Gadis Dingin

Gadis Dingin
Bab 54 My Daddy


__ADS_3

Ada kecanggungan di hati Queen ketika satu mobil bersama keluarga sang ayah. Queen hanya diam saja di sepanjang jalan menuju ke kediaman Prayoga.


Baru pertama kalinya Queen menginjakan kedua kakinya ke Mansion sang ayah dengan istri pertamanya. Jauh lebih besar dari pada rumah yang dulu sang mama jual dan akhirnya pindah kerumah yang sekarang Queen tempati. Tapi kemewahannya tak kalah jauh walau ada sebagian yang berbeda.


"Nak, kenapa diam?"


Tanya Murni memecah keheningan yang sendari perjalanan begitu sunyi tak ada yang mau bicara. Bahkan beberapa kali Murni mengkode sang suami untuk bicara tapi Angga laki-laki yang tak peka akan situasi apalagi Angga tak cukup keberanian.


"Tidak apa-apa tante, Queen hanya tidak biasa di situasi seperti ini!"


Jujur Queen karena memang begitu adanya. Ucapan Queen sukses mencubit hati Angga, Angga sungguh merasa bersalah. Karena dirinya yang menciptakan benteng ini hingga Angga bingung harus bersikap seperti apa karena Angga akui dirinya tak sedekat itu dengan Queen.


"Maafkan ayah sayang..,"


Lilir Angga sungguh rasa bersalah pada putri yang dia telantarkan membuat semuanya jadi begini.


"Sudah Queen bilang, Queen sudah melupakan yang terjadi dulu!"


"Maafkan ayah yang tak bisa jadi ayah yang baik untuk kamu. Ayah telah gagal menjadi seorang ayah, ayah terlalu pengecut dan pecundang. Tapi, satu yang harus kamu tahu ayah sangat mencintai kamu. Izinkan ayah untuk menebus waktu yang hilang bersama kamu!?"


Tulus Angga sambil menggenggam tangan sang putri erat sesekali menciumnya. Jek dan Murni hanya diam melihat interaksi ayah dan anak itu tanpa mau menyela sedikitpun. Murni memberikan ruang untuk Angga dan Queen mengungkap segala rasa yang menyesakan dada, segala emosi yang membelengu jiwa.


"Ayah memang pengecut dan pecundang...,"


Queen terdiam sejenak menarik nafas pelan untuk menyiapkan kata yang akan dia ungkapkan. Sedangkan Jek melotot mendengar dengan entengnya Queen bicara tanpa menyaring membuat Jek jengkel jadinya.


"Pengecut dan pecundang dua kata yang tak seharuhnya ada di diri ayah. Tapi, ayah tak pernah gagal untuk menjadi ayah Queen. Ayah adalah ayah, ayah Queen yang tak bisa Queen putuskan walau bagaimanapun caranya. Mungkin kata gagal ada, tapi Queen selalu menunggu ayah untuk datang pada Queen dan menunjukan bahwa ayah tak pernah gagal menjadi ayah Queen. Ayah sudah membuat Queen jatuh cinta sendari kecil, bagaiman bisa Queen semarah itu pada orang yang sudah membuat Queen jatuh cinta walau harus ada luka. Di sini.."


Queen menarik tangan besar sang ayah dan meletakannya di atas dada Queen. Angga bisa merasakan detak jantung sang putri begitu berdetak hebat.


"Apa ayah tahu! disini getaran ini masih sama. Cinta dan sayang Queen masih sama tak pernah berubah walau ayah selalu memberi luka dan kecewa. Tapi, rindu di sini mengalahkan semuanya hingga Queen tak bisa marah. Mama pernah bilang, Jangan pernah membenci walau Queen sebenarnya ingin. Karena sebenci apapun Queen pada ayah tak akan bisa merubah ikatan darah yang mengalir di tubuh Queen."

__ADS_1


Grep...


Angga menarik sang putri kedalam pelukannya dengan air mata yang tumpah membasahi kedua pipinya. Entah apa yang harus Angga ucapkan untuk sekedar membalas setiap kalimah yang sang putri ucapkan.


Rasa sesal selalu mengerogoti hati Angga, harusnya Angga tahu kalau Queen jauh membutuhkan dirinya dari pada Jek. Tapi Angga tak mendengarkan sama sekali nasihat Murni. Hingga semuanya kacau dan itu karena dirinya. Sang putri benar, Angga terlalu pengecut dan pecundang untuk mengakui kesalahannya. Padahal Angga bukan laki-laki seperti ini, Angga dulu terlalu takut anak-anak nya membenci dirinya tapi pada kenyataannya sikap Angga yang membuat kedua anaknya membenci dan saling benci.


Murni menitikan air mata mendengar ungkapan dalam putri dari orang yang sudah Murni anggap adik. Unkapan yang tak bisa di jabarkan begitu dalamnya rasa yang Queen punya. Bahkan Jek pun terdiam tak bisa berkata apa-apa melihat sisi lain Queen.


Jek melihat, Queen bukan seperti Queen yang Jek kenal. Setiap kata yang Queen ungkapkan begitu dalam dan menyayat hati siapa saja yang mendengarnya.. Bahkan para pelayang yang tak jauh dari ruang keluarga menitikan air mata mendengar unkapan rasa begitu dalam seorang putri pada ayahnya.


"Beri ayah ruang untuk menyelami rasa yang tercipta. Maukah Queen beberapa hari tinggal bersama ayah?"


Queen hanya diam sambil mengeratkan pelukannya. Pelukan yang sendari dulu Queen inginkan. Terrasa nyaman dan hangat meresap ke lerung hati Queen. Queen rasanya ingin seperti ini tak mau melepaskannya. Pelukan hangat yang selalu Queen inginkan dan dambakan pada sosok ayah. Rasanya Queen terasa terlindungi dalam dekapan ini.


Walau ada rasa lain yang berbeda dengan yang Queen rasakan bersama om Fandi. Rasa yang tak bisa Queen jabarkan dua orang yang mungkin sangat berarti bagi Queen.


"Queen tak bisa menolak atau mengiyahkan ayah. Karena Mama akan membawa Queen liburan ke Puncak. Harusnya hari ini, cuma tidak jadi karena Queen harus menjemput ayah. Kalau ayah mau, ayah bisa bicara sama mama!"


Ada rasa kecewa di hati Angga ketika mendengar penjelasan sang putri. Tapi, Angga juga gak boleh egois memaksa kehendaknya.


Drett...


Suara ponsel Queen memecah keheningan yang tercipta. Membuat Angga terpaksa melerai pelukannya. Queen melihat siapa yang meneleponnya seketika bibirnya tersenyum tanpa sadar membuat Angga hanya diam dengan perasaan yang sulit di artikan.


"Ayah, maaf Queen izin menerima panggilan?"


"Iya, Nak."


Dengan terpaksa Angga mengiyahkan tidak mungkin Angga melarangnya. Entah kenapa ada rasa cemburu di hati Angga ketika sang putri bisa tersenyum pada orang lain bahkan bersama dirinya Queen tak pernah tersenyum ringan seperti tadi.


"Siapa yang telepon Queen mas, kenapa muka kamu berubah?"

__ADS_1


Tanya Murni yang aneh dengan perubahan wajah sang suami. Murni tahu jelas perubahan muka sang suami adalah perubahan rasa cemburu. Murni sudah tahu bagaimana sikap sang suami jika cemburu.


"Fandi!"


Murni terdiam mendengar nada ketus sang suami. Seketika Murni tersenyum geli melihat terlihat jelas ketidak sukaan Angga pada sang adik yang menjadi ayah sambung Queen. Angga tadi memang melihat sekilas nama yang memanggil sang putri dengan nama kontak My Daddy😘.


"Sudah teleponnya sayang, siapa memang yang telepon?"


Tanya Murni pura-pura tak tahu, Murni hanya ingin mengoda sang suami saja.


"Al-biru, tante. Katanya mau kesini jemput Queen."


"Hah, B-Biru!"


Gagap Angga terkejut, kenapa Farhan yang menelepon jelas nama kontaknya tadi Angga sempat lihat namanya My Daddy😘 kumplit dengan emotikonnya.


"Iya, Biru. Kenapa yah,"


Bingung Queen sambil duduk kembali di sisi sang ayah.


"Ta.. tadi pikir itu Fandi yang telepon so.. soalnya tadi ayah lihat nama kontaknya da.. daddy!"


"Oh, itu! Biru sendiri yang menyimpan nomornya dengan nama itu. Katanya supaya Queen tak berpaling darinya,"


Polos Queen membuat Murni tersenyum geli melihat tingkah sang suami yang menganga tak percaya.


Bersambung....


Jangan lupa Like dan Vote....


__ADS_1


__ADS_2