
Malam ...
Belum ada tanda-tanda Farhan menelepon. Harusnya sejak tadi Farhan sudah memberi kabar. Tapi, sudah satu jam Queen menunggu tak ada tanda-tanda Farhan akan menghubungi Queen.
Rasa cemas, gelisah dan takut semakin menghantui Queen. Entah apa yang di lakukan suaminya, tak biasanya Farhan tidak memberi kabar walau itu hanya sebatas pesan.
"Akhh ..."
Queen meringis ketika merasa tendangan kuat dari anaknya membuat Queen menggigit bibir bawahnya.
"Maafkan bunda sayang, "
Lilir Queen menggigit bibir bawahnya kuat. Menahan supaya tidak keluar Isak tangis. Bahkan sampai tubuh Queen gemetar.
Kamar Dinda ...
"Mas ..,"
"Iya sayang,"
Fandi menoleh sebentar ke arah istrinya lalu memfokuskan kembali tatapannya pada layar laptop.
"Rasanya aku gelisah, bolehkah aku tidur sama Queen?"
Fandi menghentikan aktivitas nya. Terlihat jelas raut gelisah di wajah Dinda membuat Fandi mengerutkan kening.
"Kemari Lah ..."
Dinda beranjak dari ranjang menghampiri sang suami. Dengan lembut Fandi menarik pinggang sang istri agar duduk di pangkuannya.
"Sejak kapan?"
"Aku gak tahu, tapi hatiku tak tenang. Aku merasa putriku sedang membutuhkan aku, ibunya!"
"Boleh ya mas?"
"Tapi kan, Queen tidur bersama Alam!"
"Aku rasa, Queen hanya menemani Alam sampai tidur saja. Aku yakin, putriku sedang tak baik-baik saja!"
Fandi terdiam, bukankah perasaan seorang ibu yang paling peka akan sesuatu. Lalu kenapa Fandi ragu, atau memang ada hal lain yang tak Fandi ceritakan pada sang istri.
"Ya sudah kalau begitu, temani tuan putri. Nanti mas yang akan menemani Alam tidur, tapi mas harus menyelesaikan sedikit pekerjaan dulu,"
"Terimakasih mas,"
Cup ...
Dinda mengecup bibir Fandi dengan sangat lembut membuat Fandi terkejut. Sedetik kemudian Fandi tersenyum sambil menggelengkan kepala ketika melihat istrinya sudah kabur.
Dinda membuka kamar putra nya, dan benar saja Dinda tak mendapati Queen ada di kamar putranya.
Piling Dinda tertuju pada kamar tamu, karena gak mungkin Queen tidur di kamar dirinya sendiri. Karena kamar Queen berada di lantai atas.
Perlahan Dinda berjalan menuju kamar tamu.
__ADS_1
Tok ... tok ...
"Nak, kamu ada di dalam?"
"Mama masuk ya,"
Tanpa menunggu jawaban dan tidak peduli ada atau tidaknya Queen di dalam. Dinda tetap masuk.
Dan, ternyata benar saja, Queen ada di dalam kamar tamu. Dinda melihat putrinya yang sedang tertidur membelakangi arah pintu dengan selimut menutupi hampir seluruh tubuhnya.
Dinda mendekat, menghampiri sang putri. Memastikan sesuatu. Dinda terdiam cukup lama menelisik wajah sang putri yang matanya terpejam. Lalu Dinda merangkak naik keatas ranjang. Dinda hanya bisa menatap punggung Queen di balik selimut.
Dinda menghela nafas pelan sebelum bersua.
"Sayang, mama tahu kamu belum tidur. Adakah yang membuat kamu gelisah dan cemas?"
"Mama tahu, putri mama anak yang kuat, percayalah Biru baik-baik saja. Ingat, ada baby yang harus kamu jaga. Jangan terlalu cemas karena itu akan semakin mempengaruhi kandungan kamu,"
Akhh ...
Queen menggigit bibir bawahnya kuat sampai mengeluarkan darah. Menahan ringisan agar tak mengeluarkan suara. Dimana anaknya kembali menendang dan itu cukup kuat dari sebelumnya.
Queen nyatanya pura-pura tidur agar sang mama tidak mengkewatirkan dirinya. Namun, Queen lupa, bahwa seorang ibu akan merasakan apa yang anaknya rasakan. Sejahat apapun seorang ibu, se tak tak peduli seorang ibu pasti rasa itu akan hadir. Namun, terkadang ada ibu yang menampik rasa itu ada juga yang menerima. Halnya Dinda, membuat hatinya tak tenang.
"Sayang, lihat mama!"
Usapan lembut di kepala Queen membuat pertahanan Queen runtuh. Queen meloloskan Isak tangisnya dengan tubuh bergetar.
"Nak ..."
Baru kali ini Queen terisak dalam pelukan sang mama.
Se renggang apapun hubungan anak dan ibu, tetap saja yang pertama yang anak butuhkan adalah pelukan hangat seorang ibu.
"Menangis lah nak, menangis lah. Mama di sini, jangan takut!"
Tangisan Queen semakin pecah, dengan tangan memeluk erat pinggang sang mama.
Lelah!
Queen lelah terus berpura-pura kuat, nyatanya itu sangat menyakitkan.
Queen bukan wanita lemah, dia kuat sangat kuat. Tapi, mungkin di sinilah titik lelah Queen terus berpura-pura baik-baik saja.
Atau, ini hanya sekedar hormon kehamilan saja dimana akan membuat sang ibu mudah sensitif akan hal apapun. Seperti yang Queen alami.
Dinda membiarkan Queen menangis sepuasnya dalam pelukannya. Dinda bisa merasakan kesedihan sang putri. Karena Dinda pernah berada di posisi itu. Dimana dia berjuang sendiri melahirkan malaikat kecil. Tanpa suami, yang waktu itu Dinda butuhkan.
Bahkan waktu itu keadaan Dinda dan Angga tak baik-baik saja. Dimana Angga juga berada di titik kebingungan. Antara menjaga istri pertamanya, orang yang begitu sudah dia sakiti oleh cintanya atau Dinda, istri kedua yang terpaksa masuk karena terjadi kesalah pahaman.
Dinda tahu bagaimana rasanya, jelang persalinan tanpa kabar dari sang suami.
Queen masih beruntung, masih ada kedua orang tuanya. Ayah sambung yang menyayanginya. Dan mertua yang begitu menjaganya.
Lalu bagaimana Dinda dulu, dia hanya gadis sebatang kara. Di tolong oleh orang yang waktu itu Dinda tak kenal dan satu sahabat yang selalu ada untuknya, Fandi yang sekarang sudah menjadi suaminya.
__ADS_1
Miris bukan!
Keadaan ini hampir sama namun di rasa dan waktu yang berbeda.
Isakan Queen sudah tidak terdengar lagi, guncangan tubuhnya juga sudah mereda.
Nyatanya Queen sampai ketiduran, mungkin karena terlalu lelah menangis.
Tapi tak membuat Dinda berhenti mengelus kepala Queen.
"Sebesar itukah cinta kamu pada Biru, Nak. Mama berharap kalian bisa melewati badai rumah tangga yang hilir berganti datang. Ini hanya masalah kecil dan urusan waktu, kamu belum tahu dahsyat nya ujian yang lain. Berjuang sendiri tanpa di pedulikan! Semoga kamu kuat di ujian selanjutnya yang tak pernah terbayangkan. Dan bila waktu itu datang, semoga kamu sudah jadi ibu dan istri yang kuat hingga mama akan tenang walau mama apa akan tetap ada untuk kamu atau tidak."
Mata Dinda tetap terjaga walau waktu sudah larut. Dinda terus saja mengelus kepala Queen ketika Queen mengigau nama menantunya.
Entah se ribet apa urusan menantunya hingga membuat putrinya begini.
Perlahan Dinda melepaskan pelukannya hati-hati. Lalu beranjak menuju ruang kerjanya. Dinda menghidupkan beberapa komputer canggih. Sepertinya Dinda harus memeriksa sesuatu.
Dinda tak mau melihat putrinya terus seperti itu.
"Nyatanya kamu juga berusaha meretas, nak."
Gumam Dinda melihat layar komputer nya dimana ada deretan angka dan huruf.
Dinda mengetik sebuah pesan yang tak mengerti apa maksudnya. Sudah selesai dengan urusannya Dinda kembali mematikan layar komputer nya.
"Mas!!!"
Pekik Dinda tertahan sambil menutup mulutnya karena terkejut akan keberadaan suaminya. Hingga Dinda hampir saja terjatuh kalau tidak dengan cepat Fandi menarik pinggangnya.
"Mas tadi terbangun karena haus, mas mau ngambil minum. Tapi, mas lihat sayang masuk ke ruang kerja. Jadi mas ikutin. Maaf sudah membuat kamu terkejut,"
"T-tidak apa, mas melihat semuanya?"
Dinda menghela nafas ketika Fandi mengangguk.
"Aku hanya ingin Biru cepat kembali, aku gak tega lihat Queen seperti itu,"
"Biru pasti kembali!"
"Ya sudah, aku kembali ke kamar ya. Takut Queen ke bangun, mas juga tidur lagi ya,"
"Ada apa?!"
Dinda bingung karena Fandi malah memeluknya.
"Mas menginginkan kamu,"
Lilir Fandi serak, Fandi sungguh terpesona sendari tadi melihat bagaimana istrinya fokus mengetik. Terlihat sangat seksi dengan sepuluh jari yang menari di atas keyboard.
"M-masss ..."
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, dan Vote Terimakasih
__ADS_1