Gadis Dingin

Gadis Dingin
Bab 43 Dia papamu bukan ayahku!


__ADS_3

Geraman seseorang begitu nyaring dengan rintihan kesakitan yang begitu menggerogoti di setiap harinya.


Rasa sakit yang menjalar di seluruh tubuhnya begitu menyiksa Sam. Bahkan Sam kesulitan untuk menggerakan kedua kakinya. Entah apa yang terjadi dengan Sam bahkan tak ada satupun orang yang peduli dengannya.


Orang-orang yang satu sel dengannya pun muak melihat Sam. Karena dalam keadaan seperti itu Sam tetap saja sombong dan arogan membuat orang-orang malah menulikan telinganya kerap kali Sam mengerang sakit. Tubuhnya seakan kaku dan nyeri di tusuk-tusuk jarum dan itu membuat Sam prustasi. Bahkan tak ada satupun polisi yang peduli dengan rintihannya.


Sam mengutuk Farhan dan bersumpah akan membalas perbuatan kejinya. Kadang Sam terbahak tertawa sendiri bak orang gila. Karena Sam yakin Farhan akan kembali depresi mengetahui jika mamanya meninggal untuk yang kedua kali.


Sam tidak tahu kalau Farhan terlihat biasa-biasa saja bahkan kehidupannya jauh lebih baik sekarang.


Bahkan sekarang Farhan malah sedang menemani Queen nya ke rumah sakit setelah mendapat kabar kalau Angga sudah sadar dari komanya.


Begitupun Dinda, Fandi dan Adelia, mama Farhan ikut kerumah sakit. Sedangkan Daniel dan ayahnya, Lukman yang tak lain adalah asisten papa Farhan yang selamat bersama sang mama dalam kecelakaan itu.


Queen menghentikan langkahnya ketika melihat sang ayah sudah membuka matanya bahkan di dalam ada Murni dan Jek yang sedang menungggu.


Semua orang ikut menghentikan langkahnya ketika Queen berhenti.


Rasa bahagia sang ayah sadar, itu tentu. Tapi, Queen seakan belum siap jika harus bertemu dengan sang ayah.


"Kenapa Rora, ayok masuk kedalam! "


"Biru aku tak bisa..,"


Lilir Queen hendak menangis membuat Farhan faham apa yang dirasakan Queen. Sendari kecil Queen kurang kasih sayang sang ayah. Bahkan ketika Queen hilang ingatan Queen sudah merasa ada sesautu yang terjadi antara kedua orang tuanya. Hingga sampai Queen dewasa ternyata dugaannya benar dan itu semakin membuat hubungan anak dan ayah renggang. Apalagi Angga tak mengatakan ataupun menjelaskan apapun pada Queen.


"Sayang.., "

__ADS_1


"Mama saja yang kedalam, Queen belum siap.., "


Ucap Queen tegas tak mau di bantah. Queen melangkah berbaik arah meninggalkan ruang rawat sang ayah.


"Queen tunggu...,"


Jek yang sedang membuang sampah di mana tempat sampahnya berada di dekan pintu keluar tak sengaja mendengar suara Queen. Jek harus membawa Queen pada sang papa karena sendari siuman sang papa terus saja menanyakan keberadaan Queen. Jek tak boleh egois karena Queen juga bagian dari sang papa maka Queen juga berhak atas sang papa. Jek sadar kalau selama ini sang papa selalu ada buat dirinya tapi sang papa tidak ada untuk Queen. Jek mengalah dan berusaha menerima keadaan ini walau dalam hati Jek, Jek belum bisa menganggap Queen adik tirinya sendiri.


"Kenapa pergi? "


"Bukan urusan loh! "


Jek menghela nafas mendengar nada ketus Queen. Hubungan Jek dan Queen memang tak seakrab itu.


"Papa dari tadi menanyakan kamu, masuklah temui papa,"


Jek mengepalkan tangannya mendengar keangkuhan Queen membuat semua orang nampak tegang melihat perseturuan adik kakak itu. Sekuat tenaga Jek berusaha mengendalikan kekesalannya, karena Jek tahu bagaimana sikap Queen.


"Ya, dia papaku bukan ayahmu. Tapi ingat! di dalam tubuh kita mengalir darah yang sama! "


Krek...


Sekarang Queen yang mengepalkan tangan hingga menimbulkan bunyi bebukuan jarinya.


"Aku mohon, papa menunggumu..,"


Mohon Jek berusaha merendahkan dirinya demi sang papa. Jek tidak mau membuat sang papa sakit lagi karena memikirkan Queen. Walau bagaimanapun Jek kakak Queen dan Jek yang harus mengalah.

__ADS_1


"Gue tetap gak mau! "


"Queen!!! "


Geram Jek, mencengkal tangan Queen membuat Queen menatap tajam Jek. Tapi Jek tak peduli.


Deg...


Queen membelalakan matanya ketika Jek menarik tangannya dengan paksa bahkan Queen sedikit tersentak akan tarikan tangan besar Jek.


"Jek!!! "


Tekan Farhan menghadang langkah Jek, Farhan menatap tajam tangan Jek yang mencengkal Queen. Farhan tahu, Queen orang yang tak bisa di paksa maka dia akan memberonta. Sebelum ada keributan terjadi Farhan ingin semuanya tetap aman.


"Jek! "


Dengan berat hati Jek melepaskan tangan Queen. Entah kenapa tatapan Farhan begitu membuat Jek menciut. Apalagi Farhan dosen di kampusnya.


"Temuilah om walau sebentar, aku tahu kamu ingin om yang datang pada kamu bukan kamu datang padanya. Apa kamu gak kasihan melihat kondisinya, dia baru sadar bahkan aku tak tahu apa dia lumpuh atau tidak. Karena biasanya orang koma jika sadar beberapa waktu sulit berjalan. Bukankah tadi Rora paling semangat datang kesini, kenapa sekarang ingin menghindar. Masuk dan temuilah..,"


"Hm, "


Gadis dingin sudah ada pawangnya ternyata!!!


Bersambung...


Jangan Lupa Like dan Vote...

__ADS_1


__ADS_2