
Queen tersenyum kecut melihat kehangatan sang ayah dengan Murni dan Jek. Jika saja Queen berada di posisi itu Queen pasti akan bahagia.
Bukannya sang anak pasti akan menginginkan keluarga utuh bukan? tapi itu hanya harapan semu. Karena semuanya tak bisa, cinta sang ayah hanya untuk Murninya bukan untuk mamanya.
Tapi Queen tak mau egois, Queen ingin sang mama bahagia. Jika sang mama bahagia dengan orang yang seharusnya jadi omnya.
Lucu bukan?
Mungkin Fandi sebentar lagi akan menjadi sosok ayah di hidup Queen.
Queen hanya ingin melupakan semuanya dan mencoba menerima kenyataan bahwa sang ayah dan sang mama tidak bisa bersatu. Kenapa dunia begitu rumit dan sulit untuk di lerai. Tapi nyatanya, hubungan ini malah semakin mengikat Queen dan Jek, seolah takdir tak membiarkan antara adik kakak itu terus saling membenci.
Bagaimana bisa omnya Jek, menjadi ayah bagi adik tirinya. Tapi itulah takdir.
Sesudah Queen bicara dari hati ke hati, dengan sang ayah. Queen mencoba menerima dan memaafkan kesalahan sang ayah.
Walaupun kedua orang tuanya tak bisa bersamanya setidaknya Queen ingin mereka bahagia dengan jalannya masing-masing walau kasih sayang mereka akan terbagi.
Apalagi kemungkinan besar sang mama pasti masih bisa hamil karena usianya belum genap empat puluh tahun.
Di sini Queen seperti tersisihkan dengan kehidupan nanti.
"Kenapa melamun! "
"Eh, om.., "
Gugup Queen karena bingung harus memanggil Fandi seperti apa. Rasanya lidah Queen begitu kelu jika harus memanggil Fandi dengan sebutan ayah. Di mana Fandi sudah resmi menjadi ayah sambungnya dua jam yang lalu.
Fandi hanya tersenyum sangat paham apa yang Queen rasakan. Di sini Queen yang merasa tersisihkan tapi Fandi mencoba mengambil hati anak sambungnya.
"Mau berdansa?"
Tawar Fandi sambil mengulurkan tangannya di mana semua tamu undangan sedang melakukan dansa. Dengan ragu Queen menyetujui ajakan om Fandi.
"Om tidak keberatan jika Queen masih memanggil om. Panggil apa saja yang membuat Queen nyaman."
Queen hanya diam tak tahu harus menyahut apa karena tebakan om Fandi tepat sasaran.
"Jangan pernah merasa bahwa kasih sayang mama akan terbagi karena kehadiran om. Om tidak akan berjanji tapi Om akan berusaha menjadi sosok yang selama ini Queen inginkan,"
__ADS_1
Queen tidak tahu bahwa sendari tadi sosok gagah dengan sorot mata tajam menghunus Queen yang sedang berdansa dengan Fandi. Dadanya bergemuruh melihat Queen sedekat itu walau dengan ayah sambungnya sendiri.
Queen meliuk memutar tubuhnya dengan sangat tenang seakan Queen sudah ahli dalam hal dansa.
Grep...
Queen sedikit terkejut jika yang menarik tangannya bukan om Farhan tapi malah Farhan. Farhan menarik pinggang Queen sampai merapat ke tubuhnya membuat Queen menautkan kedua alisnya bingung melihat wajah masam Farhan.
Queen tidak sadar bahwa Farhan membawanya ke ruang belakang dengan jalan perlahan mengikuti alunan musik dansa.
"Awss.., "
Queen sedikit meringis ketika Farhan mendorong tubuhnya hingga punggungnya merapat ke ding-ding. Nafas Farhan memburu membuat Queen benar-benar bingung apa yang terjadi pada Farhan.
Farhan menyembunyikan wajahnya di cengkuk leher jengjang Queen membuat Queen benar-benar kebingungan dengan tingkah Farhan. Apalagi Queen merasa tak nyaman dengan posisi seintim ini.
"Kenapa? "
"Jangan tersenyum pada laki-laki lain! "
"Hah, "
"Itukan sama om Fandi, bukan laki-laki lain Bi-Ru."
"Tetap saja aku tak suka,"
"Cemburu! "
"Menurutmu, "
Mata kedua insan itu saling tatap, mengunci satu sama lain. Perlahan Farhan mendekatkan wajahnya hingga hidung mancung Farhan saling menyentuh dengan hidung mancung Queen.
"B.. biru..,"
"Kenapa kita tidak menikah juga! "
"Hah, jangan gila. Kamu tahu aku masih ingin lanjut kuliah! "
"Tapi, Rora... usiaku semakin tua! "
__ADS_1
"Tapi aku tak peduli, justru kamu semakin terlihat hot dan seksi..,"
Bisik Queen membuat Farhan memejamkan kedua matanya menikmati hembusan nafas hangat Queen di lehernya.
"Sudah, kita kembali ke depan?"
"Kiss dulu! "
Ucap Farhan menahan tangkah Queen membuat Queen kembali merapat pada tubuh Farhan. Farhan memegang bibirnya mengisyaratkan Farhan ingin kecupan di situ.
"Pejamkan matamu! "
Farhan perlahan memejamkan kedua matanya, Farhan menunggu apakah benar Queen akan mencium bibirnya atau tidak.
Cup...
Farhan menarik sudut bibirnya tetkala merasakan bibir Queen menempel di dagunya.
Farhan tahu, Queen orang yang memegang komitmen. Queen menginginkan ciuman pertamanya hanya ingin dia lakukan di malam pertama.
Cup...
Farhan membalas kecupan Queen di kening Queen.
"Besok aku akan ke Jogja, ada seminar di sana! "
Dengan repleks Queen melepas pelukan Farhan hingga ciuman Farhanpun terlepas. Queen menatap tajam Farhan yang tersenyum seakan tak berdosa.
"Kenapa mendadak!"
"Ini acaranya sudah lama, cuma ada waktunya besok! "
"Ikut, "
Farhan tersenyum geli melihat tingkah Queen yang merajuk.
Bersambung....
Jangan Lupa Like dan Komen.....
__ADS_1