Gadis Dingin

Gadis Dingin
Bab 84 Sebuah syarat!


__ADS_3

Sendari tadi Farhan di buat bingung dengan sikap Queen yang mendiamkannya. Entah kesalahan apa yang dia perbuat hiangga membuat calon istrinya marah.


Apalagi sikap Queen yang cuek membuat Farhan sulit memahaminya.


"Hey sayang, kenapa diam saja. Apa aku melakukan kesalahan?"


Queen masih saja tak merespon bahkan Queen malah asik dengan baby Alam dan itu membuat Farhan kesal bercampur gemas sendiri.


Sepulang kantor Farhan memang main kerumah Queen. Bukannya di sambut dengan senyuman manis. Farhan malah di sambut dengan bibir tutut. Jika sudah halal rasanya ingin Farhan mengecupnya.


"Ayolah, jangan diamkan aku terus."


"Mau aku cium, dari tadi bibirnya manyun mulu!"


Queen dengan repleks membekam bibirnya menatap tajam pada Farhan. Bukannya takut Farhan malah terkekeh.


"Kenapa sih, ayo cerita?"


Bujuk Farhan sambil memeluk Queen, hingga terlihat mereka seperti sepasang suami istri dengan Queen yang memangku baby Alam.


Begitu romantis bukan, tapi Queen malah bergidik ngeri dengan apa yang Farhan lakukan.


"Kamu berani mengataiku menyebalkan!"


"Hah, mana berani sayang. Emang siapa yang bilang? bagiku kamu menggemaskan bukan menyebalkan!"


"Benar!"


"Ya ampun sayang, jadi kamu marah sama aku karena ada yang mengatakan aku bilang kamu menyebalkan. Yang benar saja! siapa orangnya biar aku hukum!"


"Beneran kamu akan menghukumnya?"


"Iya, emang siapa? berani banget jelekin aku di depan kamu!"


"Aielin!"


"Sudah ku duga, anak itu! ngapain juga kamu percaya omongannya, kamu kan tahu Aielin seperti itu. Suka cuplas-ceplos kalau ngomong."


"Kamu sudah janji mau menghukumnya! awas jangan dusta!"


"Iya.. iya nanti aku hukum, biar gak berani ngadu domba kita!"


Queen mengulum senyum sepertinya rencanya Queen akan berhasil. Entah apa yang sedang ada di otak Queen. Nyatanya Queen pura-pura marah demi sebuah rencana. Jahil juga ternyata gadis dingin itu!


"Seperti mereka saja orang tua baby Alam!"


Celetuk Fandi ketika melihat keromantisan putrinya. Dinda tersenyum melihat itu semuanya. Memang benar, Queen dan Farhan seperti orang tua baby Alam saja.


"Mereka sudah cocok tuh kasih kita cucu!"


"Iya, sebentar lagi mereka kan menikah."

__ADS_1


Fandi langsung berbalik menghadap sang istri. Di tatapnya sang istri dengan intens, tatapan itu malah membuat Dinda salah tingkah.


"Kamu kenapa mas?"


"Kita buat adik yuk untuk Alam!"


Dinda membelalakan kedua matanya mendengar ucapan sang suami. Dinda ingin perotes tapi Fandi sudah menggendong Dinda menuju kamar mereka. Fandi tak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Apalagi baby Alam ada yang jaga.


"Mama kemana ya, kok gak ada?"


Ucap Queen tak melihat mama sama daddynya.


"Mungkin masuk kedalam, biarkan saja mereka istirahat!"


...---...


Di sebuah taman sepasang manusia sendari tadi hanya diam saja. Entah kapan mereka memulai percakapan. Bahkan jika ada yang melihatnya pasti merasa bosan.


Hari ini adalah hari yang di janjikan Melati memberikan jawabaan atas lamaran Jek. Dan, Melati memilih sebuah taman tempat mereka bertemu. Tapi, ini sudah lima belas menit tapi Melati tak kunjung buka suara. Jek dengan setia masih menunggu walau hati Jek sudah berdebar tak menentu.


Jek sudah yakinkan hatinya kalau dirinya benar-benar mencintai Melati dari hatinya bukan karena merasa kasihan akan perjuangan hidup Melati.


"Apa kamu akan tetap bungkam, jangan buat aku seperti bunga kamu jadikan pajangan tanpa menatapnya!"


Jek memberanikan diri bersua karena sudah tidak tahan dengan keterdiaman Melati. Bahkan ini sudah hampir setengah jam.


"Aku tidak akan memaksa jika kamu meragu, aku akui aku memang bukan laki-laki yang baik. Mungkin kamu juga tahu bagaimana dulu waktu aku di kampus. Tapi, jangan larang aku mendekatimu, jadi teman juga tak buruk!"


"Jika aku menerima kamu, apa kamu siap dengan syarat yang aku berikan!"


"Apa! katakan!"


Jawab Jek tegas, seakan tak ada keraguan sedikitpun. Bahkan Melati sendiri sedikit tercengang akan jawaban tegas itu.


"Tinggalkan kekayaanmu, jadilah laki-laki biasa. Dan, cari pekerjaan lain untuk menafkahiku tanpa nama besar Prayoga!"


"Baiklah aku setuju, meninggalkan semua kemewahan yang aku miliki. Apa masih ada syaratnya lagi?"


"Aku ingin pernikahan yang sederhana tanpa di ketahui semua orang. Cukup keluarga kamu dan keluarga aku!"


"Ok!"


Melati menyipitkan kedua matanya seakan tak percaya dengan jawaban Jek. Jek begitu enteng menjawab seakan tak ada beban sama sekali. Bahkan Melati sendiri tadi sempat ragu Jek pasti tak akan setuju dengan syaratnya. Tapi, nyatanya jawaban Jek di luar dugaan.


"Apa masih ada syaratnya lagi?"


"Hanya itu!"


"Baiklah, jika kamu memberikan sebuah syarat padaku. Apa aku juga boleh memberikan syarat padamu?"


"Ap.. Apa?"

__ADS_1


Entah kenapa Melati jadi gugup sendiri ketika Jek menatapnya berbeda.


"Aku setuju semua syarat dari kamu. Tapi, apapun jangan pernah menolak pemberianku, dari hasil jerih payahku sendiri. Dan, kamu harus mau kemanapun aku bawa walau kita tinggal di sebuah kontrakan!?"


"Itu lebih baik. Aku tak masalah!"


"Satu lagi!"


"Apa!"


"Lusa kita menikah!"


"Apa!!!"


Pekik Melati melotot tak percaya dengan apa yang Jek katakan. Bahkan Melati hampir mau berdiri jika saja Jek tidak menahannya. Apa Jek sudah gila, kenapa secepat itu. Bahkan bagaimana bisa mempersiapkan semuanya dalam satu hari.


"Kenapa terkejut seperti itu!"


"Bukankah sekarang aku laki-laki biasa yang tak punya apa-apa untuk mempersiapkan sebuah pernikahan mewah. Jadi, aku ingin lusa kita menikah dengan kesederhanaan ku!"


"Ta.. tapi tak secepat itu! ak.. aku masih kuliah!"


"Aku sudah menyetujui syarat kamu, kenapa syarat aku kamu gak setuju?"


"Bukan seperti it.. itu, i.. ini terlalu ce.. cepat!"


"Baiklah, kita nikah malam ini saja!"


"Ap.. apa! ya.. yasudah lusa saja!"


Jek tersenyum karena sudah berhasil menggeretak Melati. Jek sangat suka ketika melihat wajah gugup Melati, sangat imut dan menggemaskan. Jek ingin sekali menyingkirkan kaca mata bulat yang menghalangi Jek memandang indah bola mata Melati.


Ya, pertama kali Jek melihat bola mata Melati ketika waktu di kampus dulu saat Melati di dorong oleh kakak tingkahnya hingga kaca mata Melati jatuh.


Lusa!


Jek sudah tidak sabar menatap netra bening penuh binar namun memancarkan keteduhan.


"Mel?"


Jek meraih tangan Melati dengan lembut lalu menyimpannya di atas pangkuan Jek. Belum pernah sekalipun Jek bersikap manis pada perempuan dan Melati orang pertama yang membuat Jek seperti ini.


"Percayalah, apapun yang terjadi untuk hubungan kita kedepannya. Kamu harus mempercayai aku. Aku tahu, masa laluku begitu buruk. Tapi, satu yang harus kamu tahu. Aku tak menyukai tentang kebohongan, jadi apapun yang terjadi tolong ceritakan padaku. Jadikan aku tempat ternyaman untuk kamu berkeluh kesah. Jadikan aku sandar untuk kamu jadikan kekuatan! aku mencintaimu tanpa syarat, dan aku juga tak tahu kenapa aku bisa mencintaimu. Rasa ini hadir tanpa aku minta, dia datang sendiri tanpa permisi."


Jek mengangkat tangan Melati menuju dadanya. Di letakannya tangan melati di sana.


"Apa kamu merasakannya, bahwa aku benar-benar mencintai kamu, Melati Permata Sari!"


Bersambung....


Jangan lupa Like, Hadiah, Komen dan Vote...

__ADS_1


__ADS_2