
Esok hari, Queen benar-benar tak semangat pergi ke kampus. Tapi, Queen memaksakan diri, karena harus memberikan hasil skripsinya.
Semalaman Queen menunggu Farhan datang untuk sekedar menjelaskan tapi nampaknya gak ada tanda-tanda Farhan datang. Dan, itu membuat Queen sakit. Kenapa Queen tak di kasih tahu akan kepulangannya. Dan, mama Adelia juga.
Ah.. Queen bertanya-tanya siapa wanita itu, terlihat dari wajahnya saja dia seperti asli Jerman tapi dalam segi bahasa wanita itu faseh berbahasa indonesia.
Karena tak mau berlarut dalam pikiran abu-abu, Queen memutuskan pergi ke taman. Masih ada waktu untuk menyerahkan skripsi pada pembingbing akademi.
Seperti biasa Queen menikmati suasana damai di sana.
Queen menghembuskan nafas ketika lupa membawa buku dearynya. Queen membuka tasnya, lalu mengambil sepidol. Jika Queen lupa membawa buku dearynya maka Queen akan menulis sesuatu di belakang kursi yang Queen duduki.
Kening Queen menyerngit, melihat sebuah tulisan di bawah kata-kata yang sempat Queen tulis satu bulan yang lalu.
Angka 8 apa kamu masih ingat!!! jika iya kamu pasti mengerti!
Queen sampai menautkan kedua alisnya dengan mata memicing. Mencari tahu apa arti kata itu. Tapi, Queen tak ingat sama sekali.
"Angka 8, apa maksudnya! "
Monolog Queen bingung, apa dari kata itu. Siapa orang yang berani menitipkan kata-kata di kursi ini. Seingat Queen, tak ada orang lain yang tahu tentang kursi ini kecuali Farhan dan
"Aku sempat satu kali mengajak Melati kesini, ketika dia menangis karena di buly. Apa iya ini tulisan Melati! delapan! apa maksudnya?"
Queen terus saja berputar dengan pikirannya sendiri. Tidak mungkinkan itu tulisan Farhan, bukankah Farhan ada di Jerman. Jika memang ini tulisan Farhan berarti selama ini Farhan sudah pulang. Tapu, Queen menepis pikiran itu, tidak mungkin Farhan pulang sudah lama bahkan tak memberi tahukan dirinya.
Tapi, apakah Queen tak berpikir, bisa jadi itu Farhan. Apalagi sekarang sudah pulang, tapi Farhan tak memberi tahu Queen sama sekali.
"Kenapa??? "
Hanya itu yang Queen tulis di bawah kata-kata tadi. Jika memang itu Farhan yang menulisnya maka Farhan tahu satu kata yang Queen pertanyakan.
Karena sudah waktunya Queen menghadap pembingbing akademi. Queen beranjak dari sana dengan pikiran berkecamuk.
Brukk...
"Awsss..,"
Queen bertabrakan dengan seseorang hingga tubuhnya terjatuh. Tapi, bukan tubuh Queen yang terjatuh melaikan gadis berambut pirang.
"Sorry!"
Queen diam mematung dengan pikiran melayang entah kemana. Orang yang Queen tabrak malah tersenyum sambil memeluknya kegirangan. Queen yang tidak biasa di peluk orang lain merasa risih. Apalagi bule satu ini sangat heboh sekali, seakan Queen adalah aktor yang terkenal.
"Maaf, boleh lepaskan pelukan anda!"
"Queen Aurora Prayoga, kamu Queen kan?"
Queen sungguh kebingungan, siapa gadis bule ini kenapa menyebut nama lengkapnya dengan lantang hingga Queen desak desuk mahasiswa membicarakannya. Karena ada nama Prayoga di belakang Queen.
__ADS_1
Nama yang Queen selalu sembunyikan kini orang lain tahu dan itu Gara-gara gadis bule ini.
Mata Queen memicing menatap gadis di depannya yang sok akrab. Queen merasa pernah melihat gadis ini tapi dimana.
"Anda siapa, kenapa bisa tahu nama saya?"
"Oh my good, ternyata kamu memang gadis kaku dan dingin,"
Sungguh, Queen benar-benar di buat bingung, kesal dan marah akan tingkah gadis ini. Siapa dia, Queen tak mengenalnya. Tapi, anehnya gadis bule ini seakan mengenal Queen lama.
"Maaf saya harus segera pergi!"
"Pantas saja Farhan mencintainya, dia gadis unik!"
Deg...
Queen menghentikan langkahnya ketika menyadari sesuatu. Bukankah gadis tadi adalah gadis sama yang ada di rumah Biru. Kenapa ada di sini!
Jantung Queen kembali bergemuruh, dengan ragu Queen berbalik. Tapi, gadis bule itu sudah tak ada.
"Menghilang kemana dia!"
Monolog Queen mencari gadis tadi tapi sudah tak ada. Hanya ada mahadiswa yang menatapnya.
"Queen, kamu di panggil ke ruang pembingbing."
Sebelum masuk Queen menghela nafas dulu mencoba tenang. Walau Queen gadis dingin tapi tetap saja Queen sesikit gugup jika berhadapan langsung dengan pembingbing akademinya.
Sesudah mengucapkan salam dan di perbolehkan masuk. Queen dengan ragu menyerahkan skripsinya pada pembingbing yang sedang membelakanginya seperti mencari sesuatu.
"Ini pak, laporan akhir saya,"
Ucap Queen sopan langsung menyimpan skripsinya di atas meja sang pembingbing.
Queen masih duduk santai walau rasa gugup masih ada. Entah apa yang doksen pembingbing itu lakukan.
Mencari sesuatu, entah apa yang dia cari di jajaran rak buku. Senyuman sang pembingbing terukir ketika menemukan sesuatu yang dia cari.
"Apa kamu yakin tidak ada kesalahan sedikitpun!"
"Hah!"
Queen terpekik melihat siapa yang menjadi dosen pembingbing akademinya. Bukankah dosen Firman yang jadi pembingbing Queen kenapa sekarang malah
"Tutup mulut kamu!"
Dengan repleks Queen menutup mulutnya yang menganga. Tak lama Queen memasang wajah datar bahkan aura dinginnya mulai keluar.
"Kamu memang hebat, tak ada kecacatan sedikitpun dalam laporan kamu. Sungguh siswa yang berprestasi,"
__ADS_1
Queen mendelik malas mendengar ucapan pembingbing. Queen tak suka pujian itu. Bahkan Queen terlihat acuh dan tak mau mendengarkan ucapan pembingbingnya. Queen seakan menulikan telinganya.
"Terimakasih pak atas sanjungan anda, mohon undur diri!"
"Rora!"
Queen menghentikan langkahnya ketika dosen pembingbing memanggilnya begitu lembut. Tangan Queen mengepal erat dengan mata terpejam ketika sebuah tangan melingkar indah di pinggangnya.
"Maaf, sayang!"
"Lepas!!!"
Ucap Queen sedikit meninggi melepaskan tangan Farhan kasar dari pinggangnya. Ya, dosen pembimbing akedemi Queen adalah Farhan Al-biru. Karena dosen Firman tak bisa hadir karena istrinya meninggal jadi Farhan yang menggantikannya.
"Maaf pak saya harus pergi, buka pintunya!"
"Aku hanya ingin memberi kamu kejutan, apa kamu gak merindukan aku?"
"Buka pintunya!"
Farhan menghela nafas melihat sikap Queen yang dingin. Kenapa jadi seperti ini sih, kesal Farhan dalam hati.
Farhan mendekat, entah sadar atau tidak Queen memberonta di dalam dekapan Farhan. Farhan terus memeluk Queen erat walau Queen terus memberonta ingin di lepaskan. Bahkan Queen memukul-mukul dada bidang Farhan.
"Aku sangat merindukan kamu, maaf jika kejutan aku menyakiti kamu!"
"Kenapa pulang gak bilang, apa karena wanita itu. Kamu mendua di sana, jadi kamu gak ngasih kabar apa-apa. Kamu jahat, aku benci kamu. Bahkan kamu pulang membawa gadis lain,"
Sudah ku duga!
Batin Farhan tahu Queen pasti akan semarah ini. Niatnya mau bikin kejutan tapi kenapa semuanya jadi gagal.
Andai saja Queen tak kerumah kemarin pasti kejutan ini akan membuatnya senang bukan menangis. Dan, Queen pasti salah faham akan kedekatan Farhan dan Aielin.
"Aku gak ngasih kabar karena ingin membuat kejutan pada kamu. Bukankah aku menepati janjiku. Apa kamu lupa sama angka 8 yang pernah aku bilang sebelum berangkat dulu!"
Queen terdiam tak memberontak lagi. Mendengar angka 8 membuat Queen menyerngit bingung pasalnya memang Queen benar-benar lupa.
"Angka 8 adalah angka bahwa aku berjanji akan pulang cepat setelah menyelesaikan studyku selama delapan bulan gak sampai satu tahun. Dan, di angka 8 adalah tepat menuju bulan kelahiran kamu. Hari ini, tepat hari kamu menyerahkan skripsi bertepatan dengan hari ulang tahun kamu!"
"Tapi, siapa gadis itu!"
"Huh!"
Bersambung....
Jangan lupa Like, Komen, hadiah dan Vote
Terimakasih....
__ADS_1