
Raut wajah cemas terlihat sekali di wajah Jek dan Murni menunggu Queen keluar di ruang ICU di mana sedang mentranpulsi darah.
Begitupun dengan Dinda yang tak jauh dari sana duduk di temani oleh Fandi yang terdiam menatap Dinda rumit.
Jika kamu tak sanggup bicara maka aku yang akan mengungkapkan kebenarannya. Kenapa harus kamu yang jadi korban dalam hubungan kakak ku. Sekarang Queen juga berada di posisi yang sangat menyakitkan. Kenapa harus kalian! sudah cukup kamu jadi korban aku tak akan membiarkan keponakanku yang jadi korban selanjutnya.
Batin Fandi mengepal dengan tatapan tajam menghunus sang kakak, Murni. Fandi beranjak sedikit menjauh dari ruang ICU.
"Paman mohon cepatlah bertindak, agar tidak terjadi apa-apa pada Queen"
Ucap Fandi serius berbicara dengan seseorang di serbang sana.
"Paman tidak mau bajingan itu terus bertindak seenaknya! "
"......."
"Kamu bisa! jangan menyerah. Dia tak akan pernah berkutik tanpa Liontin itu. Sebelum terlambat hancurkan semuanya karena kamu berhak atas segalanya! "
"....,"
"Ok! paman akan menjaganya,"
Tut..
__ADS_1
Fandi mematikan teleponnya ketika sudah selesai bicara. Beberapa kali Fandi menghela nafas berat dan dalam mencoba menenangkan hati dan pikirannya. Sudah tenang Fandi kembali ke sisi Dinda sambil menepuk pundaknya.
Dinda mendongkak merasakan pundaknya di tepuk. Seketika Dinda tersenyum melihat Fandi kembali.
"Jangan cemas, semua baik-baik saja?"
*Apa kamu begitu mencintainya, Dek. Hingga sampai sekarang kamu masih bertahan di sisinya.
Maafkan kakak yang sudah membuat hubungan kalain hancur*.
Jerit hati Murni sakit melihat bagaimana adiknya, Fandi begitu menatap Dinda penuh cinta. Membuat Murni kian semakin merasa bersalah karena semuanya salah dirinya.
Cklek..
"Bagaimana, Dok? "
"Alhamdulillah, suami anda sudah melewati masa kritisnya. Hanya saja benturan di kepalanya cukup serius, tapi kami berusaha semoga tidak akan ada hal yang tak di inginkan! "
"Bagaimana dengan putri saya Dok? "
"Putri ibu baik-baik saja, dia hanya butuh istirahat untuk memulihkan kembali setelah tranpulsi."
"Sebentar lagi mungkin kedua pasien akan di pindahkan, ibu-ibu harap tenang. "
__ADS_1
Jek bernafas lega mengetahui kalau sang papah sudah melewati masa kritisnya dan itu semua berkat Queen, adik tiri Jek. Entah harus bersikap bagaimana Jek jika menghadapi Queen. Di satu sisi Jek tak mau Queen menjadi adiknya karena akan sulit menjahili dan menantang Queen. Di sisi lain Jek mulai menerimanya setelah Murni sudah menceritakan semuanya. Kalau Queen ada bukan kesalahan papahnya.
Sekarang Jek mengerti kenapa sang papah selalu menghukumnya jika dirinya menyakiti Queen. Berbeda ketika Jek melakukan balapan luar atau poya-poya sang papah akan selalu bersikap biasa saja dan semenjak Jek bermusuhan dengan Queen dan apapun yang terjadi dengan Queen sang papah pasti marah ke padanya ternyata ini jawabannya.
"Ka.. kau adikku! "
Lilir Jek masih tak percaya dengan semua ini, Jek melihat Queen masih memejamkan kedua matanya dengan Dinda berada di sisinya. Jek tidak berani masuk sedangkan sang papah hanya di izinkan satu orang yang masuk ke ruangannya dan Jek harus menunggu sang mamah keluar dulu baru Jek masuk.
Kruk..
Jek merasakan lapar karena memang sendari pagi belum makan apalagi ini sudah malam. Jek melangkah keluar guna mencari makan apalagi Jek tahu kalau sang mamah juga belum makan dari tadi sore.
Jek tak mau membuat sang mamah sakit karena tak menjaga pola makannya apa lagi sekarang sang mamah pasti tak mau jauh dari sang papah.
Citt..
"Siapa kalian!!! "
Bugh...
Bersambung....
Jangan lupa Like dan Vote...
__ADS_1