Gadis Dingin

Gadis Dingin
Bab 50 Ingin adik!


__ADS_3

"Terimakasih daddy, saran daddy sungguh berhasil, "


Queen dan Fandi bertos sambil tertawa membuat Dinda hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah putrinya yang seperti mendapatkan harta karun.


Sedangkan Farhan hanya melongo tak percaya dengan apa yang Queen lakukan.


Jadi ancaman sang mama adalah skenario yang Queen buat dengan om Fandi supaya dirinya cepat pulang.


Fahan menggeleng tak percaya dengan apa yang Queen lakukan. Farhan dari Jogja pulang dengan perasaan kewatir dan was-was. Walau Farhan akui memang Queen cukup berani dalam melakukan aksi liarnya dan itu berhasil membuat Farhan kembali. Karena Farhan tak akan pernah membiarkan Queen balapan tanpa seizinnya.


Sebegitukah Queen ingin Farhan kembali hingga harus membuat drama dan sang mama juga malah mendukung Queen. Farhan tak habis pikir dengan tingkah kekanakan Queen. Hingga identitasnya semuanya terbongkar dengan cepat.


Queen yang awalnya hanya ingin Farhan kembali dan melakukan kekesalannya dengan balapan. Supaya Farhan tahu kalau Queen gak main-main tapi siapa sangka Queen di buat kejutan sedemikian rupa. Queen jadi tahu siapa Farhan dan itu sukses membuat Queen berhasil akan rencana yang sudah dia buat kalau Farhan memang menyayanginya dan Queen merasa istimewa dan di cintai karena Farhan memilih pulang untuk mencegah dia balapan dari pada meneruskan pertemuannya dengan seniman asal Singapur.


Farhan memicingkan kedua matanya menatap tajam Queen seakan mencari sesuatu.


Semalam Queen sudah berhasil membuat dirinya tampak bodoh dan hari ini juga sama.


Apa yang Queen lakukan membuat Farhan ingat dengan Queen kecil. Dia akan melakukan hal ceroboh demi membuat dia muncul dan bodohnya sudah tahu sikap Qjeen begitu Farhan masih saja datang.


"Jadi kalian semua mengerjaiku!?"


Ucap Farhan kesal merasa jadi orang bodoh di sini. Bahkan sang mama juga malah menertawakan dirinya.


"Sudah sayang, jangan Marah-marah. Siapa suruh kamu membuat menantu mama uring-uringan, "


"Bekerja ya bekerja. Tapi, ingat komunikasi nomor satu. Perempuan itu bukan hanya kangen saja tapi rasa kemas dia itu begitu kuat. Jika kita tak ada kabar sebenarnya perempuan mencemaskan keselamatan kita bukan hanya ingin di beri kabar saja."


Farhan hanya menatap Queen jengah dari tadi malah cekikikan dengan om Fandi. Tingkah Queen seperti itu sama seperti Queen kecil yang selalu bertingkah seperti itu pada om Fandi jika berhasil mengerjainya.


Sedangkan Dinda tersenyum bahagia melihat kebahagiaan yang terpancar di mata sang putri. Kebahagiaan itu belum pernah Dinda lihat sebelumnya. Tapi adanya Fandi mampuh membuat Queen selalu tersenyum.


Sebegituh kangenkah kamu pada sosok ayah, maafkan mama yang dulu egois. Pergi mencari ketenangan diri tanpa peduli kamu.


Jerit batin Dinda, setiap kali Dinda melihat sang putri bahagia bisa tertawa lepas dan bercanda bersama Fandi membuat hati Dinda teriris. Belum pernah sang putri tertawa lepas dan bercanda dengan dirinya seperti apa yang Queen lakukan dengan Fandi.


"Mama, lihat tuh. Biru menatap Rora begitu, "


Farhan mencebikan bibirnya melihat tingkah manja Queen pada sang mama.


"Biru, jangan sakiti mantu mama. Nanti mama bawa Rora jauh dari kamu! "

__ADS_1


Ancam Adelia membuat Farhan hanya bisa menggerutu dalam hati.


"Harusnya kamu itu mengerti, Nak. Rora ingin selalu dekat dengan kamu,"


Seloroh om Fandi menatap cuek Farhan yang dari tadi menahan kekesalannya.


"Yasudah, kalau gitu nikah saja bagaimana? "


Queen membelalakan matanya menatap tajam Farhan yang malah membahas kesana. Kini giliran Farhan yang mengoda Queen dengan menurun naikan kedua alisnya.


"Kalau itu mama setuju! "


Kini Dinda yang menyahut semangat membuat Queen semakin kesal kenapa jadi dirinya yang bahan candaan.


"Kalau Dinda sudah setuju kita tentukan tanggal bagaimana, "


"No!!! "


Pekik Queen terkejut akan ucapan mama Adelia. Queen menatap tajam pada Farhan yang tersenyum penuh arti.


"Kenapa, Nak. Kemaren saja mohon-mohon minta bantuan mama supaya Biru pulang,"


"Queen gak bakal nikah, sebelum mama memberi Queen seorang adik! "


Dinda berbatuk karena terkejut dengan ucapan sang putri, bahkan mata Dinda melotot sempurna kearah sang putri yang malah cengengesan.


"Ap.. apa yang kamu bicarakan, Nak!"


"Queen gak bakalan nikah sebelum mama memberi Queen seorang adik!"


Ulang Queen semakin lantang tersenyum penuh arti pada Farhan. Dinda seakan sulit bernafas mendengar permintaan konyol sang putri. Bagaimana bisa dia memberikan seorang adik di usianya yang akan menginjak tiga puluh sembilan tahun. Sungguh permintaan Queen benar-benar membuat Dinda tak bisa berpikir jernih.


Fandi yang melihat reaksi sang istri seperti itu merasa kasihan. Bahkan Fandi juga tak menyangka akan permintaan konyol putri sambungnya. Fandi tak mempermasalahkan hal itu, karena Fandi tak akan memaksa. Sudah memiliki Dinda seutuhnya saja sudah membuat Fandi bahagia. Kalau masalah anak, Fandi sudah ada Queen dan tinggal menikmati masa tuanya menunggu Queen memberikan seorang cucu. Walau, kemungkinan memang Dinda masih bisa hamil tapi Fandi tidak berharap lebih.


"Jangan dengarkan Queen, sayang! "


Fandi mengelus punggung sang istri mencoba menenangkan. Dinda menatap sang putri dengan tatapan entahlah.


"Bagaimana, Ma. Setuju gak? "


Dinda tercekat melihat sang putri begitu semangat menginginkan seorang adik. Padahal Dinda tak pernah terbesit kesana. Dinda hanya berencana tak akan kerja dan hanya ingin di rumah menghabiskan waktu yang sempat hilang dengan sang putri dan berusaha menjadi istri yang baik.

__ADS_1


"Nak, ma.. mama kan sudah tua. Mana mungkin masih bisa ha.. "


"No, Ma. Kemaren Queen tanya sama dokter, mama masih bisa hamil ko. Walau kemungkinan hanya 50% tapi Queen yakin mama masih bisa hamil, iya kan mama Adel! "


"Iya, Din. Kemaren Queen meminta mba menemani Queen bertemu dokter. Katanya begitu, masih bisa."


Dinda sungguh dibuat tak percaya dengan apa yang sang putri lakukan. Sampai segitunya Queen menginginkan Dinda hamil.


"Mas..,"


Dinda menatap sang suami memelas, seakan meminta pertolongan untuk menjelaskannya. Walau memang Dinda dan Fandi sudah setuju tak akan memiliki anak.


Fandi faham apa yang sang istri rasakan, rencana Dinda ingin banyak waktu bersama Queen kenapa sang anak meminta seperti itu.


"Sayang, jangan itu deh syaratnya. Yang lain saja ya, daddy sama mama janji akan mengabulkan asal jangan yang itu!"


"No, Dad. Queen pengen adik."


"Alasannya kenapa sayang, kok sepertinya Queen ngebet banget pengen punya adik. Kalau memang seperti itu kita adopsi saja,"


"No, Queen pengen mama melahirkan! "


Huh...


Fandi menghela nafas panjang menatap sang istri yang masih diam, Fandi seakan menyerah dengan permintaan Queen.


"Ma..,"


Dinda menatap sang putri yang menatapnya memelas dan itu membuat Dinda bingung. Sedangkan Farhan hanya diam saja karena sudah tahu apa maksud Queen bersikeras menginginkan seorang adik.


"Kasih mama alasan kenapa Queen meminta itu?"


Queen berdiri dari duduknya dan menghampiri sang mama. Lalu Queen duduk di antara Dinda dan Fandi.


"Suatu saat nanti Queen menikah, maka Queen akan keluar dari rumah ini dan ikut kemanapun suami Queen pergi. Jika Queen pergi, siapa yang akan menemani hari-hari mama di masa tua. Sedang Queen yakin Daddy pasti akan sibuk bekerja, apalagi mama memutuskan tidak bekerja otomatis perusahaan akan daddy yang memegang dan itu pasti akan menyibukan daddy dan mama akan merasa kesepian. Queen tidak mau mama merasa kesepian di rumah sebesar ini, karena Queen tahu rasa kesepian itu sangat menyakitkan. Setidaknya kalau adak adik, mama tidak terlalu kesepian dan Queen akan tenang meninggalkan mama."


Tes...


Air mata Dinda keluar mendengar penuturan sang putri yang jauh dari prediksi. Sejauh inikah sang putri memikirkan perasaannya.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa Like dan Vote, Komen dan juga Hadiah... hadiah... oh hadiahhhhh...


__ADS_2