
Kamar yang tadinya penuh tangisan menjadi hening seketika. Queen berdiri membelakangi dua wanita yang menatap punggung Queen berbeda-beda.
Queen tidak tahu harus bagaimana menghadapi situasi seperti ini.
Kejadian demi kejadian terus bertubi-tubi datang dengan sebuah kebenaran yang begitu menyakitkan bagi Queen.
Queen memutar tubuhnya menatap istri pertama papanya dengan tatapan sulit di artikan. Seketika Queen teringat akan sesuatu dan tentu Murni pasti tahu siapa Samuel sebenarnya.
Murni masih terus saja menangis setelah menceritakan apa yang terjadi pada Queen. Murni tak bisa melakukan sesuatu yang nantinya akan mencelakai Queen ataupun Jek. Untuk itu Murni memutuskan meminta bantuan pada Queen langsaung walau Murni tahu Fandi tak mengizinkannya. Karena Queen satu-satunya harapan Murni supaya Jek bebas.
Sedangkan Dinda hanya diam dengan raut wajah cemas, takut sang putri melakukan hal yang di luar dugaan. Karena itu membahayakan Queen sendiri apalagi Dinda tahu sang putri belum sepenuhnya mengingat semuanya.
"Tante! "
Dinda terkesiap ketika Queen angkat bicara membuat Dinda benar-benar takut.
"Sayang, jangan membuat kamu dalam bahaya mamah tak mengizinkannya! "
Potong Dinda ketika Murni akan angkat bicara. Queen tahu apa yang sedang di kewatirkan sang mamah dan tentu Queen tidak akan membuat sang mamah kewatir.
"Mamah percayakan sama Queen? "
"Sayang...,"
Lilir Dinda menatap sang putri penuh permohonan. Tak bisakah mereka hidup tenang kenapa sekarang harus Queen yang dalam bahaya.
Queen menghela nafas berat, Queen yakin kejadian sang ayah, Jek dan Farhan pasti ada sangkut pautnya. Karena orang yang bernama Samuel menginginkan Liontin di tangan Queen berarti Samuel adalah...
Queen membulatkan kedua matanya ketika baru menyadari akan sesuatu, jika itu benar berarti Farhan dalam bahaya saat ini.
"Tante, apa Samuel adalah paman tiri Biru emm .., maksud saya Farhan? "
Deg...
Queen terhenyak ketika Murni mengangguk berarti dugaan Queen benar. Queen terdiam dengan pikirannya entah kemana.
Jadi dalang semuanya adalah Samuel paman tiri Farhan. Bagaimana mungkin di dunia ini ada orang sekejam itu bahkan demi harta, tahta dan wanita bajingan itu menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya.
Sungguh manusia keji!
Sekarang Queen faham akan semuanya yang terjadi. Semuanya menderita karena keserakahan satu orang.
Sang mamah jadi korban karena berniat menghancurkan rumah tangga sang ayah dan Murni berharap Murni meninggalkan Angga dan berlari kepelukannya. Dan, kecelakaan Queen hingga hilang ingatan karena ingin menghancurkan hidup Farhan hingga semua harta peninggalan keluarga Al-biru jatuh ketangannya. Tapi, sayang sekali karena semuanya tidak semulus yang di rencanakan. Karena sekarang kuncinya ada di Queen sendiri yaitu sebuah Liontin yang pernah Farhan berikan padanya supaya Queen menjaga liontin itu.
Queen terdiam mengingat dimana Queen menyimpan liontin itu. Seingat Queen Queen tak pernah sekalipun melepaskan Liontin itu.
Apa liontinnya menghilang ketika kecelakaan itu, jika iya pasti sang mamah atau om Fandi yang tahu tentang liontin itu.
__ADS_1
"Awwss.., "
"Sayang.., "
"Nak.., "
Ucap Dinda dan Murni berbarengan panik melihat Queen kesakitan memegang kepalanya.
"Sayang, mamah mohon jangan di paksa.., "
Lilir Dinda memeluk tubuh lemah sang putri lalu Dinda mendudukannya di ranjang.
"Mah.., "
"Iya nak, apa kamu butuh sesuatu? "
Cemas Dinda melihat wajah kesakitan sang putri begitupun Murni merasa bersalah karena lagi-lagi harus membuat ibu dan anak kesakitan karena dirinya.
"Bi.. biru.., "
"Kamu ingin menelepon Biru? "
Dinda langsung menelepon Farhan ketika Queen mengangguk. Namun sayang, nomornya tidak aktif dan itu membuat Queen semakin kesakitan. Entah apa yang Queen pikirkan, saat ini Queen hanya mengkewatirkan keadaan Farhan. Apalagi Farhan malam sempat bilang kalau dirinya akan ke kantor merebut apa yang sudah menjadi miliknya.
"Bi.. biru.., "
"Dek, coba telepon Fandi siapa tahu dia tahu dimana Farhan! "
Entah kenapa Dinda bisa melupakan itu, Dinda langsung menelepon Fandi dan langsung tersambung.
"Fan apa kamu tahu dimana Biru? "
...----...
Fandi yang sedang meeting ponselnya berdering, Fandi langsung meminta izin ketika melihat siapa yang menelepon.
"Fan apa kamu tahu dimana Biru? "
Fandi menyerngit bingung ketika mendengar suara Dinda yang begitu panik.
"Ada apa, kenapa kamu sepanik itu? "
"Queen terus menanyakan Biru, dia kesakitan dari tadi terus memanggil Biru! "
Bagaimana ini, aku tidak mungkin memberitahu Dinda kalau Biru sedang menjalankan misi, monolog Fandi dalam hati.
"Fan.. Fandi apa kamu masih di situ! "
__ADS_1
"Oh.. i.. iya, "
"Gimana, tahu tidak Biru dimana? "
"Sedang meeting, bilang saja pada Queen kalau Biru mungkin satu jam lagi selesai dan akan menelepon balik! "
...----...
"Sedang meeting, bilang saja pada Queen kalau Biru mungkin satu jam lagi selesai dan akan menelepon balik! "
Dinda terdiam mendengar apa yang Fandi ucapkan, Dinda tahu pasti ada sesuatu yang terjadi.
"Baiklah kalau begitu, "
Tut...
Dinda langsung mematikan teleponnya lalu menatap sang putri teduh.
"Sayang katanya Biru sedang meeting, mungkin satu jam pagi dia selesai dan akan menelepon balik, "
"Benar mah, "
"Hm, sekarang kamu istirahat ya. Jangan banyak pikiran.., "
Queen hanya mengangguk saja dan merasa lega karena Farhan ada di tempat aman.
Dinda berjalan kearah jendela ketika mendapati pesan masuk dari Fandi.
Samuel benar-benar, kau sudah menghancurkan semuanya. Tak akan ku biarkan kau menyakiti putriku.
Batin Dinda mengepalkan kedua tangannya sambil melihat beberapa penjaga di mana menjaga rumahnya.
"Dek, apa yang aka.., "
"Suttt..,"
Murni terdiam akan isyarat Dinda, Dinda mendekati sang putri yang sudah terlelap sesudah meminum obat penenang tadi.
"Maafkan mamah nak, mamah tak akan membiarkan kamu tersakiti"
Gumam Dinda langsung menyuntikan obat bius dengan dosis tinggi dan tentu saja membuat Murni bingung apa yang terjadi.
Tak lama dua orang berpakain serba hitam masuk mengangkat tubuh Queen.
Bersambung....
Jangan lupa Like dan Vote ya...
__ADS_1