
"Mudah-mudahan Melati bisa merubah Jek!"
"Mas yakin, Melati bisa melakukannya. Apalagi sekarang Jek terlihat bahagia dan sedikit gemukan,"
"Oh ya!"
"Iya, batu saja orang suruhan mas kasih tahu. Dan sepertinya sebentar lagi kita akan punya cucu,"
Murni tersenyum bahagia mendengar berita ini. Murni masih tak menyangka, kehadiran Melati benar-benar merubah putranya. Entah apa yang harus Murni lakukan untuk membalas jasa Melati.
Ya, memang Murni dan Angga sampai memohon pada Melati untuk menerima Jek. Jek tidak tahu tentang itu, bahkan Jek juga tidak tahu tentang syarat yang Melati ajukan. Dua syarat itu adalah permintaan Murni, karena Murni ingin putranya benar-benar berubah. Awalnya Melati tak setuju karena baginya ini sama saja kebohongan. Tapi Murni meyakinkan Melati kalau Jek benar-benar tulus mencintai Melati dan Murni yakin Jek akan melakukan apa saja demi orang terkasihnya.
Dan, benar saja. Kini misi Melati berhasil, bahkan tanpa Melati sadari benih-benih cinta telah tumbuh liar di hati Melati seiring perjalanan yang dia lalui bersama Jek.
Perhatian, kelembutan dan cinta yang Jek berikan membuat Melati benar-benar yakin bahwa Jek benar-benar tulus mencintainya.
Tapi, satu yang Melati tak sadar, bagaimana kalau Jek tahu tentang itu. Dan, Jek berpikir yang tidak-tidak tentang Melati.
"Mas, aku ingin bertemu Melati?"
"Boleh, tapi ingat. Jangan berkata yang aneh-aneh di depan Jek!"
"Iya, aku hanya ingin berterimakasih karena Melati sudah merubah putra kita,"
"Ya sudah. Tapi di antar supir ya, mas gak ikut karena ada meeting hari ini,"
"Gak pa-pa,"
Murni merasa bahagia karena sebentar lagi akan bertemu dengan menantunya. Sudah satu bulan lebih Murni tak bertemu dengan putrnya, Murni juga ingin tahu bagaimana perubahan putranya.
Sebelum berangkat, Murni memberi pesan pada menantunya, kalau dia akan berkunjung.
Kediaman Jek...
Melati yang baru selesai sarapan pagi bersama sang suami, mengalihkan pandangannya pada ponsel. Dimana ada pemberitahuan pesan masuk.
Melati tersenyum ketika membaca pesan tersebut. Membuat Jek mengerutkan kening bingung.
"Kenapa dek?"
"Bang, mama katanya mau kesini. Kangen sama abang,"
"beneran! em, tapi abangkan harus ke bengkel!"
__ADS_1
"Izin aja bang, apalagi abangkan baru sekarang bolosnya,"
"Gini saja, adek bilang saja sama mama suruh tunggu abang pulang kerja!"
"Apa gak kelamaan bang, abangkan pulang sore?"
"Gak, abang pulang siang, yang terpenting abang masuk kerja walau setengah hari. Kalau full abang gak enak, walau sama temen,"
"Ya sudah, nanti adek bilang sama mama, tunggu sampai siang,"
"Kalau begitu abang berangkat dulu ya, ingat jaga baik-baik di rumah!"
Melati melambaikan tangan pada sang suami yang siap menjalankan motornya.
Sudah tak terpandang oleh mata, Melati buru-buru masuk rumah dan bersiap beres-beres. Yang benar saja rumah berantakan sedang mertua akan berkunjung, gak banget.
Melati akan memperlihatkan kalau dia adalah menantu yang baik.
Melati berlari keluar ketika mendengar suara mobil. Melati tahu itu pasti mama mertuanya.
"Assalamualaikum sayang,"
Waalaikumsalam ma!"
"Bagaimana kabar mama sama papa?"
"Alhamdulillah kami baik, bagaimana kabar kamu. Apa Jek memperlakukan kamu dengan baik?"
Pipi Melati merona ketika di tanya seperti itu. Dan, Murni faham dengan gelagat menantunya. Murni bersyukur ternyata perkataan suaminya benar.
"Alhamdulillah Melati dan abang Jek juga baik, bang Jek juga memperlakukan Melati dengan sangat baik,"
"Syukurlah sayang, mama seneng dengernya!"
Murni yakin pernikahan putranya akan langeng. Terbukti di setiap kalimat yang yang Melati lontarkan terkesan malu-malu dan penuh rona bahagia.
"Terimakasih sayang, kamu sudah mau membantu kami merubah Jek menjadi yang lebih baik lagi!"
"Sama-sama mama, itu sudah menjadi tanggung jawabku sebagai istrinya!"
"Mama tak nyangka karena Jek akan bersedia memenuhi dua syarat itu. Mama pikir tadinya Jek akan menolak, secara Jek dari kecil sudah di manjakan oleh papanya."
"Melati juga tak menyangka bang Jek akan menyetujui dua syarat itu. Walau awalnya Melati ragu,"
__ADS_1
"Entah apa yang harus mama ucapkan atas rasa terimakasih ini. Kamu sudah mau menikah dengan Jek saja mama sudah bersyukur,"
" Melati ikhlas mah, bukankah ini rencana mama sama papa ingin merubah bang Jek menjadi tanggung jawab. Hingga dimana bang Jek sudah berubah maka kalian akan mengembalikan semua kemewahan itu. Kalau sudah seperti itu mungkin tugas Melati selesai!"
Ada nada getir di setiap kalimat yang Melati ucapkan. Paktanya, memang Melati terpaksa menerima Jek menjadi suaminya karena permintaan kedua orang tua Jek yang memohon-mohon padanya.
Tapi, seiring berjalannya waktu Melati menerima semuanya. Ketika Jek memperlakukan dirinya benar-benar seperti seorang ratu. Dan, sialnya cinta itu semakin tumbuh liar tanpa Melati sadari. Hingga yang awalnya keterpaksaan menjagi suka lera karena Melati juga sudah sangat-sangat jatuh cinta pada suaminya.
Tanpa mereka sadari sendari tadi Jek mendengar obrolan dua wanita berbeda generasi itu.
Tangan Jek mengepal erat dengan nafas yang naik turun menahan sesuatu yang mencubit hatinya.
Jek kecewa ternyata Melati menerimanya karena kedua orang tuanya bukan karena benar-benar mencintainya. Lalu apa arti dari semua yang mereka lewati apa ini juga hanya sandiwara.
Cih...
Ingin mengubah dirinya hingga layak menjadi pemingpin.
Melati ikhlas mah, bukankah ini rencana mama sama papa ingin merubah bang Jek menjadi tanggung jawab. Hingga dimana bang Jek sudah berubah maka kalian akan mengembalikan semua kemewahan itu. Kalau sudah seperti itu mungkin tugas Melati selesai!
"Tugas! apa selama ini kamu menganggap aku hanya murid yang kamu didik supaya menjadi apa yang kedua orang tuaku mau. Ak.... aku pikir kamu berbeda, yang bisa menerima aku apa adanya. Tapi... apa yang mama sama papa janjikan untuk kamu melakukan ini semua, lalu kenapa kau menyerahkan mahkota itu untukku,"
"Akhhhh.. "
Jek mengacak rambutnya kesal, marah dan bingung dengan apa yang terjadi.
"Apa kamu mencintai putra mama?"
"Aku sangat mmencintainya mah, tapi Melati takut bang Jek salah faham jika mengetahui syarat itu bukan dari Melati tapi dari kalian!"
"Mama pastikan Jek tak akan mengetahui masalah ini. Mama berharap kamu selalu ada di sisinya. Jangan pergi walau tugas kamu selesai. Mama yakin, Jek tak akan pernah melakukan hal yang kamu benci! jika itu terjadi, maka mama sendiri yang akan menghukumnya!"
"Melati tak akan meninggalkannya mah, Melati sangat mencintai bang Jek,"
Andai saja Jek tak langsung pergi. Jek akan tahu bahwa Melati punya alasan kuat melakukan itu semua. Bahkan Melati begitu mencintai dirinya. Tapi sayang, Jek terlanjur kecewa dan memutuskan balik lagi ke Bengkel.
Padahal, Bagas sudah mengizinkan Jek tak masuk dan menyuruh Jek pulang untuk menemui mamanya jangan menunggu siang.
Jek sudah bahagia karena sahabatnya mengerti, tapi apa yang Jek dapatkan. Hanya kekecewaan yang Jek rasakan.
"Ini sudah siang, kenapa bang Jek belum pulang?"
Bersambung...
__ADS_1
Jang lupa Like, Komen, Hadiah dan Vote...