Gadis Dingin

Gadis Dingin
Bab 86 Abang Adek.


__ADS_3

Malam tiba, Jek benar-benar membawa Melati pindah kesebuah rumah tak berlantai namun begitu luas. Ada taman di halaman depannya. Walau terlihat kecil dari luar tapi jika sudah masuk rumah itu begitu besar dan luas ke belakang. Bahkan rumah itu tak berlantai ke atas melainkan ada sebuah tangga seperti ruang bawah tanah.


Melati terdiam melihat bangunan ini, antara percaya dan tak percaya. Bahkan sekarang Melati seakan menahan amarah yang siap meledak.


Bukankah Jek sudah berjanji akan meninggalakan kemewahan yang kedua orang tuanya berikan dan tak akan menerima apapun hadiah berbentuk tempat tinggal dan kendaraan. Tapi kenapa Jek malah membawa Melati ke rumah luas ini.


"Apa kamu menyukai rumah ini?"


Melati diam dengan wajah berangnya seakan kesal Jek tak benar-benar menuruti syaratnya.


Jek berbalik demi melihat wajah sang istri, Jek sedikit terkejut ketika menyadari perubahan wajah sang istri. Seketika Jek sadar akan sesuatu.


Deg...


Jek tertegun ketika Melati menghindar ketika Jek akan meraih tangannya.


Huh...


Jek sepertinya harus dengan hati-hati menjelaskan semuanya agar tak menyinggung perasaan sang istri.


"Aku bisa jelaskan semuanya, aku mohon jangan marah dulu."


"Aku kecewa!"


Hati Jek terasa tercubit mendengar nada kekecewaan sang istri. Jek hanya berniat memberikan kejutan tapi nyatanya harus ada drama dulu.


"Apa kamu tak mau sama sekali aku menjelaskan semuanya! aku mohon duduklah, biar aku jelaskan!"


Melati duduk dengan kasar di atas shopa, begitulah Melati. Jika sedang merasa kesal dan marah maka tak ada lagi sikap culun dan lugunya. Jek pikir, Jek harua mulai terbiasa dengan sikap berubah-ubah sang istri.


"Aku tak tahu kamu akan percaya atau tidak! pertama, aku tak pernah mengingkari syarat yang kamu ajukan. Aku bersumpah tak menerima hadiah apapun dari kedua orang tuaku atau yang lainnya. Rumah ini hasil jerih payahku sendiri, bahkan mama sama papa tak mengetahui rumah ini. Hanya kamu orang ke dua yang tahu rumah ini."


Melati menautkan kedua alisnya ketika mendengar kata kedua, lalu siapa orang pertama yang tahu tentang rumah ini. Apa pacar Jek dulu, atau siapa!


"Dan satu lagi yang harus kamu tahu! tapi, aku mohon kamu janji gak akan marah?"


"Mel?"


Jek menatap iba Melati, Jek tak mau di malam pertamanya malah ada pertengkaran bukan keromantisan.

__ADS_1


"Apa!"


"Janji dulu, kamu gak akan marah atau sampai meninggalkan aku?"


Melati merasa heran kenapa Jek malah ketakutan seperti itu. Tapi, melihat tatapan memelas Jek, Melati jadi luluh.


"Baiklah, aku janji tak akan marah atau meninggalkan kamu!"


Jer tersenyum bahagia, seakan ketakutannya menjadi sirna. Jek meraih tangan Melati untuk ikut dengannya. Melati menurut saja karena dirinya juga penasaran.


Melati membekam mulutnya dengan kedua tangannya. Bahkan mata Melati melotot sempurna melihat pemandangan di depannya.


"Inilah aku, dunia aku. Aku anak geng motor. Aku selalu mengikuti balapan liar dan beberapa turnamen. Dan, hasil dari itu. Uangnya aku belikan ini. Awalnya aku tak mau membeli rumah, tapi sahabat-sahabat aku menyuruh aku membeli rumah untuk menyimpan barang-barang ini dan motor kesayanganku. Karena kalau aku bawa ke rumah atau apertement aku yakin papa dan mama akan meleyapkan ini semua. Jadi aku sembunyikan di sini. Tapi, kamu harus tahu, sekarang aku dan teman-teman ku sudah tak balapan lagi, kami sudah inshaf. Sekarang Andi meneruskan usaha kuliner kedua orang tuanya. Bagas membuka bengkel yang ada di depan gang sana. Sedang aku membantu papa di perusahaan. Tapi, karena kamu harus meninggalkan pasilitas yang kedua orang tuaku beri, jadi aku hanya bisa mengajak kamu kesini, ini hasil kerja kerasku. Dan, aku janji, jika aku sudah punya uang aku akan membelikan kamu rumah yang jauh lebih besar lagi dari pada ini."


Melati hanya diam saja, tak tahu harus bersikap apa. Terkejut! tentu, karena Melati tak menyangka suaminya adalah seorang anak motor. Tapi, ada rasa bersalah menyelimuti hati Melati karena sudah menuduh suaminya sendiri.


Jek menarik pinggang Melati agar merapat pada tubuhnya. Gerakan Jek sontak menarik kesadaran Melati, hingga Melati menjadi gugup sendiri dalam posisi seperti ini.


Sebelaumnya Melati tak pernah sedekat ini dengan lawan jenis.


"Kamu gak pa-pa kan tinggal di sini, karena ini harta yang aku punya?"


"Ga.. gak pa.. pa-pa!"


Melati mengerjap-ngerjapkan kedua matanya karena tak biasa, melihat itu membuat Jek semakin gemas saja.


Jek mengajak Melati duduk di shopa yang berada dalam ruang bawah tanah. Lalu Jek mengeluarkan dompetnya. Jek mengeluarkan sepuluh lembar uang berwarna merah karena itu sisa uang Jek yang ada di dompetnya dan satu kartu cradit card.


"Karena aku sudah menjadi laki-laki biasa, sisa uangku hanya segini. Sekarang kamu yang memegangnya. Belikan apa saja untuk kebutuhan rumah tangga kita. Dan kartu ini, di dalamnya ada uang gajihku selama kerja di kantor. Mungkin tidak banyak, sisa keperluan menikah kita. Gunakan untuk keperluan sekolah Rizal dan kebutuhan ibu di rumah sisanya gunakan apa saja yang kamu mau,"


Inikah laki-laki yang sudah menjadi suami Melati. Inikah Jek, bagaimana bisa laki-laki dihadapan dirinya bersikap seperti ini. Begitu banyak kejutan-kejutan yang Jek berikan pada Melati. Melati tak menyangka dirinya akan di perlakukan bak ratu. Padahal sebelumnya Melati tak membayangkan hidupnya akan seperti ini. Merasa di hargai, di cintai dan di sayangi.


Apa yang harus Melati berikan pada suaminya, sedang sendari tadi Jek begitu banyak memberikan kebahagian yang tak pernah terlintas di diri Melati.


"Mulai besok, mungkin abang akan bekerja di bengkel milik Bagas!"


"Ab.. abang!"


"Yah, mulai sekarang kamu harus memanggiku abang. Aku suamimu, dan aku akan memanggil kamu adek. Sweet bukan?"

__ADS_1


Bluss...


Pipi Melati merona mendengar begitu manisnya suaminya berkata. Inikah manisnya pacaran setelah menikah, bahkan hal kecil yang Jek lakukan membuat Melati benar-benar tersipu.


Melati menatap uang satu juta dan cradit card di tangannya yang entah berapa jumlah di dalamnya. Mungkin, jika melati tahu dia akan pingsan.


"Ini uang pegang sama A-abang,"


"Kenapa! abang sudah serahkan sepenuhnya pada adek?"


"A-abang kan harus bekerja, dan butuh bensin. Jadi Lima ratus pegang sama abang, lima ratus lagi sama A-adek,"


"Baiklah, "


Pada akhirnya Jek menyerah dan mengambil uang lima ratus ribu dari sang istri. Walau jarak rumah dan bengkel tempat besok Jek bekerja tidak jauh, bahkan berjalan kaki juga bisa.


"B-bang, kenapa A-Abang terlihat begitu menyayangi A-adek?"


"Karena abang mencintai adek!"


"Ini bukan mimpikan! apa yang harus ade lakukan untuk membalas semuanya?"


"Adek ingin membalasnya?"


"Ahh..,"


Melati terkejut ketika tiba-tiba Jek menggendong tubuhnya. Hingga repleks Melati mencengkram lengan Jek.


"Baiklah, adek harus membayarnya di kamar kita!"


Deg...


Mepati terkejut dengan apa yang suaminya katakan. Melati bukan anak kecil yang tak tahu maksud dari kata kamar kita. Membayangkannya saja membuat Melati merinding.


Apakah Melati sudah siap menyerahkan harta paling berharga di hidupnya pada suaminya sendiri.


"Bolehkah abang melakukannya sekarang?"


TBS

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah, Komen, dan Vote..


Terimakasih....


__ADS_2