
Queen yang mendapat kabar bahwa Melati melahirkan merengek minta pulang.
Tapi Farhan tidak mengizinkan hari ini langsung. Dan, itu membuat Queen kesal langsung meninggalkan Farhan sendiri. Apalagi tadi Farhan berkata sangat tinggi pada nya.
Farhan hanya bisa menghela nafas saja. Farhan hanya tidak mau sang istri kecapean. Harus di periksa dulu boleh atau tidak melakukan perjalanan jauh lagi. Karena baru tiga hari Queen naik pesawat. Farhan hanya tidak mau terjadi apa-apa.
Uncle Smith dan sang istri diam saja tak mau ikut campur. Karena mereka baru tahu sikap Queen yang merajuk. Biasanya Queen bersikap dingin akan menjadi hangat jika di ajak ngobrol.
Daniel dan Alexa, mereka berdua sudah berangkat untuk bulan madu lagi ke tempat yang sudah di sediakan uncle Smith, sebagai hadiah pernikahan putri pertamanya.
Sedang Aielin diam saja, tapi pikirannya jauh melayang memikirkan sesuatu. Entah apa yang Aielin pikirkan membuat Aielin senyum-senyum sendiri.
"Biru susul istri kamu, ajak dia bicara pelan-pelan jangan sampai menyinggungnya. Kamu harus ngerti, emosi ibu hamil selalu tidak stabil."
"Biru hanya takut terjadi sesuatu saja mah!"
"Mama tahu, coba kamu ajak cek dulu siapa tahu dokter mengizinkan kalian berpergian lagi."
"Baiklah,"
Pasrah Farhan langsung menyusul sang istri ke kamar mereka.
Queen memalingkan wajahnya ketika tahu suaminya yang masuk. Melihat istrinya benar-benar merajuk membuat Farhan sepertinya harus ekstra memberi pengertian.
"Sayang .."
Farhan memeluk sang istri dari samping, Queen hanya diam saja tak mau menyahut atau membalas pelukan sang suami. Queen terlanjur kesal saja. Queen benar-benar ingin pulang, ingin melihat keponakannya.
"Maafkan bee ya!"
"Bee tidak maksud melarang, bee hanya takut terjadi apa-apa pada kandungan sayang. Apalagi baru tiga hari lalu sayang melakukan perjalanan."
Tak ada respon sama sekali, Queen terus saja diam.
Kesalahpahaman dalam rumah tangga memang sudah bisa ada di setiap rumah tangga siapapun. Itu bagai bumbu rumah tangga. Bukankah masakan juga tidak akan enak jika tak ada bumbu.
Karena menginginkan hasil sempurna pasti butuh bumbu dan perjuangan.
"Lepas, Rora mau tidur!"
Jika sudah begini berarti mood istrinya benar-benar mendung. Entah akan ada Guntur sama petir atau tidak dalam mendung nya.
Queen berusaha tidur menyamping membelakangi sang suami.
Farhan tidak kehabisan akal, dia juga ikut berbaring dan memeluk sang istri dari belakang. Bukankah sebuah pelukan akan merendam sebuah amarah.
"Baiklah, kita pulang. Ta ..."
"Beneran bee!"
Farhan di buat terkejut dengan reaksi sang istri yang langsung bangun. Farhan hanya tidak mau terjadi sesuatu pada calon anaknya. Apa yang Queen lakukan bisa membahayakan dirinya sendiri dan juga anaknya.
__ADS_1
Farhan ingin marah tapi ter urung melihat sang istri tersenyum kembali.
"Boleh, tapi ada syaratnya!"
Ucap Farhan cepat jangan sampai sang istri kembali memotong ucapannya.
Senyuman yang terukir di bibir Queen padam kembali ketika Farhan menyebutkan syarat.
"Kita periksa dulu kandungan sayang ya, bee tidak mau ambil resiko. Keselamatan kalian yang paling utama. Sayang mau kan?"
"Ya sudah!"
Farhan tersenyum setidaknya sang istri mau periksa dulu. Walau sang istri masih cemberut, Farhan tak masalah yang penting Queen mau periksa.
Entah kenapa Queen juga kesal pada dirinya sendiri karena tak bisa mengkontrol emosinya. Queen tahu, suaminya hanya ingin yang terbaik untuk dirinya. Tapi rasanya Queen masih saja kesal akan penolakan pertama sang suami. Apalagi tadi Farhan bernada tinggi bicara padanya.
"Mah, uncle, aunty. Kami pergi dulu ya!"
Pamit Farhan sambil menggandeng tangan sang istri.
Bibir Queen kini tersenyum kembali, tak sabar menunggu di periksa dokter. Sampai kini giliran Queen yang masuk. Queen menjelaskan semuanya pada dokter. Apa dia boleh berpergian jauh atau tidak apalagi naik pesawat.
"Kandungan nyonya baik, dan bisa berpergian jauh."
"Beneran dok, istri saya gak apa naik pesawat?"
Tanya Farhan masih saja sangat takut terjadi sesuatu.
"Terimakasih banyak dok, intinya saya bisa pulang ke Indonesia!"
Sanggah Queen cepat ketika sang suami akan bicara. Sang dokter hanya tersenyum saja melihat interaksi pasiennya yang menurut nya unik.
"Benar nyonya, sepertinya nyonya tidak sabar ya ingin pulang ke Indonesia?"
"Iya dok, kalau begitu terimakasih banyak,"
"Sama-sama, jangan lupa ini resepnya!"
Di sepanjang jalan Queen terus saja tersenyum. Sedangkan Farhan hanya diam saja. Farhan sangat kesal karena sang istri tak mendengar perkataannya. Di tambah penjelasan dokter tadi membuat Farhan Akhirnya tak bisa melarang lagi.
Apa salahnya Farhan mengkhawatirkan sang istri dan calon baby nya. Tapi sang istri seolah tak menerima perhatiannya.
Queen melirik sang suami yang dari tadi nampak cemberut. Queen tahu sang suami sangat mengkewatirkan dirinya. Tapi, Queen ingin segera pulang tak sabar melihat keponakannya.
Queen berpikir, bagaimana mengembalikan mood sang suami. Seketika sebuah ide gila muncul di kepala Queen.
"Bee,"
"Hm,"
"Di depan ada hotel, boleh mampir!"
__ADS_1
"Kenapa, katanya mau langsung pulang!"
Ketus Farhan membuat Queen bukannya marah tapi tersenyum geli.
"Mau pipis, masa Rora harus pipis di sini!"
Farhan menghela nafas kasar, dengan terpaksa Farhan berhenti di loby hotel. Hari ini Farhan benar-benar harus sabar menghadapi tingkah istrinya. Ada-ada saja mau pipis, sampai harus menyewa satu kamar. Malu hanya untuk numpang pipis saja.
Tapi, Farhan tetap menuruti keinginan sang istri atau memang keinginan baby-nya.
Bruk ...
Farhan terkejut dengan apa yang sang istri lakukan. Bahkan Farhan sampai membelalakkan kedua matanya.
Bukannya langsung masuk kamar mandi tapi Queen malah mendorong sang suami keatas ranjang.
"Sa..sayang apa yang kamu lakukan, ka..katanya mau pipis!"
Gagap Farhan sambil menelan ludahnya kasar melihat pemandangan indah di depan matanya.
Queen tak menghiraukan ucapan sang suami. Queen malah semakin mendekat sambil menanggalkan kain yang melekat di tubuhnya hingga menyisakan kaca mata dan segi tiga Bermuda.
"Pipisnya gak mau, tapi dia mau bee yang membuatnya pipis!"
Goda Queen merangkak naik. Bukankah setiap suami akan luluh jika di suguhkan sebuah kenikmatan. Itulah yang Queen coba lakukan, supaya mood sang suami kembali ceria.
"Sayang .."
"katanya Cabay pengen di jenguk papa!"
"Cabay!"
"Cabang baby!"
Jika begini terus Farhan mana tahan, apalagi sang istri menjuluki calon anaknya dengan sebutan 'Cabay'.
Siapapun tak akan bisa nolak jika kenikmatan sudah di suguhkan. Bahkan rasa kesal dan marah perlahan runtuh ketika Queen sudah melahap bibirnya.
Siapa yang akan nolak, setiap suami pasti tak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan mas ini.
"Jangan salahkan bee jika membuat sayang berkali-kali pipis"
Bisik Farhan sudah tak tahan jika harus menunggu lagi apalagi pusakanya sudah bembengkak ruah mencari sarangnya.
Luluh juga kan!
Batin Queen dalam hati, tersenyum puas karena bisa mengembalikan mood sang suami lagi.
Bersambung
Jangan lupa Like, Hadiah, Komen dan Vote Terimakasih ....
__ADS_1