
" Emmz..,"
Gumaman kecil terdengar dari bibir seksi Queen. Entah berapa jam Queen pingsan akibat rasa sakit di kepalanya.
Queen perlahan membuka kedua matanya, berat itulah yang Queen rasakan. Queen ingin menggerakan tangannya tapi terasa susah. Queen mengingat-ngingat apa yang terjadi dengannya. Seketika Queen ingat kalau dirinya pingsan karena terlalu memaksa mengingat siapa Aielin.
Queen melihat tangannya yang terasa berat, ternyata Farhan memegang lengannya. Queen berusaha bangun menggunakan tangan kirinya. Queen tidak menyangka Farhan akan menunggunya.
Apa kabar semua orang dan acara ulang tahun Queen. Apa mereka masih di bawah atau sudah pada pulang. Queen dengan pelan melepas genggaman tangan Farhan fi lengannya.
Farhan tak terusik sama sekali, sepertinya Farhan kelelahan. Entah apa yang membuat Farhan lelah. Apa Farhan yang membawa Queen ke kamarnya, jika iya! ah.. sungguh malu.
Perlahan Queen melihat jam di ponselnya, menunjukan jam tujuh malam. Berarti Queen pingsan selama dua jam.
Queen memerhatikan wajah Farhan, sangat tampan itulah yang bisa Queen jabarkan. Baru kali ini Queen memerhatikan dengan intens wajah calon suaminya.
Queen baru sadar kalau wajah Farhan memang terlihat tidak seperti wajah asia, kenapa Queen baru menyadarinya. Perlahan tangan Queen terulur membelai rambut hitam Farhan.
Deg...
Queen terkejut ketika Farhan memegang tangannya. Perlahan Farhan membuka kelopak matanya. Mata mereka bersitatap saling menginci satu sama lain.
"Kamu sudah bangun?"
"Ah.. iya!"
"Apa kepala kamu masih sakit?"
Queen menggeleng membuat Farhan bernafas lega.
"Jangan ulangi lagi, aku tak mau kamu kenapa-napa!"
"Maaf,"
Cicit Queen, entah kenapa Queen menjadi kikuk sendiri di tatap seperti itu.
Farhan perlahan bangkit dan duduk di hadapan Queen yang menyandarkan punggungnya di sandaran ranjang.
"Kita ke rumah sakit!"
"Gak usah Biru, aku tidak apa-apa. Pusingnya mulai membaik ko,"
"Jangan membantah, nurut saja."
"Beneran aku sudah baik-baik saja!"
"Rora!!!"
Huh...
Queen mengangguk pasrah karena tak mau berdebat dengan calon suaminya. Farhan membantu Queen turun.
Farhan sudah seperti suami saja, bagaimana tidak seperti itu. Farhan memegang pinggang Queen dengan satu tangan memegang lengan Queen. Farhan seperti takut Queen jatuh saat menuruni anak tangga.
Dahi Queen menyerngit melihat tak ada satu orangpun di rumah ini. Kemana mereka, kenapa semuanya pada gak ada.
"Biru, kemana semua orang?"
"Aku tak tahu, tadi kan aku ketiduran menjaga kamu!"
"Iya ya, kemana semua orang!"
__ADS_1
Bingung Queen karena tak ada satupun orang di rumah ini. Hingga Queen tak sadar kalau dirinya sudah masuk kedalam mobil.
"Biru coba kamu telepon mama, mereka di mana?"
"Ponsel aku ketinggalan kayanya di kamar kamu!"
"Aku takut nanti mama cariin aku!"
"Gak bakalan, justru kalau Rora ngasih tahu kita kerumah sakit yang ada mama nambah kewatir!"
Queen terdiam membenarkan ucapan calon suaminya. Farhan tersenyum karena Queen menurut.
Farhan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang karena tak mau membuat Queen dalam bahaya. Farhan memegang tangan Queen dan sontak membuat Queen terkejut dan menatap Farhan.
"Jangan banyak pikiran nanti kepalanya sakit lagi,"
"Tidak! aku hanya ingat mama, kemana mama dan daddy!"
"Mungkin para orang tua sedang mengadakan acaranya sendiri. Apalagi om Angga kan sudah baikan sama mama Dinda, tak ada perselisihan lagi,"
"Iya juga!"
"Sudah sampai!"
Queen melihat ke depan ternyata iya, dirinya sudah sampai tepat di sebuah rumah sakit tempat Queen chekup.
"Ayo turun,"
Queen turun di bantu Farhan, seperti biasa Farhan menggenggam tangan Queen masuk ke dalam rumah sakit.
Queen menghentikan langkahnya ketika merasa jalan yang Queen lewati salah. Bukan jalan menuju dokter spesialis saraf.
"Biru, kayanya kita salah jalan deh. Harusnya kita belok ke kanan?"
"Jalan sini juga bisa, kan ada jalan pintas yang lebih dekat. Ayo jalan,"
Queen hanya menurut saja menggunakan jalan yang menurut Farhan lebih dekat. Sekali lagi Farhan hanya tersenyum ketika Queen menurut dan tak menolak sama sekali. Queen sudah seperti seorang istri yang selalu menurut. Bahkan Queen tak mempersalahkannya. Mungkin karena Queen sedang lemas dan tak mau adu mulut dengan Farhan. Yang ada malah berkepanjangan.
Alis Queen saling bertautan dengan mata memicing seperti mengenal orang-orang yang ada di ujung sana. Semakin dekat Queen berjalan semakin jelas pula penglihatan Queen.
"Kenapa mereka ada di sini, siapa yang sakit Biru?"
Queen menatap Farhan mencari jawaban kebingungan dirinya. Pasalnya semua orang kenapa ada di rumah sakit.
"Kita samperin dulu mereka, nanti juga kamu tahu!"
Queen ingin protes tapi Farhan malah menarik pinggangnya lebih dekat lagi dan berjalan mendekat ke arah keluarganya.
"Selamat sayang kamu sudah menjadi kakak!"
Deg...
Tubuh Queen menegang mendengar ucapan mama Adelia yang langsung memeluknya. Queen hanya bisa diam dengan linglung, bahkan mata Queen beberapa kali mengerjap lucu. Queen melirik Farhan seolah meminta jawaban tapi Farhan malah tersenyum.
"Hey sayang kenapa bengong!"
"Ta.. tadi ma.. mama bilang ap.. apa!"
"Kamu sudah menjadi seorang kakak. Mama Dinda sudah melahirkan!"
Dug..
__ADS_1
Jantung Queen seakan mau copot dengan mata mulai melotot. Queen seakan tak percaya dengan apa yang dia dengar. Mama Dinda sudah melahirkan itu artinya Queen sudah menjadi seorang kakak. Tapi, kenapa tak ada yang memberi tahu dirinya sejak awal. Ah, Queen bodoh, bukannya Queen pingsan jadi Queen tak tahu apapun.
"I.. Ini bukan mimpi!"
"Tidak sayang, "
Kini Farhan menarik Queen dalam pelukannya, hingga Queen langsung menatap Farhan dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu jahat!"
"Kejutan sayang,"
Cklek...
Queen menahan protesnya ketika pintu di buka. Nampaah dokter yang keluar.
"Kalian boleh masuk kedalam tapi tolong yang terlalu ribut ya, ibu si baby harus tenang dan banyak istirahat dulu!"
"Siap dok, "
Sang dokter hanya tersenyum lalu pamit undur karena sudah selesai membantu perpindahan tadi.
Semua keluarga masuk dan mereka membiarkan Queen masuk duluan.
Dinda tersenyum lemah melihat putrinya sudah ada. Queen mendekat dengan mata berkaca-kaca.
"M-Mah,"
"Sini sayang,"
Queen mendekat menghambur memeluk sang mama dengan air mata yang keluar.
"Maaf, Queen tak tahu mama melahirkan!"
"Tidak apa sayang, kan tadi Queen juga pingsan."
Queen tersenyum lalu melihat sang daddy yang sedang menggendong baby mungil yang nampak merah.
"Daddy menangis?"
"Daddy bahagia sayang, lihatlah adik kamu begitu tampan,"
Queen langsung melihat adiknya yang berada dalam gendongan sang daddy. Matanya terpejam, dengan bibir yang terus gerak-gerak seakan mencari sesuatu.
"D-Dad, bo.. boleh Queen menggendongnya!"
Queen menitikan air mata ketika adiknya sudah ada dalam gendongannya. Queen sungguh merasa bahagia akan ini semua. Inilah kado terindah yang Queen dapatkan, seorang adik dan lamaran dari Farhan. Sungguh, Queen tak menyangka akan mendapat kado seistimewah ini.
Dinda tersenyum haru melihat putrinya sebegitu bahagia menggendong adik tampannya. Fandi memeluk erat sang istri yang menyandarkan tubuhnya di dada bidang Fandi.
Begitupun semua orang yang ada di sana, tersenyum bahagia melihat kehadiran keluarga baru mereka.
"Siapa namanya Ma, Dad?"
Dinda dan Fandi hanya tersenyum saling pandang mendengar pertanyaan Queen Yang duduk atas kursi menghadap kedua orang tuanya.
Bersambung...
Jangan lupa Like, Hadiah, Komen, Dan Vote...
Terimakasih..
__ADS_1