
Di sebuah ruangan yang begitu sunyi, terbentang besi yang tak bisa di tembus. Ada sebuah kaca besar anti peluruh. Di dalamnya ada seseorang yang di ikat di tiang eksekusi. Bahkan ruang itu kedap suara, berteriak sekuat apapun tak akan ada yang mendengarkannya.
Percuma berteriak yang ada pita suaranya akan habis.
Tak .. tak .. tak ...
Suara langkah kaki terdengar nyaring membuat beberapa penjaga menunduk hormat.
Seseorang itu menekan angka akses masuk ke ruang eksekusi itu.
Tak lama pintu itu terbuka, dia masuk dengan kedua anak buahnya.
Burrrr ...
"Akkhhhhh ..."
Teriak Samuel terkejut ketika air menyiram tubuhnya membuat luka di pipinya akibat tinjuan Farhan menjadi perih kembali.
"Kau!"
Sam menatap tajam pada Daniel, dalam keadaan seperti ini masih saja angkuh.
"Lepaskan aku, kau akan menyesal!"
Daniel tersenyum seringai sambil mengeluarkan tangannya yang tadi terus berada di saku celananya.
Sam membelalakkan kedua matanya melihat sebuah silet yang Daniel pegang.
"Kenapa, takut!"
"Kau mau apa, hah!"
Sungguh Sam sudah sangat takut melihat benda itu. Tapi, Sam tetap mempertahankan keangkuhannya. Tangannya berusaha melepas ikatan di tangannya. Tapi, sialnya ikatan itu bukan ikatan tali atau borgol melainkan ikatan yang terbuat dari kawat. Jika di paksa keluar maka kawat itu malah semakin mencekik pergelangan tangan Sam.
__ADS_1
"Berani sekali kau menggunakan wajah ayahku. Dan, kau sudah buta oleh harta. Maka akan ku buat kau buta selamanya!"
"Hey apa yang kau lakukan, kau tidak bisa berbuat seperti ini. Lepaskan ... "
Sam memberontak, tapi semakin dia memberontak maka kawat yang melilit tangan dan kakinya semakin mencengkram. Entah kawat terbuat apa membuat Sam kesakitan.
"Kau harus membayar berapa nyawa yang kau lenyap kan. Dan, sebentar lagi kau akan merasakan bagaimana sakitnya sakaratul maut sebelum kau merasakan rasa sakit yang lebih dari ini."
Sesudah mengatakan itu Daniel keluar dari ruang itu. Tinggal dua anak buahnya di dalam. Daniel menulikan telinganya tak peduli seberapa kuat Sam berteriak dan memberontak.
Daniel tak benar-benar pergi melainkan duduk di sebuah kursi yang menghadap keruang eksekusi.
Dua anak buah Daniel langsung melakukan tugas dari tuannya. Yaitu menyayat-nyayat wajah Sam. Daniel tak mau wajah ayahnya di pakai oleh bajingan itu.
Suara teriakan kesakitan begitu menggema di ruang eksekusi itu. Tapi, sayang Daniel tak mendengar sama sekali. Daniel hanya menikmati tontonan gratis saja.
Farhan memang menyerahkan semuanya pada Daniel. Farhan hanya tak mau dia tak bisa mengontrol emosinya. Apalagi sang istri sudah berpesan tak mau Farhan mengotori tangannya sendiri. Tegasnya Queen tidak mau tangan ayah dari anaknya berlumuran darah.
Apalagi Farhan harus menjaga Queen dengan ektra. Farhan tak mau sang istri banyak bergerak. Farhan faham betul bagaimana sikap Queen yang selalu ngeyel.
Sesudah selesai dengan urusannya, Daniel langsung meninggalkan tempat itu dan menyerahkan sisanya pada anak buahnya.
Penjara adalah tempat yang paling bagus dan nyaman bagi orang-orang seperti itu. Kapan saja bisa bebas. Maka Daniel akan membuat Sam merasakan rasa sakit yang dulu orang-orang tak bersalah Sam bunuh.
Daniel melajukan mobilnya menuju suatu tempat menjemput seseorang.
Sedangkan di tempat lain ...
Mama Adelia tak hentinya menangis melihat pusaran makan asli suaminya.
Ya, papa Farhan tidak selamat dari kecelakaan itu. Walau berhasil keluar dari dalam mobil setelah Lukman keluar. Namun sayang, papa Farhan keluar di saat mobil benar-benar jatuh membuat papa Farhan terjatuh pada batu besar. Kepalanya terbentur cukup keras hingga banyak keluar darah.
Pada saat itu, om Lukman masih sadar namun dia tidak tahu kalau papa Farhan sudah keluar dari mobil. Belum sempat om Lukman memeriksa, anak buah Sam lebih dulu mengetahui dirinya selamat. Hingga di saat itu pula om Lukman di seret begitupun mama Adelia.
__ADS_1
Jadi om Lukman tidak tahu sama sekali bagaimana nasib papa Farhan. Waktu itu, bang Joni sedang berburu. Dia mendengar ledakan itu hingga membuat dia memeriksa ketempat kejadian.
Alangkah terkejutnya bang Joni melihat sebuah mobil yang meledak. Lalu bang Joni dan anak buahnya memeriksa tempat itu. Hingga papa Farhan di temukan dalam keadaan mengenaskan. Wajahnya tidak di kenali karena berlumur darah. Bang Joni membawa papa Farhan ke padepokan ya. Dan membuat racikan ramuan. Namun sayang, setelah memberikan sebuah flashdisk pada bang Joni papa Farhan meninggal dunia.
Lalu bang Joni memakamkan papa Farhan di samping makan istrinya. Bang Joni juga memberikan flashdisk itu pada Farhan. Entah apa isinya bang Joni juga tidak tahu, karena dia tak berani membukanya.
Bang Joni juga awalnya terkejut ternyata orang yang sempat dia tolong ayah dari Farhan yang sudah bang Joni anggap adiknya sendiri. Bang Joni memang tak mengenali kedua orang tua Farhan. Jadi ketika menyelamatkan papa Farhan bang Joni tidak memberi tahu.
Bang Joni hanya meyakinkan, pasti suatu hari nanti akan ada orang yang mencari tahu kejadian ini. Dan, pada akhirnya benar, Farhan mencari petunjuk.
"Mah ..."
Lilir Farhan tak kuasa mendengar isakan sang mama. Farhan memeluk erat tubuh sang mama yang terus menangis. Tak mengatakan sepatah katapun. Hanya suara tangisan yang menggambarkan betapa hancurnya hati mama Adelia. mengetahui fakta Kematian suaminya.
Jadi suaminya benar-benar pergi untuk selama-lamanya.
Suami yang mengenalkan mama Adelia apa itu arti cinta dan kesetiaan. Tapi, kini dia benar-benar meninggalkannya. Rasanya sangat menyakitkan.
*Pah, kenapa secepat ini. Papa janji akan kuat tapi nyatanya apa. Papa meninggalkan mama, mama selalu berharap suatu saat nanti papa akan kembali. Tapi, di sini papa mengatakan bahwa papa tak akan pernah kembali. Apa yang harus mama lakukan tanpa papa. Mama lelah pura-pura bahagia, jika kebahagiaan mama ada bersama papa.
Apa papa tahu, Biru sudah menikah dengan Queen. Bahkan Queen sudah hamil, sebentar lagi akan melahirkan. Tandanya mama akan menjadi seorang nenek. Mama sangat bahagia, tapi kebahagiaan mama kurang lengkap tanpa papa.
Pah, apa papa bahagia melihat putra kita sebentar lagi akan menjadi seorang ayah seperti papa?
Mama harap papa bahagia di sana, tunggu mama di sana ya pah. Suatu hari nanti dimana tiba saatnya, jemput mama dan tolong jangan berpaling. Mama sangat mencintai papa*.
Untaian kata yang mama Adelia jerit kan dalam hati sebelum beranjak dari makan sang suami. Rasanya berat melangkahkan kedua kaki mama Adelia untuk meninggalkan tempat terakhir peristirahatan sang suami.
Namun, mama Adelia harus kuat tak boleh lemah di hadapan Farhan. Mama Adelia tak mau rasa sedihnya membuat sang putra juga ikut sedih. Mama Adelia harus kuat, untuk menjadi penguat Farhan.
"Masih ada Biru mah, semua akan baik-baik saja."
Mama Adelia hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan sang putra.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa Like, Hadiah, Komen, dan Vote Terimakasih......