima. Apa salahnya Queen ingin menikah! tak mau kehilangan laki-laki yang Queen cintai.
Angga seolah-olah berhak menentukan jalan hidup Queen. Padahal kemana setiap kali Queen naik kelas, tak pernah sekalipun sang ayah datang. Tapi, kini Angga tampil seakan dia jadi ayah yang baik dan lupa dengan apa yang dia lakukan.
Kebahagiaan yang akan berajut menjadi berantakan sebelum melangkah.
Luka yang belum kering sekarang kembali basah dan itu sangat sangat melukai hati Queen.
Bahkan sampai sekarang Angga tak berusaha dekat dengan Queen, tapi dengan entengnya berbicara soal pendidikan, karir dan pewaris. Bahkan Queen sedikitpun tak menginginkan kekayaan sang ayah sedikitpun. Yang Queen butuhkan hanya kasih sayang dan mengerti akan keinginannya. Tapi, sang ayah sampai sekarang tak mengerti dan tak tahu apa-apa tentang Queen.
"Sayang..,"
Panggil Dinda mengelus rambut Queen lembut dimana Queen menenggelamkan wajahnya di balik bantal.
"Maafin mama ya, semuanya salah mama!"
Queen langsung bangun ketika mendengar ucapan sang mama yang menyalahkan dirinya sendiri. Queen tidak menyalahkan sang mama dalam situasi seperti ini, walau sang mama yang awalnya menolak tapi kemudian menyetujuinya. Itu sudah cukup bagi Queen, berarti sang mama mengerti akan hatinya.
"Mama jangan menyalahkan diri mama sendiri, Queen tidak pa-pa ko,"
"Maafkan mama yang tak mengerti keinginan Queen. Padahal ini hanya satu permintaan kecil dari kamu,"
Lilir Dinda menarik sang putri kedalam pelukannya. Dinda sadar, selama ini anaknya tak pernah menuntut apa-apa darinya kecuali kasih sayang yang sendari dulu Queen inginkan. Tapi, kenapa ketika sang putri menginginkan sesuatu Dinda malah sempat akan menolak. Jika saja Dinda tak langsung sadar mungkin Queen akan jauh lebih sakit ketika menyadari kedua orang tuanya tak ada yang mengerti tentang dirinya sedang orang lain faham. Akan tetapi, restu Dinda sedikit membuat Queen tidak terlalu kecewa akan penolakan sang ayah.
"Apa Queen salah menginginkan Biru milik Queen seutuhnya. Kenapa ayah malah mengungkit masa lalu Queen! bahkan ayah tak tahu apa-apa tentang nilai Queen!"
Hati Dinda terasa tercubit mendengar nada kecewa sang putri. Dinda merasa gagal menjadi seorang ibu, pada kenyataannya memang Dinda juga tak pernah tahu bagai mana nilai sekolah Queen. Dinda juga baru tahu ketika akan pinda rumah, banyak piala dan piagam yang Queen raih dan hanya bi Nina yang tahu semuanya. Karena bi Nina yang selalu mendampingi Queen.
__ADS_1
"Nanti mama yang akan menjelaskan pada ayah, mungkin ayah salah faham. Kiranya Farhan yang memaksa Queen padahal ini murni keinginan kalian berdua."
"Tidak perlu, Mah. Queen tidak apa-apa ko, ayah benar! Queen anak yang banyak catatan merah, mungkin ayah akan malu jika nilai Queen jelek. Dan Queen belum pantas menjalani rumah tangga!"
"Terus apa keputusan akhir?"
"Mungkin Queen akan melepaskan Biru tanpa mengikat apapun!"
"Daddy yakin, Biru akan setia di sana. Jangan ragukan itu! Daddy tahu sebesar apa cinta Biru pada tuan putri daddy!"
Queen mendongkak menatap sang daddy yang tersenyum menghampirinya tanpa melepaskan pelukannya dari sang mama.
"Kenapa Daddy se yakin itu!"
"Karena kalian berdua tumbuh dari pengawasan daddy,"
"Sebenarnya daddy sudah tahu sejak satu bulan lalu rencana keberangkatan Biru, cuma Biru mengulurnya karena tak mau meninggalkan tuan putri. Tapi, waktu Biru sudah habis, mau tak mau Biru harus berangkat, karena menjadi pewaris Al-biru itu tidak mudah. Apa lagi Biru tak mau menyakiti hati ibunya yang pasti tentu kecewa jika Biru melepas tanggung jawabnya. Antara ibu dan kamu, kalian dua wanita yang sangat berharga bagi Biru. Jadi! jangan pernah menyuruh Biru memilih antara kalian, karena tentu mama Adelia yang akan mengalah demi putranya. Jadi, tugas tuan putri hanya mendukung apapun keputusan Biru, termasuk kalian harus saling berjauhan!"
"Karena Daddy pernah berada di posisi itu, walau daddy harus lera menunggu belasan tahun dengan jalan cerita yang berbeda. Tuan putri hanya satu tahun!"
Bruk...
Queen berhambur memeluk ayah sambungnya. Kenapa yang harusnya mengerti Queen malah orang lain bukan ayahnya sendiri. Andai saja Angga sedikit mengerti dan memberi pengertian dulu mungkin Queen tidak akan sekecewa ini. Mungkin Queen akan terima dan bisa mengerti tanpa ada luka yang kembali basah.
Dinda tak bisa membendung air matanya melihat putrinya begitu dekat dan terbuka dengan ayah sambungnya. Dan, itu benar-benar menjadi pukulan terbesar Dinda. Dinda benar-benar merasa gagal menjadi ibu. Harusnya Dinda selangkah lebih cepat bisa mengerti akan isi hati sang putri. Harusnya Dinda selangkah bisa membuat putrinya nyaman di dalam pelukannya.
Fandi mengelus punggung putri sambungnya sambil sesekali mencium puncak kepala Queen.
Dinda terperanjat ketika tangannya di genggam erat oleh Fandi, membuat Dinda langsung menatap sang suami yang tersenyum padanya. Seolah mengatakan bahwa semua akan baik-baik saja.
__ADS_1
"Tapi, tuan putri jangan membenci ayah ya!"
"Queen sudah mencoba tapi sikap ayah yang membuat Queen selalu membenci!"
"Mungkin niat ayah hanya ingin yang terbaik, jika orang tua keras maka kita sebagai anak hanya bisa mengalah. Tuan putri mengertikan maksud daddy?"
"Hm,"
Fandi hanya bisa menghela nafas, jika begini Fandi hanya bisa berusaha mengerti dulu. Jika di paksa Fandi takut amarah Queen semakin menjadi.
Fandi tahu, hati Queen begitu lembut dan mudah rapuh. Tapi, Queen pintar menyembunyikannya di balik sikap dinginnya. Tugas Fandi hanya memberi pengertian buat putri sambungnya. Karena Fandi takut, jika terlalu di tekan sikap keras kepala Queen akan menjadi sama halnya seperti Angga.
Jika Queen bisa tenang oleh Farhan dan Fandi maka Angga hanya bisa tenang oleh Murni.
Fandi menarik tangan sang istri hingga meletakannya di kepala Queen mengisyaratkan untuk memberi pelukan kembali pada Queen.
Dinda yang faham akan isyarat sang suami menggeser duduknya hingga merengkuh tubuh Queen hingga Queen seakan anak kecil yang di peluk oleh kedua orang tuanya.
Hingga Queen tersadar akan pelukan hangat sang mama membuat Queen berbalik menghadap Dinda.
Baru kali ini Queen bersikap selayaknya gadis pada umumnya. Merajuk ketika hatinya tergores, biasanya Queen akan memilih sendiri di temani buku dearynya. Tapi kali ini, Queen benar-benar butuh pelukan hangat sang mama hanya sekedar menenangkan hatinya.
"Jadikan mama menjadi tempat sandar Queen, jangan orang lain!"
"Daddykan bukan orang lain, Mah!"
"Tetap saja, mama tak suka. Karena mama yang melahirkan Queen,"
"Tak suka karena Queen menurut sama daddy atau cemburu karena daddy lebih sayang Queen dari pada mama,"
__ADS_1
"Kau ini dasar!"
Fandi hanya terkekeh melihat perdebatan kecil istri dan anaknya. Di saat seperti ini Dinda bisa saja bercanda dan Queen malah melayaninya.