
Selesai acara, Queen langsung pulang di jemput oleh Farhan. Tak banyak kata yang Queen ucapkan. Di sepanjang jalan Queen hanya diam dengan pikuran entah.
Jejadian di rumah sang ayah begitu mengusik pikiran Queen. Pasalnya Queen begitu terkejut akan keberanian Melati yang menolak lamaran dari sang ayah.
Gadis itu begitu hebat menjungjung tinggi kehormatannya. Melati mengajarkan bahwa pernikahan tak sesimpel itu untuk menyatukan dua hati yang saling terkunci.
Apalagi Melati merasa kecil jika harus bersanding dengan Jek Prayoga, putra pengusaha sukses dan calon pewaris kerajaan Prayoga.. Walau kekayaan Angga tak sebanding dengan apa yang Farhan punya.
"Sayang,"
"Hmm,"
"Apa ada sesuatu yang di pikirkan?"
"Biru..,"
Farhan langsung menepikan mobilnya, Farhan merasa calon istrinya seperti sedang serius.
"Kenapa?"
"Aku ingin ketika kita sudah menikah kamu akan selalu ada kan buat aku, sesibuk apapun kamu?"
"Aku gak bisa berjanji, tapi aku akan terus berusaha mewujudkan apapun yang kamu inginkan. Kamu adalah prioritas utamaku, dan selamanya akan seperti itu. Kata mama, keluarga adalah nomor satu, uang bisa di cari ketika hilang tapi ketika kamu pergi dari aku maka aku akan sulit kembali menemukanmu,"
"Aku tahu apa yang kamu takutkan, kehidupan kamu membuat kamu takut, jika kita tak bisa menciptakan keluarga yang harmonis. Tapi, aku akan selalu berusaha menggenggam tangan kamu, kita sama-sama berusaha menciptakan keluarga seperti apa yang kamu mau. Jangan takutkan apapun, kita melangkah sama-sama."
"Jangan pernah berubah, tetap seperti ini. Jika cinta kamu adalah paras, aku mohon tetap cintai aku ketika kecantikanku pudar di makan usia. Jangan pernah berpaling dariku sedikitpun, kamu adalah nafasku, jika kamu pergi bagaimana aku aku bisa bernafas bebas. Kamu adalah jantungku, jika kamu pergi bagaimana aku bisa hidupp. Kamu adalah hatiku, jika kamu pergi bagaimana aku bisa merasakan manisnya cinta. Dan kamu adalah duniaku, jika kamu pergi masihkan aku bisa berpijak!"
Farhan dan Queen saling tatap menyelami damudra cinta yang begitu dalam. Saling genggam erat seperti enggan untuk melepas. Untaikan kata yang mereka ucapkan penuh dengan perasaan tulus akan cinta yang mereka miliki.
Farhan menghempit dagu Queen dengan ibu jari dan jari telunjuknya. Lalu Farhan menariknya perlahan hingga sebuah kecupan mendarat tepat di kening Queen. Repleks Queen memejamkan kedua matanya, merasakan kecupan hangat yang Farhan berikan.
"Sudah ya, kita mau langsung pulang atau kemana dulu?"
Queen sejenak berpikir lalu melihat jam pergelangan tangannya. Pukul 20:30 masih ada sisa waktu setengah jam lagi.
"Perutku sudah kenyang,"
__ADS_1
"Baiklah, aku akan membawa kamu ke suatu tempat,"
Farhan kembali melajukan mobilnya lagi menuju tempat yang belum pernah Farhan tunjukan pada Queen.
Tak lama Farhan menghentikan mobilnya. Angin begitu kencang terasa membelai pipi Farhan ketika keluar membukakan pintu untuk Queen.
Sebuah bukit yang sangat indah dimana bawahnya ada sebuh laut lepas. Deburan ombak terdengar nyaring menjadi alunan melodi bagi sepasanag insan itu.
Farhan memegang pinggang Queen lalu mengangkatnya. Didudukannya Queen di atas mobil, lalu Farhan pun ikut naik. Mereka duduk berdampingan menikmati dinginnya malam sambil melihat begitu indahnya laut di bawah sana. Bintang di atas sana bertaburan sesekali berkedip seakan mengoda dua insan yang saling memeluk satu sama lain.
Queen menyadarkan kepalanya di pundak kokoh Farhan dengan tangan saling bertautan.
"Apa kamu menyukainya?"
"Ya, aku sangat suka, jika kita membuat tenda rasanya jauh lebih indah,"
"Bagaimana kalau nanti bulan madu disini, mungkin jauh terasa indah menyatu dengan alam,"
Bluss..
Queen menyembunyikan wajah memerahnya di dada bidang Farhan. Membayangkannya saja membuat Queen geli. Tapi, Queen menyukainya. Apalagi tempat ini sepertinya cocok untuk berkemah.
Setelah kepergian Queen dan Farhan Jek pun mengantarkan Melati pulang. Awalnya Melati menolak karena tak enak dan sedikit kesal. Tapi, Jek malah menyeretnya masuk kedalam mobil.
Tak ada percakapan di antara mereka, bahkan Melati malah membuang muka.
Kenapa cara lamaran orang kaya begitu pemaksa. Bahkan kedua orang tua Jek saja tak tahu keluarga Melati bagaimana. Kenapa malah seenaknya mau menikahkan Melati dengan Jek. Dan, sialnya kenapa Jel malah menyetujuinya.
Jek melirik kearah Melati yang sendari tadi membuang muka. Jek tahu Melati pastri merasa kesal dengan apa yang terjadi di rumah. Karena tak kuat berdiam-diaman Jek menghentikan mobilnya di jalan yang sepi.
Melati menatap tajam pada Jek yang menghentikan mobilnya. Tak ada Melati yang cupu yang selalu menundukan pandangan. Tapi, karena masalah tadi, Melati merasa harga dirinya rendah. Mereka pikir dirinya bisa di beli dengan uang.
"Mau kemana?"
"Bukankah kamu menghentikan mobil untuk aku turun!"
"Tidak! kamu jangan salah faham. Aku hanya ingin bicara dari hati ke hati?"
__ADS_1
"Kamu pikir aku percaya, kamu sama saja dengan mereka yang bisa melakukan apa saja dengan uang. Aku punya hati, kenapa kalian seenaknya mengatur hidupku. Bahkan papa kamu seenaknya akan menikahkan aku dengan kamu. Siapa dia, dia bukan ayahku!"
Jek menghela nafas kasar, mencoba tak terpancing amarah. Jek juga terkejut dengan semuanya. Bahkan Jek bisa di katakan tak tahu apa-apa tentang pernikahan ini.
"Melati aku mohon, tenangkan dulu diri kamu!"
"Bagaimana aku bisa tenang, papa kamu mengancam aku, kalau aku tak menikah dengan kamu dia akan mencabut beasiswa ku hiks.. hiks... "
"Apa kamu tahu, aku juga di sini tak tahu apapun tentang rencana papa sama mama. Aku juga terkejut, jadi aku mohon tenang ya,"
Melati mencoba mengendalikan emosinya, dia memang lemah tapi tentang pernikahan Melati tak mau menikah dengan orang yang terpaksa. Mau jadi apa pernikahannya nanti, tanpa cinta apa Melati bisa hidup dengan orang asing. Pernikahan bagi Melati adalah hal yang sakral yang harus di jaga, jangan sampai ada kata cerai.
"Aku tahu papa sangat keterlaluan memaksa kamu untuk menikah denganku. Bahkan papa juga tak memberi tahu aku terlebih dahulu. Aku memang tak mencintai kamu tap... "
"Jika kamu tak menyukaiku kenapa kamu malah setuju, kita tak saling mencintai jadi aku mohon batalkan niat papa kamu,"
Jek mengepal kedua tangannya tak terima karena Melati memotong ucapannya. Bahkan terang-terangan tak menyukai dirinya.
Melati menunduk merasa tatapan Jek kali ini mengerikan. Apa dia salah bicara, tapi itu memang kenyataannya.
"Dengarkan aku baik-baik..,"
Jek sengaja menjeda ucapannya sambil memegang pundak Melati membuat Melati seketika menatap kembali Jek.
"Jangan potong ucapanku ketika aku belum selesai bicara. Aku memang tak mencintaimu karena aku tak tahu apa yang di namakan cinta. Yang aku tahu hanya kebebasan. Tapi, ketika kamu menolak aku secara terang-terangan di sini sakit, hatiku terasa sesak. Entah kenapa perasaanku seperti ini. Coba tolong katakan, apa itu cinta dan bagaimana! dan kenapa di sini sesak ketika kamu tak mencintaiku. Aku menyetujui perintah papa bukan karena papa mengancam tapi karena hatiku, aku yang ingin. Hatiku yang tak menginginkan kamu pergi,"
Melati melebarkan kedua matanya menatap tak percaya dengan apa yang Jek katakan. Bahkan Melati bisa merasakan debaran jantung Jek yang tak normal.
"Bagaimana kalau aku memintamu menjadi istriku tanpa paksaan papa dan mama. Ini dari hatiku yang menginginkannya?"
Entah kenapa Jek mengatakan itu, Jek memang tidak tahu apa yang namanya cinta. Tapi, entah, Melati akhir-akhir ini selalu mencuri perhatian Jek.
"Aku tak mau kamu menganggap aku sama dengan laki-laki di luar sana. Bisa mendapatkan kamu karena uang. Pandang aku laki-laki biasa yang sedang meminta kamu menjadi istriku?"
Deg...
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Komen, Hadiah dan Vote...
Terimakasih....