
Hari yang di nantikanpun tiba, dimana hari Queen dan Melati melepas masa mahasiswa nya.
Hari bahagia yang dinanti-nanti oleh Farhan begitupun Queen. Rasanya menuju hari ini begitu lambah dan sangat mengesalkan. Pasalnya Queen dan Farhan harus menunggu di mana bereka akan bersatu dalam ikatan suci janji pernikahan.
Ya, memang benar. Satu minggu sesudah acara wisuda akan berlangsungnya acara pernikahan Queen yang di adakan di sebuah hotel salah satu milik Angga.
Hari dimana kebahagiaan menghiasi wajah Queen di atas podium dimana Queen menjadi mahasiswa dengan nilai tertinggi dan ada Melati juga di atas sana. Mereka berdua menjadi mahasiswa ber-Predikat cumlaude.
Dalam segi akadami dan semuanya, gadis dingin dan gadis cupu menjadi mahasiswa terbaik dengan nilai akademi yang sama. Walau berbeda tipis dalam hal kesopanan.
Dinda dan Fandi begitu bangga melihat sang putri di atas sanah. Dinda tak menyangka kalau putrinya begitu cerdas. Begitupun Murni dan Angga bergitu bangga melihat putri dan menantunya ternyata lulus dengan nilai yang paling linggi. Walau selisih nilai Queen dan Melati beda tipis. Sama-sama di angka yang sama, belakang koma sama, ujungnya yang berurutan. Dan, dalam nilai akademi tetap Queen yang unggul. Bahkan Queen dan Melati mendapatkan beasiswa untuk melanjut S2 di luar negri.
Tapi, tidak dengan Jek yang diam dengan ekpresi entah. Jek merasa inceure, bahkan dia lulus juga udah Alhamdulillah walau nilai akademinya tidak buruk tetap pada nilai setandar.
Tetap saja, bagi Jek itu hal yang memalukan. Ternyata di sini Jek yang beruntung mendapatkan Melati bukan Melati yang bersyukur mendapatkan Jek.
Sesudah acara wisuda di dalam aula yang begitu luas. Kini mereka ke bagian sesi photo, mengabadikan semuanya.
Sudah benar-benar selesai Murni, Angga, Jek dan Melati pulang dengan jalur yang berbeda. Begitupun ibu dan adik Melati sudah pulang duluan.
Di sepanjang jalan Jek hanya diam dengan pikiran yang entah kemana. Bahkan ketika sampai rumahpun Jek masih saja diam dan itu membuat Melati sangat heran dengan tingkah suaminya.
"Bang..., apa abang pusing dan merasa mual?"
Tanya Melati sambil mengelus tangan sang suami.
"Disana abang memang pusing dan merasa mual. Tapi, di dekat kamu pusing itu menghilang!"
Bohong Jek karena tak mau membuat sang istri salah faham.
Melati merangkak naik keatas pangkuan sang suami. Dengan senang hati Jek menyambutnya.
"Maafkan adek ya, harusnya adek yang ngalamin itu bukan abang!"
"Hey.. hey... jangan sedih, abang menikmatinya ko. Itu tandanya abang memang benar-benar sayang dan cinta sama kamu. Sampai ngidam pun abang yang merasakannya!"
__ADS_1
Melati mengelus perutnya, memang benar. Melati saat ini sedang hamil. Usia kandungannya baru berusia empat minggu dan waktu kemaren lusa Jek muntah-muntah karena ternyata dia mengalami ngidam simpatik.
Bahkan hadirnya cabang baby di perut Melati yang membuat Jek dan Melati tak jadi berantem. Apalagi sikap Melati yang begitu dewasa selalu menyikapi masalah dengan tenang.
"Katakan apapun yang mengganggu pikiran abang. Adek tak mau ya, karena kesalah fahaman membuat hubungan kita menjauh kaya kemaren. Kita suami istri, dan abang berhak apapun atas adek bahkan melarang adek mengambil beasiswa S2 sekalipun!"
Jek tertegun mendengarnya, kenapa Melati bisa tahu apa yang menjadi kegundahan hati Jek. Entah ini kebetulan atau ikatan batin antara dirinya dan Melati yang saling terhubung.
Bagi Melati keterbukaan adalah kunci keharmonisan sebuah keluarga.
"Masalah itu abang..."
Jek menghentikan ucapannya ketika Melati menaruh telunjuknya di bibir Jek. Mengisyaratkan untuk diam.
Cup...
Melati memberi kecupan di kening Jek dengan sangat lembut dan itu membuat hati Jek menghangat.
"Ada buah cinta kita di sini. Adek tak akan kemana-mana kecuali kemanapun abang pergi maka adek akan ikut. Dulu, pendidikan bagi adek nomor satu dan ingin sukses di atas kaki adek sendiri demi membahagiakan ibu dan Rizal. Tapi, kini situasinya berbeda dimana adek bukan anak lajang lagi. Adek sudah menikah dan bagi adek, kesuksesan adek bukan pada bisnis lagi melainkan pada rumah tangga adek sendiri. Sudah sampaikah adek menjadi istri yang baik, penurut dan patuh. Sudah sampaikah adek menjadi ibu yang wonder woman atau belum."
Melati menjeda ucapannya sambil mengelus dada sang suami.
"Apa adek seorang bidadari yang di kirim tuhan, kenapa kamu begitu membuat abang selalu jatuh cinta di setiap detiknya!"
"Karena adek sudah di ciptakan untuk abang!"
Cup...
Jek mengecup bibir sang istri dengan lembut sangat lembut hingga Melati terbuai.
Semenjak hamil hormon kebutuhan biologis Melati memang selalu meningkat. Apalagi jika melihat Jek selesai mandi. Melati sangat suka sekali memeluk sang suami dan menghirup dalam-dalam aroma sabun yang menempel di tubuh Jek. Sangat menenangkan dan menyegarkan, bahkan kerap kali Melati mengendus-endusnya hingga sampai setengah jam dan Jek harus sabar untuk hal itu bahkan terkadang tingkah Melati seperti itu membuat Jek harus telat bekerja.
Untung kerja dengan sahabat sendiri jadi Bagas memaklumi Jek.
"Abang..."
__ADS_1
"Dek.. "
Tak ada rasa lelah untuk mereka berdua mengarungi samudra cinta yang menggebu. Bak angin yang selalu membelai dedaunan dan hujan yang menyapa bumi.
Dunia ini seakan milik mereka berdua tak peduli di mana mereka melakukannya yang terpenting tak ada yang melihat mereka.
Bahkan shopa sekarang yang sebentar lagi akan menjadi saksi bisu alunan melodi yang keluar dari bibir Melati membuat Jek semakin hanyut di dalamnya.
"B.. bang, jangan di sini!"
"Tak ada yang melihat dek,"
"Bukan karena itu, tempatnya sempit adek takut terjadi sesuatu pada baby?"
Jek tersentak kaget langsung bangun, kenapa Jek melupakan kalau ada cabang anaknya di perut sang istri.
"Maafkan abang dek, abang terlalu bersemangat,"
Melati tersenyum sambil membelai pipi sang suami. Lalu Melati mengalungkan tangannya di leher kokoh Jek.
Tak lama, tubuh Melati melayang bukan terbang tapi terbang dalam gendongan Jek. Dengan lembut dan hati-hati Jek memangku sang istri seperti koala.
Mereka tak kenal waktu, entah berapa lama mereka mengarungi indahnya samudra cinta mereka. Memberikan keindahan satu sama lain dengan sahduan melodi saling bersahutan.
Rumah tangga bukan tentang kepuasan batin atau dzohir. Tapi, tentang bagaimana kita menerima satu sama lain pasangan kita masing-masing. Saling jujur dan saling percaya. Jangan ada kata kebohongan walau sekecil apapun. Pahit manis katakan, dan selesaikan dengan kepala dingin. Jangan sampai menimbulkan percikan api kesalah fahaman yang berujung pertengkaran.
Itulah yang sedang Melati dan Jek lakukan. Saling terbuka satu sama lain supaya nerasa nyaman. Karena memendam juga tidak baik untuk sebuah hubungan rumah tangga.
Dua orang yang berbeda pikiran dan pendapat bisa bersatu kalau kita saling terbuka dan menghargai satu sama lain.
Begitulah yang coba Melati lakukan. Memahami sipat kekanakan sang suami yang masih labil dalam bertindak. Mengajarkan Jek apa arti sebuah keterbukaan.
"Terimakasih sayang, abang mencintai adek dan baby!"
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa Like, hadiah, komen dan vote..
Terimakasih....