Gadis Dingin

Gadis Dingin
Bab 130 Baby memang pengertian


__ADS_3

"Emmmz .."


Queen menggeliat dalam tidurnya, perlahan kedua matanya terbuka. Kepala Queen terasa berat, mata bengkak mungkin karena tadi menangis.


Sayup-sayup Queen mendengar suara berisik di luar. Perlahan Queen bangun lalu keluar kamar. Pandangan Queen mengedar ke segala arah hingga tatapannya berhenti pada sosok kecil yang berlari menghampirinya.


"Kakak ..."


"Alam!"


"Kakak udah bangun, Alam tadi sama Tante ngambil buah di belakang. Kakak mau?"


"Boleh,"


Queen menggendong sang adik sambil mendekati sang mama yang sedang mengobrol dengan mama Adelia.


Queen mencium tangan sang mama lalu duduk di sampingnya.


"Mama kapan datang?"


"Tadi sayang, gimana cucu mama baik-baik?"


"Alhamdulillah baik mah, Daddy gak ikut?"


"Daddy katanya mau ke kantor dulu, pulang kantor langsung ke sini."


"Bilangin, Rora mau sup buah. Kayanya seger deh,"


"Wah cucu nenek mau sup buah ya, bentar ya mama telepon Daddy dulu,"


"Kaka aaa ..."


Queen membuka mulutnya menerima suapan buah yang sudah di potong-potong.


"Manis?"


"Hm, manis .."


Queen menikmati buah bersama sang adik dimana Alam terus saja menyuapi sang kakak. Begitupun Queen menyuapi Alam. Mama Adelia hanya jadi penonton saja.


"Nanti malam Alam tidur sama kakak ya?"


"Boleh, emang Alam mau nginap di sini?"


"Iya dong, mama sama Daddy juga bakal ikut nginap. Iyakan mah?"


Tanya Alam di akhir kalimatnya pada Dinda yang baru saja selesai menelepon dengan Fandi.


"Iya, mama sama Daddy akan nginap di sini."


"Terimakasih mah!"


"Terimakasih buat apa sayang?!"


"Semuanya!"

__ADS_1


"Kembali kasih, sekarang Alam mandi ya sama mama. Ini sudah sore,"


"No, Alam mau sama kakak!"


Tolak Alam sambil melihat ke arah Queen. Queen hanya tersenyum saja.


"Ya sudah yuk, kita mandi di kamar kakak."


"Alat mandi Alam di bawa mah,"


"Ada sayang, kamu duluan saja mama nyusul,"


Queen menggandeng tangan Alam menuju kamar tamu di mana sekarang sudah menjadi kamarnya. Queen perlahan melepas baju Alam satu persatu.


"Kak, Dinda ke kamar dulu ya,"


"Oh iya, bik Marni mana kak, tadi Fandi katanya mau beli menu makanan di luar jadi Bik Marni gak usah masak buat makan malam,"


"Nanti kakak sampaikan, kamu bawa itu dulu, takut Queen nunggu,"


Mama Dinda langsung beranjak menuju kamar Queen. Dimana kedua anaknya memang sudah menunggu.


Mama Dinda begitu takjub melihat Queen bisa memandikan Alam. Bahkan Queen sangat telaten dari mulai memandikan dan memakaikan pakaian Alam. Entah sejak kapan Queen bisa melakukan semuanya atau dulu Queen sempat kursus mengurus anak kecil.


"Alam gendong sama mama ya atau jalan sendiri. Jangan minta di gendong kakak, kasihan keponakan Alam nanti berat."


Tegur halus mama Dinda memohon pada putranya. Mama Dinda takut Queen berat dari tadi menggendong Alam terus.


"Tidak apa mah, Alam gak berat kok. Queen masih kuat,"


Queen tersenyum ketika adiknya mengelus perut buncitnya. Meminta maaf lalu menciumnya.


Mama Dinda memang bukan seorang ibu yang gagal dalam mendidik anak. Hanya saja waktu Queen kecil keadaannya yang berbeda. Buktinya mama Dinda mampu mendidik Alam menjadi anak penurut. Bahkan mama Dinda yang mengajarkan Alam memanggil sebutan om pada keponakannya yang belum lahir supaya kelak menjadi terbiasa.


"Ya sudah, om kecil sama mama dulu ya. Sekarang giliran kakak yang mandi."


"Ok kakak,"


Queen langsung beranjak ke kamar mandi guna membersihkan dirinya yang sendari tadi memang menahan gerah.


"Kita tunggu Daddy yuk di luar,"


Alam hanya mengangguk saja sambil meraih tangan sang mama. Dinda menggandeng Alam ke luar menuju ruang tamu. Mungkin sebentar lagi suaminya pulang.


Sambil menunggu suaminya pulang, Dinda bermain dengan Alam yang ingin belajar gambar-gambaran.


"Wah ponakan Tante sudah ganteng, boleh Tante ikut main?"


"Sini Tante,"


Alam begitu senang belajar di temani mama dan tantenya.


"Warnai nya jangan keluar garis nak, sini mama contohkan,"


Alam dengan serius melihat sang mama mencontohkan mewarnai gambar yang bagus. Alam seperti sudah remaja saja, sangat fokus ketika Dinda mulai mencontohkan.

__ADS_1


Padahal usia Alam mau menginjak tiga tahun, tapi Alam begitu pintar dan mudah mengerti dengan hal-hal kecil yang di ajarkan Dinda.


Bibit Mangku Alam memang tak di ragukan lagi. Apalagi Fandi dan Dinda memang remaja cerdas di masanya.


Dan, tak banyak orang tahu bahwa Dinda pintar dalam bidang IT. Kecerdasan Queen dalam IT kemungkinan turun dari Dinda. Bahkan Queen juga tidak tahu kecerdasan dia turun dari siapa, kenapa dia mudah mempelajari IT yang orang lain berkata sulit. Hanya Fandi lah yang tahu kalau Dinda cerdas di bidang itu. Bahkan Angga pun dulu tidak tahu.


Itulah alasan kenapa Farhan dulu menyerahkan perusahaan yang dia bangun di kelola oleh Dinda dan Fandi. Karena Dinda lah yang melindungi perusahaan Farhan supaya tidak ada orang yang mencuri data perusahaan. Perlindungan itu Dinda ciptakan sendiri. Halnya yang Queen lakukan pada perusahaan sang ayah. Bahkan Angga sendiri tidak tahu kalau putrinya yang sejak dulu melindungi perusahaan nya dengan diam.


Bahkan sampai sekarang Queen masih melindungi perusahaan sang ayah agar tidak ada orang yang meretas sistem keamanan di sana.


Walau Dinda dan Queen tak pandai dalam bidang marketing, tapi ibu dan anak itu tahu caranya melindungi.


Itulah kenapa Queen menyerahkan semua propertinya pada Riko. Karena Riko bisa mengembangkan semua aset yang Queen miliki termasuk Mall yang sering Queen kunjungi.


Hanya satu yang Queen tidak ikut campur, yaitu tentang perusahaan induk keluarga Al-biru. Yang sekarang Farhan yang memimpin. Karena Queen tahu, suaminya bisa mengatasi semuanya.


Awalnya Queen mencoba ingin membantu sang suami dalam diam. Tapi, ketika Queen berusaha masuk ternyata sistem keamanan yang di ciptakan suaminya sangat sempurna.


Ah ... entah bagai mana bibit unggul Al-biru ketika sudah besar nanti. Apa mampu menguasai kecerdasan kedua orang tuanya atau malah sebaliknya.


"Daddy ..."


Fandi menoleh melihat Queen memanggilnya. Queen berhambur ke dalam pelukan sang Daddy.


Fandi memang baru saja datang karena dia tadi sempat mampir dulu ke rumah mengambil baju ganti buat besok berangkat kerja. Karena rencana awal memang mereka tidak akan menginap, hanya Alam saja yang menginap.


"Gimana kabar tuan putri, baik-baik saja kan?"


"Baik dad, baby juga baik. Mama Adel selalu menjaga Queen."


"Kata mama kalian mau nginap di sini?"


"Iya dong, dari kemaren Alam merengek terus minta ke sini, katanya mau nemenin kakak."


"Makasih dad,"


Queen tahu, kedua orang tuanya sedang mengkewatirkan dirinya. Hanya saja sang adik menjadi alasannya.


"Kata mama, tuan putri ngidam sup buah ya. Daddy udah belikan, cuma tadi di taroh di kulkas."


"Terimakasih dad,"


"Ya sudah, makan gih. Daddy mau mandi dulu gerah,"


"Ok,"


Queen langsung menuju kulkas mengambil pesanan dia tadi siang. Bibir Queen tertarik merasa lucu sendiri. Perasaan baru kali ini Queen meminta sesuatu. Biasanya Queen tak menginginkan apa-apa. Cukup tak mau jauh-jauh saja dari sang suami.


"Baby memang pengertian,"


Gumam Queen sambil mengelus perutnya. Setidaknya Queen tidak merasa tersiksa jauh dengan sang suami.


Apalagi ada kedua orang tua dan adiknya datang. Membuat Queen sejenak melupakan rasa rindunya pada sang suami. Padahal baru beberapa jam di tinggal dan mungkin Farhan juga masih dalam pesawat.


Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah, Komen, dan Vote Terimakasih....


__ADS_2