
"Pagi Mah, Dad."
"Pagi juga sayang..,"
Balas Dinda dan Fandi barengan, Dinda menyerngit heran melihat tingkah putrinya yang seperti bahagia.
"Kelihatannya ratu dady sedang mendapat hadiah?"
Queen tersenyum malu membuat Dinda geli sendiri melihat kelakuan sang putri yang tak biasanya memasang wajah dingin kini malah merona.
Tid....
Sekarang Dinda tahu kenapa sang putri wajahnya merona karena hari ini berangkat bareng dengan Farhan ke kampus.
"Mah Dad, Queen berangkat dulu..,"
Cup... cup...
Ucap Queen sambil mencium pipi Dinda dan Fandi bergantian lalu berlalri keluar dengan tangan mengambil satu sandwich.
Di lihatlah Farhan sudah menunggu dengan gagahnya sambil membukakan pintu mobil untuk pujaan hatinya.
"Bagaimana tidurnya, nyenyak? "
"Sangat nyenyak sekali, Aa..,"
Jawab Queen sambil mendekatkan sandwich pada mulut Farhan. Dengan senang hati Farhan menerima suapan sandwich yang Queen bawa. Farhan lalu pokus kembali melihat kedepan, karena jalan mulai ramai.
Sendari tadi bibir Queen tak lepas dari senyum manisnya. Karena Farhan mengantarnya ke kampus. Farhan akan mengantar Qeen ke kampus jika Farhan tak mengajar melainkan pergi ke kantor. Jika Farhan bagian masuk kelas maka mereka akan pergi bareng walau beda kendaraan. Queen menggunakan Mogenya dan Farhan mengunakan mobil khusus ke kampus.
Tapi, ada yang jauh membuat Queen bahagia, sepertinya Queen sebentar lagi akan punya adik. Apalagi melihat pancaran cinta kebahagiaan dari sorot mata kedua orang tuanya yang semakin hari semakin tumbuh liar.
Grep...
Tangan Queen di cekal oleh Farhan ketika akan turun dari mobil.
"Apa?"
Queen tersenyum ketika Farhan menunjuk keningnya sambil menundukan sedikit kepalanya.
Cup...
Farhan tersenyum ketika merasakan kecupan lembut di keningnya.
Cup...
"Itu bonus..,"
__ADS_1
Farhan terkekeh melihat kelakuan Queen yang langsung keluar setelah mendaratkan satu kecupan lagi di ujung hidungnya.
"Mulai nakal..,"
Monolog Farhan dengan senyum yang semakin mengembang. Lalu Farhan melajukan mobilnya lagi menuju perusahaan karena hari ini gak ada jadwal Farhan mengajar.
Tanpa di sadari Queen, semua mahasiswa cowo terpana melihat Queen yang berjalan melewati mereka. Begitupun mahasiswa cewe, terpana di barengi dengan kekesalannya.
Kampus hari ini seakan berwarna melihat gadis dingin mereka. Bagaimana semua mahasiswa tidak terpana, Queen tidak sadar kalau dirinya di sepanjang jalan menuju kelasnya tersenyum sambil mendengarkan musik dari earphone yang Queen pakai seperti biasa.
Grep...
Queen menghentikan langkahnya ketika tangannya di cengkal oleh seseorang membuat Queen hampir saja memelintirkan tangan orang tersebut. Queen menghentikan gerakan waspadanya ketika tahu siapa yang mencengkal lengannya.
"Kenapa?"
"Maaf, apa kamu gak merasa aneh?"
"Aneh!"
Ulang Queen bingung sambil mengerutkan keningnya.
"Lihatlah, semua orang memerhatikanmu,"
Deg...
"Kenapa dengan mereka semua!"
"Mereka terpana dari tadi kamu tersenyum, hari yang begitu bersejarah kamu datang dengan bibir tersenyum."
"Hah, masa!"
Queen membola melihat poto dirinya yang tersenyum. Melati memang sengaja memotret Queen ketika tersenyum karena bagi Melati itu senyuman langka yang Queen perlihatkan selama di kampus ini.
Seketika Queen mengganti raut wajahnya dengan wajah seperti biasa membuat Melati mengulum senyum.
Queen langsung berjalan cepat menuju kelasnya dengan wajah dingin nan cuek seperti biasa.
Melati mengekor di belakang, semenjak Queen membantu Melati dari jeratan para preman karena hutang lima belas juta hubungan mereka jadi dekat. Apalagi Melati sosok lemah nan polos yang sering di buly di dalam kelas maka jika ketahuan oleh Queen orang itu akan berakhir di rumah sakit. Tapi tidak ada yang berani atau mengancam Queen masuk penjara karena sebelum melakukan aksinya Queen akan merekam kejahatan mereka.
Hari ini ada ujian membuat Queen pokus mempelajari beberapa materi dulu sebelum ujian di mulai. Tidak hanya dingin Queen juga si kutu buku. Hingga di mana waktu ujian tiba, tanpa banyak bicara kurun waktu tiga puluh menit maka Queen sudah menyelesaikan semua soal. Padahal waktu yang di berikan masih banyak membuat teman satu kelasnya melongo melihat Queen keluar duluan.
Queen begitu di segani, bukan karena kedinginan dan kecuekannya tapi juga kecerdasan otaknya yang kadang melebihi dosen yang mengajarnya.
Tapi, sampai sekarang tak ada satupun yang tahu siapa Queen sebenarnya. Jika saja semua orang tahu, kalau Queen anak dari Angga Prayoga, menduduki pengusaha sukses nomor dua se-Asia.
Tidak banyak orang yang tahu, bahkan tak semua dosen tahu siap Queen hanya sebagian orang saja yang tahu, itupun yang memegang jabatan penting di kampus.
__ADS_1
"Queen...,"
Queen mengalihkan pandangannya sambil menutup buku yang dia baca. Seketika wajah Queen berubah kelam melihat siapa yang menghampirinya.
"Apa kamu akan tetap memasang wajah itu padaku?"
Ucap Jek sendu menatap nanar pada Queen yang masih tak menerima kehadirannya.
"Katakan saja ada apa?"
"Ikut aku ke bandara, hari ini papa pulang dari Singapur!"
Queen terdiam, Angga sepasca siuman dari komanya memang mengalami lumpuh dan itu membuat Angga berobat ke Singapur karena Angga ingin cepat pulih.
Sudah satu bulan lebih memang Angga berobat, setelah satu hari Dinda dan Fandi menikah Angga langsung berangkat bersama Murni ke Singapur.
Jek tidak ikut karena Jek harus mengerjakan skripsi dan membantu di perusahaan.
"Apa kamu tak mau menjemput papa?"
Queen masih saja terdiam dan itu membuat Jek kesal, kenapa Queen tak bisa menerima semuanya. Padahal Jek berusaha menerima Queen bagian dari hidupnya walau bagaimanapun ikatan mereka tak bisa di putus.
Jek tersadar ketika mengingat sesuatu, lalu Jek merogoh ponsel mahalnya dan menunjukan pada Queen.
"Aku sudah meminta izin pada tante Dinda dan om, kalau aku akan mengajak kamu ke bandara menjemput papa."
Queen menghembuskan nafas pelan melihat chatingan Jek dan sang mama. Lalu Queen merogoh ponselnya karena memang sendari tadi Queen tak membuka sama sekali karena sibuk membaca di perpus.
"Sayang ikut saja sama kakak kamu jemput ayah, kita tunda saja liburan ke puncaknya. Atau kita berangkat besok saja."
'Kakak' Queen merasa geli membaca pesan sang mama yang menyebut Jek, kakak.
"Yasudah..,"
Queen langsung berdiri ketika mengucapkan itu membuat Jek tersenyum karena Queen mau ikut.
Sebelum berangkat Queen memberi pesan pada Farhan supaya tak menjemput dia, karena Queen sedang bersama Jek menuju Bandara menjemput sang ayah.
Rasanya hati Queen tak menentu, entah apa yang akan terjadi nanti. Walau tak bisa Queen pungkiri hati terdalamnya bahagia mendengar sang ayah sudah sembuh.
Hubungan Queen dan Angga memang tak sehangat itu karena Angga sendiri yang seperti kaku.
Queen terdiam mematung melihat orang yang dia tunggu berjalan ke arahnya. Hingga sebuah pelukan hangat Queen dapatkan.
"Terimakasih sayang sudah mau menjemput ayah! "
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa Like dan Vote....